MENAMPUNG CERITA DI ATAS TUTS MESIN TIK
Fotografer: Aulia Hasti Zalika R.
MALANG–KAV.10 Pelataran perpustakaan Universitas Brawijaya sore itu riuh oleh kaki manusia yang giat mengejar sibuknya masing-masing. Menjelang petang, sebuah bunyi ketukan yang khas terdengar samar, membelah keriuhan. Tak jauh dari sana, seseorang tampak bersimpuh di antara barisan buku bersama seunit mesin tik. Jemarinya menari lincah di atas tuts, melahirkan sebait puisi yang perlahan menyembul di balik secarik kertas.
Jemari itu adalah milik Agyl Ramadhan dan Albani Atsauri yang secara bergantian mengambil peran menjadi seorang penyair pada selasar perpustakaan. Keduanya merupakan pengasuh gerakan Puisi On The Spot menggunakan mesin tik. Agyl bergerak lewat nama Taktiknoo, sementara Albani lewat Puisi Mesin Tik. Mereka hadir bagi siapa-siapa saja yang bersedia duduk dan menukar ceritanya dengan secarik kertas berisikan sajak-sajak, atau barangkali dengan rasa lega yang datang setelahnya.
Menghidupkan Kembali Mesin yang Mati
Bagi Agyl, setiap orang memiliki puisi dalam dirinya masing-masing, tetapi puisi itu sering kali masih dianggap sebagai barang asing di hadapan mereka. Agyl juga gelisah dengan posisi puisi hari ini yang terkesan eksklusif dan hanya dapat dinikmati lingkaran tertentu saja. Maka, ia menghadirkan Puisi On The Spot sebagai salah satu cara untuk mengeluarkan sajak-sajak itu melalui ragam cerita yang dibagikan kepadanya.
“Akhirnya dari situlah sepertinya puisi ini menjadi hal-hal yang menarik buat saya. Entah itu dari bentuknya, dari emosi yang ditawarkan, pun dari permainan-permainan yang ada dalam puisi,” ujar Agyl sembari memandang selasar kampus yang perlahan mulai temaram.
Angin dingin yang berhembus sore itu barangkali mengganggunya sedikit, tetapi Agyl senantiasa tetap menceritakan bagaimana awal mula ia berjalan bersama mesin tik kepunyaannya. Gerakan Puisi On The Spot menggunakan mesin tik yang dilakukan pemilik akun Instagram @Taktiknoo itu bermula dari keresahan saat melihat mesin tik yang kehilangan fungsi aslinya di ruang modern Malang. Agyl merasa gerah melihat tuts pada mesin itu hanya berakhir menjadi bangkai pajangan pada salah satu kafe yang sempat ia kunjungi.
“Saya sempat kepikiran, apakah benar mesin tik ini tidak bisa berfungsi sehingga cuma jadi dekorasi? Sedangkan menurut saya mesin tik ini adalah alat yang performatif,” kenangnya sembari menerawang jauh mula perjalanannya sekitar setahun lalu, sambil memandangi mesin tik yang tergeletak di atas meja.
Dalam pandangannya, semua hal mengenai mesin putih yang gemar ia bawa-bawa merupakan hal baru yang menimbulkan ketertarikan khalayak umum. Tampilannya yang terlihat usang, lengkap dengan segala goresan dan huruf pada tutsnya yang mulai pudar dan menghilang, membawa kesan vintage pada mesin tua itu. Bunyi-bunyian yang dihasilkan saat mengetik puisi menarik bukan hanya bagi yang mengoperasikan tetapi juga bagi telinga-telinga lain yang menangkapnya, sehingga dapat membuat siapa saja mudah menoleh.
Selain itu, bagi Agyl, mesin tik juga memberikan disiplin menulis yang tidak dapat dirasakan ketika ia menggunakan alat-alat modern lain. Mesin ini menciptakan seni di balik ketidakhadiran tombol menghapus huruf yang sudah diketik, berbeda dengan gawai dengan teknologi masa kini. “Maka semisal ada kesalahan-kesalahan, karena saya bersimpangan dengan orang, saya akan menawarkan diketik ulang kalo memang merasa keberatan,” tuturnya.
Di sisi lain, Albani mengenal gerakan Puisi On The Spot ini melalui jaringan pertemanan antar-kota yang ia miliki. Pemilik akun @puisi.mesintik ini melantunkan beberapa nama di balik alasannya memulai perjalanan berpuisi menggunakan mesin tik. Nama-nama itu ialah Yosua Pirera dari Surabaya, Hamzah Muhammad dari Jakarta, serta nama-nama lain yang menyebarkan tren Puisi On The Spot ke berbagai daerah seperti Medan, Solo, Samarinda, hingga Papua.
