MARAKNYA KASUS MAHASISWA BUNUH DIRI, KEPALA SUBDIREKTORAT KONSELING: TIDAK SEMUANYA MERUPAKAN STRES AKADEMIK
Fotografer: Tajul Asrori
Beberapa bulan terakhir, banyak beredar kabar mengenai kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Menanggapi hal tersebut, Kavling10 berkesempatan mewawancarai Kepala Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual, dan Perundungan UB, Ulifa Rahma untuk memberikan beberapa pendapatnya.
UB dikenal sebagai kampus yang mahasiswanya sering melakukan bunuh diri karena stres akademik. Dari sudut pandang psikologi, bagaimana stres tersebut bisa terjadi? Apa saja faktor-faktornya?
Ketika menerima mahasiswa baru, UB menyadari bahwa input mahasiswa ke kampus ini merupakan mahasiswa yang sudah berisiko. Jadi, kita [UB] sudah melihat adanya risiko pada mahasiswa tersebut. Nah, risikonya seperti apa? Tentunya bervariasi. Ketika masuk, beberapa anak itu sudah ada yang berobat ke psikiater atau ke psikolog. Ada beberapa [mahasiswa] yang mendapatkan kasus-kasus seperti kekerasan, baik itu kekerasan seksual, bullying, atau masalah di dalam keluarga.
Memang ada dari kasus-kasus bunuh diri yang kita temui itu kelihatannya seperti masalah akademik. Tapi sebenarnya, itu merupakan bentuk akumulasi dari situasi-situasi yang terjadi sejak dia masa anak-anak hingga masa dewasa. Sebagaimana mahasiswa dari remaja ke dewasa, kan otomatis peran tanggung jawab mahasiswa sudah berubah ya. [Mereka harus] bersosialisasi dengan lingkungan yang baru, secara akademik juga harus belajar secara lebih mandiri, juga terkait dengan karir gitu. Dan memang dari hasil di layanan konseling kita [Layanan Konseling UB], hampir 80% kasus-kasus mahasiswa dengan program kesehatan mental itu berawal dari keluarga. Jadi ketika kita telusuri, penyebab utama dari kasus-kasus itu adalah kurang optimalnya strength atau resiliensi di dalam keluarga yang bersangkutan.
Sebenarnya kalau stres sendiri kan ada dua ya, yaitu Eustress dan Distress. Kalau Eustress itu kan adalah stres yang positif. Ketika seseorang mengalami sebuah kesulitan di dalam hidup atau merasa tidak nyaman, dia merasa lebih prepare [menghadapinya] dan tahu hal-hal apa yang harus dilakukan. Kalau orang yang distress itu kan akan melakukan coping yang negatif. Macam-macamnyabanyak. Bisa dengan minum obat alkohol, bisa set up, bisa suicide ataupun yang lain-lain gitu ya.
Jadi memang strategi [untuk mengatasi stres], ada dua, Eustress dan Distress. Dan memang biasanya terjadinya stres ini adalah munculnya gejala-gejala. Gejalanya seperti apa? Bisa gejala fisik, gejala kognitif, atau gejala afektif.
Contoh gejala fisik itu seperti psikosomatis yang tidur susah, mual, asam lambung, autoimun, ataupun yang lain-lain. Untuk gejala kognitif biasanya akan muncul pikiran-pikiran yang negatif baik pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Kalau secara afektif, emosinya jadi naik turun, kadang sedih, marah, kadang kalau sudah burn out, sudah saking capeknya, itu rasanya sudah seperti mati rasa atau seperti zombie. Nah, anak-anak dengan situasi seperti ini itu [biasanya] tidak meminta bantuan profesional.
Ketika meminta bantuan profesional, kita bisa bantu untuk memfasilitasi terkait dengan kebutuhannya. Nah, kadang ada beberapa kasus [stres] ini kan tidak terdeteksi [untuk] meminta bantuan profesional. Dan memang mungkin support system-nya itu tidak peka melihat situasi.
Tapi memang biasanya tidak terlihat. Ada anak-anak itu yang memang kelihatannya sangat berprestasi, ceria, tapi kok tiba-tibaada masalah seperti itu. Kok tiba-tiba misalkan melakukan suicide. Nah, itu makanya kepekaan lingkungan sekitar itu sangat penting. Kalau misalkan terlihat ada perubahan atau ada kata-kata yang disampaikan ada yang berbeda, itu harus segera ditolong.
Berarti secara umum, stres ini sebenarnya adalah sesuatu yang wajar bagi makhluk hidup tak terkecuali mahasiswa?
Setiap manusia pasti akan menghadapi kesulitan dan menghadapi tantangan. Misalkan saya tugasnya satu tapi dikasihnya dua, seperti itu. Kadang hal-hal tersebut kan berbenturan. Nah di sini cara kita merespon sangat menentukan, dan memang cara kita merespon itu kan dipengaruhi banyak faktor.
Bisa jadi [cara merespon itu dipengaruhi] faktor kepribadian. Misalnya kamu orangnya introvert. Kemudian cara kamu diasuh orang sekitarmu juga berpengaruh. Misalnya pola asuh keluargamu itu sangat otoriter, kan tidak mungkin kamu bakal banyak berbicara, justru harus ikut aja. Ada juga keluarga yang membiarkan sehingga dia juga bingung harus berperilaku seperti apa. Jadi ada namanya faktor pola asuh.
Lalu ada juga yang berkaitan dengan relasi masa kanak-kanak hingga dewasa itu seperti apa, seperti itu. Kamu pernah mengalami trauma enggak? Ada kekerasan enggak? Yang namanya kekerasan itu kan tidak harus itu soal bullying atau dipukul gitu. Kekerasan lain seperti verbal, psikis, atau yang lain-lain itu juga bagian dari faktor kesehatan juga.
Zaman sekarang, anak-anak gaya hidupnya juga tidak sehat. Seperti makan makanan yang tidak sehat, pola tidurnya juga tidak teratur, suka begadang, dan juga hal-hal lain yang sangat berpengaruh sekali.
Jadi memang ada faktor dari internal dan eksternal yang membentuk dirimu bereaksi atau merespon suatu masalah. Respon yang terjadi itu ya tergantung dari perpaduan antara faktor itu.
Standar keilmiahan tugas akhir tentulah menuntut pengerjaan yang mengeluarkan banyak pikiran dan tenaga. Namun justru karena alasan itu, stres akademik menjadi alasan kasus bunuh diri seringkali terjadi di kalangan mahasiswa. Menurut Ibu, bagaimana cara menanggulangi hal tersebut?
Sebenarnya bukan stres akademik. Itu mindset yang harus diubah. Kelihatannya sepertinya stres akademik, tapi realita sesungguhnya itu kompleks. Misalkan kasus bunuh diri yang kemarin itu kan sebenarnya juga bukan karena akademik. Dia berprestasi, bahkan sudah mau sempro. Nah, ini kan yang perlu digarisbawahi. Maksudnya, faktornya tidak hanya sekedar itu [akademik] saja. Kalau memandang dari sudut pandang psikologi, kita benar-benar harus menelusuri berbagai macam faktor. Kita tidak bisa mengatakan “Oh, kalau seperti itu pasti karena stres akademik”. Padahal belum tentu juga. Dan berdasarkan kasus-kasus yang sudah kita dalami, kasus suicide yang ada di UB itu memiliki banyak faktor yang berpengaruh. Cuman yang penting itu kepekaannya. Maksudnya gini, kepekaan itu bentuknya itu sistem. Mahasiswanya disiapkan untuk bisa survive, tapi di satu sisi, lingkungan, seperti fakultas dan dosen pembimbing akademik juga perlu untuk dipersiapkan.
Di UB sendiri ada namanya program prioritas faktor kesehatan mental. Tujuannya apa? Yang pertama menyiapkan dosen kita. Jadi dosen-dosen PA (Penasehat Akademik) itu bertugas untuk bisa melakukan bimbingan konseling kepada mahasiswanya. Kayak gitu. Jadi memang dosen PA itu wajib, [atau] harus bisa melakukan bimbingan dan konseling.
Ketika dosen PA melihat IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) anak didiknya menurun atau IPK-nya bagus tapi dia memiliki perubahan kondisi mental, maka diperlukan penanggulangan dengan segera. Bagaimana caranya? Kita sudah berikan screening. Nah, itu monitoring yang akan dilakukan oleh dosen PA. Nanti dosen PA melakukan monitoring, memberikan bimbingan konseling pada mahasiswa yang memiliki masalah.
Jika problem yang ditemukan ternyata bisa direferal, misal seperti problem terkait dengan keuangan, nantinya bisa diarahkan misalkan ke jurusan gitu ya, ke Wakil Dekan 3-nya. Kalau tidak bisa ke WD3 maka diajukan ke rektorat misalkan ke Wakil Rektor 3 di bagian mahasiswa. Jadi memang anaknya sendiri harus punya kemampuan resiliensi yang bagus, komitmennya juga bagus, tapi di satu sisi lingkungannya disiapkan. Jadi dosen PA diberikan pelatihan, kita [UB] kasih pelatihan, kita [UB] kasih pelatihan.
Nah, mahasiswa sebaya itu juga ditingkatkan kapasitasnya untuk memberikan Psychological First Aid (PFA). Selain itu, kami juga mengharuskan fakultas untuk membuat tim peer counselor di masing-masing lingkup mereka. Harapannya, program ini bisa optimal.
Apakah hal itu berarti setiap dosen PA sudah mendapat pengetahuan terkait program ini?
Iya, benar. Kalau misalkan memang yang menjadi kendala adalah kesulitan di dalam studi, kita itu punya tim tugas akhir. Nah, sebenarnya kalau teman-teman memiliki kesulitan, bisa sharing pada dosen-dosen. Kalau misalnya takut ke dosen, mungkin bisa difasilitasi oleh tim tugas akhir (TA).
Maka dari itu, sebenarnya keaktifan dari mahasiswa sendiri itu sangat diperlukan. Di satu sisi juga, kita berusaha untuk meningkatkan kepekaan atau awareness dari dosen TA, dari pimpinan, juga dari adik-adik mahasiswa. Karena kadang ketika teman-teman itu menghadapi teman-teman dengan masalah kesehatan mental, itu kan naik turun [kondisi emosionalnya]. Nah, kadang-kadang anak-anak itu capek menghadapinya. Kadang anak-anak dengan gangguan kesehatan mental itu, cenderung kurang independen sehingga butuh terus didampingi pada beberapa situasi. Nah, kadang tidak semua anak itu bisa. Beberapa dari mereka sudah sibuk dengan urusan sendiri.
Sebelumnya, Kavling 10 pernah melakukan reportase atas ucapan dosen yang berbicara “Sebaiknya keluar dari kampus apabila mendapati beban akademik daripada bunuh diri dan menjadi beban universitas”. Bagaimana tanggapan ibu terkait hal ini? Apakah hal tersebut termasuk mental abuse? Apakah memang seharusnya mahasiswa yang terbebani secara akademik sebaiknya keluar dari kampus?
Mungkin kita bisa melihat dari berbagai macam perspektif ya, kalau boleh kan memandangnya dari perspektif mungkin psikologi gitu ya. Mungkin kalau perspektif dosen, harapannya ketika mahasiswa masuk, mereka sudah tahu hak dan kewajiban mereka. Contohnya seperti hak untuk mendapatkan pembelajaran. Tapi yang perlu diperhatikan tanggung jawabnya, si mahasiswa kan juga harus menyelesaikan. Misalkan di dalam satu semester ada 24 SKS (Satuan Kredit Semester), itu harus diselesaikan dengan baik oleh mahasiswa.
Tapi pada kenyataannya, beberapa mahasiswa yang akhirnya ketika dia tidak mampu bilang kalau “Oh, ternyata nggak sesuai dengan jurusan aku. Oh, ternyata aku merasa kesulitan.” Itu stagnan gitu. Tidak ada komunikasi dua arah seperti itu ya. Mungkin dari mahasiswa yang tidak menyampaikan, dari dosennya mungkin juga seperti itu. Harus nunggu mungkin teman-teman berkomuni. Ya, tergantung sih ya karakteristik dosennya.
Jadi, kalau terkait dengan statement itu, semua tergantung dari karakteristik dan juga respon dari masing-masing dosen. Mungkin beliaunya itu berpikir terkait dengan aspek akademik. Kalau mahasiswa itu tanggung jawab dan juga hak sehingga itu yang memang harus dilaksanakan.
Kalau kita memandang atau mengkaji dari perspektif psikologis gitu ya, memang pada beberapa situasi itu ada beberapa anak yang mungkin kesulitan untuk survive karena ada konflik tadi. Ketika ada konflik, baik dengan orang lain, sosial, akademik, belajar, karir, keluarga; itu akhirnya jadi stagnan gitu ya di aspek akademiknya. Terkadang hal itu yang mungkin perlu kita telusuri. Kenapa kok secara akademik dia itu mengalami kendala. Nah itu kan yang harus kita cari tahu penyebabnya kayak gitu. Kendalanya itu seperti apa?
Bisa jadi kan kamu punya masalah akademik, tapi kamu sebenarnya itu nggak mau kuliah karena kamu diputusin pacarmu atau misalkan ada masalah dengan keluarga, kan bisa jadi kayak gitu. Atau mungkin ada masalah karena nggak nyaman dengan dosennya. Nah, hal-hal penyebab situasi itu memang mau nggak mau harus ditelusuri.
Tapi, terkadang ada mahasiswa yang ketika kita mencoba reach out mahasiswanya bisa di-reach out. Ada beberapa mahasiswa yang kadang susah untuk di-reach out. Meski begitu, kita, Universitas Brawijaya, itu juga punya tanggung jawab untuk membimbing anak-anak dengan situasi yang seperti ini untuk kita rangkul. Setelah itu, kita bantu dia untuk mengetahui apa penyebab masalahnya dan akhirnya kita bantu dia untuk menyelesaikan secara mandiri. Ya, melalui berbagai macam hal. Misalnya kalau secara ekonomi berarti difasilitasi apa? Kalau masalah keluarga ya kita bantu fasilitasi misalkan dengan konseling keluargaatau kalau masalah psikologis kita bantu. Jadi memang sampai segitunya.
Padahal sebenarnya, tugas mahasiswa itu kan andragogi. Andragogi itu adalah pembelajar dewasa. Tapi kenyataannya, nggak semuanya itu kayak gitu. Dan kita perguruan tinggi inklusif mau nggak mau kita harus peka dan aware.
Kita juga perlu merangkul anak-anak untuk terus mau mencari tahu apa penyebab [masalahnya] gitu. Jangan judgement dulu. Kalau di-judgement, kadang mereka itu nggak mau terbuka kayak gitu. Jadi kita benar-benar mencoba untuk mendalami, setelah itu kita bantu kalau dia bisa dibantu. Tapi pada beberapa kasus ada yang memang tidak ingin dibantu ya kita tidak memaksa, kita beri dia waktu saja tapi disesuaikan sama aturan [konseling]. Kalau misalkan aturannya segini [waktunya jadwal konseling], kan harus ditepati. Lha kok dia nggak muncul? Setelah kita cari-cari juga, kok dia nggak ada? Kan kita sudah nggak bisa apa-apa.
Tapi kalau misalkan kita itu biasanya coba reach out gitu, benar-benar cari anaknya ke mana, sampai menghubungi keluarganya dan apa. Itu real. Kita di layanan konseling sendiri itu kayak gitu. Jadi sampai memang urusannya itu nggak hanya urusan kamu. Tapi saya itu sampai menghubungi orang tuamu, pakdemu, budemu, sampai tetangga kosmu gitu dan memang sampai segitunya. Padahal memang usianya mahasiswa tapi kan nggak semua mindset-nya kayak gitu.
Makanya kita harus meningkatkan mental health awareness pada program ini. Makanya jadi program prioritas rektor soal kesehatan mental. Cuman dari mahasiswanya juga memang harus dikuatkan.
Jika mahasiswa mengalami stres akademik, hal apa yang seharusnya mereka lakukan? Apa fasilitas yang disediakan UBkepada mereka?
Jadi kita itu sebenarnya bisa melalui dua jalur gitu ya. Bisa jalur fakultas, karena di fakultas itu kan sebenarnya ada ULTKSP (Unit Layanan Terpadu Kekerasan Seksual dan Perundungan). Cuma memang di beberapa fakultas, tenaga yang kita latih itu ada yang memang psikolog atau psikiater. Tapi beberapa fakultas yang lain itu bukan psikolog atau psikiater, tapi dosen yang kita latih untuk bimbingan konseling mendampingi adik-adik.
Jadi layanan itu bisa diakses ke ULTKSP. Selain itu, mahasiswa bisa juga ke peer counselor yang ada di masing-masing fakultas. Mereka juga bisa ke DWP (Dharma Wanita Persatuan) melalui program UB, Sahabat Kampus, yang sudah kita training untuk melakukan pendampingan. Jadi kalau merasa “Aku nggak punya ibu nih di di rumah” bisa ke ibu-ibu DWP untuk bisa menjadi pendamping. Tetapi yang utama sebenarnya layanan kita itu ada di Subdirektorat Konseling Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan, itu ada banyak layanan.
Jadi kita ada layanan konseling tatap muka dan konseling online. Layanan konseling tatap muka dan online ini kaitannya dengan masalah apa aja? Tidak harus masalah. Kamu ingin pengembangan potensi pun juga bisa. Jadi terkait dengan problem akademik itu kita fasilitasi. Kalau kamu kepentok sama dosen itu kadang kita sampai minta bikinin surat loh untuk membantu. Kadang kita bantu fasilitasi. Jika mahasiswa sudah berusaha tetapi tetap mengalami kesulitan, maka layanan konseling akan membantu mencari solusi atau memfasilitasi langkah yang diperlukan. Tidak hanya masalah akademik. Masalah sosial yang kaitannya dengan relasi, terus masalah karir, masalah pribadi dengan urusandengan diri sendiri yang belum beres itu juga bisa. Masalah pribadi, masalah keluarga juga bisa. Bakat, minat, personal carrier itu juga bisa.
Tak lupa juga juga masalah kasus-kasus kekerasan, seperti kekerasan fisik seksual, bullying ataupun yang lain-lain dan juga kecanduan. Kecanduan dalam hal ini bisa juga kecanduan judi online, game, seks, kayak gitu tidak apa-apa. Kita juga konselingnya itu online dan juga tatap muka kita juga memberikan psikoterapi.
Nah, psikoterapi itu dilakukan untuk mahasiswa dengan masalah kesehatan mental yang memang nggak bisa sekali konselingnya. Konselingnya itu bisa setahun, 2 tahun, 3 tahun sampai kamu lulus. Dari kamu masuk sampai kamu lulus itu bisa. Itu namanya psikoterapi. Jadi memang jangka panjang kayak gitu. Terus kita juga memberikan pendampingan sama psikoedukasi. Kalau pendampingan sama psikoedukasi kan beda ya sama yang konseling. Jadi konselingnya juga ada yang individu atau kelompok. Nah, kita juga mengadakan pelatihan untuk pendampingan dan psikoedukasi.
Nah, pelatihan itu kita ada beberapa. Pertama, pelatihan pada dosen PA. Itu dilakukan di masing-masing fakultas yang kita latih. Selain pelatihan dosen PA, kita juga melakukan pelatihan pada ULTKSP atau BK (Bimbingan Konseling) yang ada di fakultas masing-masing. Terus kita juga ada sosialisasi kesehatan mental dan juga pelatihan untuk pimpinan. dalam hal ini itu adalah WR 1, WR 2, WR 3, WD-WD itu kita latih untuk aware terkait dengan hal tersebut.
Terus kita juga ada pelatihan untuk peer counselor. Pelatihan ini diawali dengan pelatihan Psychological First Aid (PFA), kemudian dilanjutkan dengan pelatihan konselor sebaya yang ada di tingkat universitas maupun fakultas. Jadi nanti kamu bisa mengakses layanan itu tidak hanya ke dosen atau psikolog, tapi kamu juga bisa ke teman sebaya. Terus ada psikoedukasi, kesehatan mental, pengembangan diri dan karir, serta pembentukan karakter. Secara umum seperti itu. Nanti kalau ditanya itu psikolognya yang kayak gimana? Kita sesuaikan sama masalahnya tadi.
Kalau masalahnya [skala] sedang ke berat, kita ada psikolog klinis. Kalau masalah pendidikan akademik kita ada psikolog pendidikan. Kalau masalahnya terkait dengan pengembangan karir, potensi, bakat, minat; itu ada namanya psikolog industri dan organisasi. Perawat jiwa kita juga ada. Pada beberapa kasus, ada juga kasus yang terdeteksi HIV (Human Immunodeficiency Virus), penyakit kelamin, atau kasus-kasus yang terkait dengan kekerasan seksual. Untuk menangani itu, kita juga ada dokter spesialis kulit dan kelamin yang bisa kamu konsultasi. Psikiater juga ada. Nah, kalau misalkan yang untuk kasus-kasus hukum, kita juga ada konsultan hukum.
Semua itu kita beri gratis untuk pengobatannya. Semuanya dilakukan gratis. Tapi kita tidak menyediakan pengobatan farmakologi, seperti obat untuk anak-anak dengan gangguan kesehatan mental yang arahnya berat. Kalau seperti itu ya sudah [dirujuk] ke rumah sakit. Kita juga bekerja sama dengan rumah sakit, seperti Rumah Sakit Saiful Anwar. Jadi nanti rujukannya ke situ menggunakan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial).
Apa pesan dari Ibu untuk mahasiswa yang sedang berjuang menuntaskan kuliahnya?
Kamu tidak sendiri gitu. Maksudnya ketika kamu membutuhkan bantuan, akses saja [layanan konseling UB] gitu. Jangan merasa lingkungan sekitar nggak bisa bantu kamu. Ada kok layanan konseling yang bisa bantu kamu. Baik itu psikolog atau tenaga medis, mereka bisa support kamu dan membantu fasilitasi harapanmu.
Selain itu, mahasiswa juga perlu meningkatkan literasi [tentang] kesehatan mental. Artinya, mahasiswa perlu memilikipengetahuan mengenai kondisi kesehatan mental mereka, sehingga mereka dapat memahami apa yang harus dilakukan ketika berada dalam situasi yang tidak nyaman. Jika mahasiswa sudah berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri secara optimal tetapitetap merasa tidak mampu mengatasinya, maka langkah yang tepat adalah meminta bantuan profesional.
Itu pesan saya. Jadi tidak [merasa] sendiri, segala sesuatu itu bisa kita cari bersama-sama jalan keluarnya. Karena bagaimanapun, tujuan kalian kuliah itu tidak hanya untuk keinginan orang tua ataupun yang lain, tapi untuk agar kamu itu bisa jadi dirimu sendiri,jadi bahagia. Supaya kamu bisa menerima dirimu dalam lingkungan sekitar dan kamu jadi bahagia, yang pada akhirnya bisamengembangkan potensi seutuhnya.
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Editor: Sofidhatul Khasana