Penyair-penyair inilah yang memantik Albani untuk mulai bergerak pada jalur yang sama pada Oktober 2025 lalu. Ia memulai langkahnya dengan membeli sebongkah mesin tik pertamanya di kawasan Pasar Besar Malang. Sebulan kemudian, Albani mulai memberanikan dirinya untuk melapak pada Festival Sastra Kota Malang serta beberapa acara lainnya. Dari satu kedai ke kedai lain, serta dari satu tempat tunggu ke tempat tunggu lain.
Bagai ombak baru yang menerpa lautan serba sunyi, lapak puisi milik Albani meledak oleh atensi karena gerakan berpuisi menggunakan mesin tik ini masih terbilang baru di Kota Malang. “Biasanya orang menganggap puisi itu sulit dipahami atau bahasanya harus mendaki yang tinggi. Waktu itu meledak sekali, karena jarang-jarang ada puisi yang diketik langsung dari cerita kita,” ceritanya bersama binar di matanya kala mengenang awal perjalanannya yang begitu jaya.
Mata Uang Baru Bernama “Lapang”
Baik Agyl maupun Albani sama-sama melanjutkan perjalanan mereka berpuisi dan melapak dengan memilih sistem pembayaran sukarela, di mana setiap orang yang datang dibebaskan untuk membayar menggunakan apa saja. Pendapatan yang sering kali tidak menentu secara ekonomi melalui sistem itu tidak membuat Agyl dan Albani kehilangan gairah untuk terus berpuisi. Sebab menurut Albani, Puisi On The Spot merupakan cara paling ampuh untuk mendekatkan puisi kepada mereka-mereka yang belum mengenal puisi dengan baik.
“Ketika aku menyampaikan puisi, aku ngerasa yaudah aku pengen bikin orang senang, jadi emang diniatkan bukan buat nyari uang. Kalo buat nyari uang mending aku jadi SPPG, lebih menjanjikan,” candanya diselingi tawa yang menemani redup petang itu.
Sistem pembayaran semacam ini justru seringkali melahirkan interaksi manusiawi yang begitu jujur. Albani sempat memamerkan senyumnya ketika teringat pada dua mahasiswa yang mendatangi lapaknya minggu lalu. Ia menceritakan bagaimana salah satu mahasiswa itu menyodorkan sesuatu di luar dugaan sebagai bentuk pembayaran, menyelipkan kejutan di antara hari lelah yang telah dipikul Albani di depan mesin tik.
“Dia bilang ‘Aku lagi nggak ada uang, tapi aku ada gorengan kalau kakak mau terima.’ Wah, pas banget karena itu siang-siang dan aku dari pagi [melapak]. Mungkin kalau dikasih uang aku nggak bisa pamit buat beli makan, jadi waktu dikasih gorengan yaudah langsung dimakan,” terang Albani sembari jemarinya bergerak di atas kotak berisikan mesin tik yang ia bawa.
Agyl pun turut memiliki pandangan yang sama, tidak pernah sekalipun dalam perjalanannya berpuisi ia merasa bahwa tenaga dan emosi yang ia curahkan untuk membuat puisi itu tidak sebanding dengan apapun yang diterimanya sebagai bayaran.
“Ketika mungkin kamu ingin mendapatkan puisi tapi kamu nggak bisa membayar dengan apapun, saya nggak masalah. Karena kepuasan saya adalah ketika orang bercerita, saya yakin ada kelegaan di sana. Dan ketika mereka merasa lega setelah bercerita, itu saya sudah senang.”
Menjadi Telinga di Tengah Riuhnya Kota
Di balik suara ketukan tuts besi dan ramainya atmosfer Kota Malang, setiap meja yang ditempati Agyl dan Albani bersama mesin tik mereka adalah bilik penampungan cerita dari banyak benak yang menyimpannya.
Albani sempat mengenang salah satu momen yang membekas pada lembar pengalamannya selama berpuisi, momen itu terjadi kala ia pertama kali melapak saat Festival Sastra Kota Malang tengah berlangsung. Seorang ibu paruh baya datang dan duduk di hadapannya, menawarkan Albani untuk menukar puisinya dengan segenap cerita yang dia punya. Sang ibu mulai bertutur, mengisahkan rindunya ketika harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suami dan anaknya yang berada jauh di Jakarta.
Saat jemari Albani mulai menyentuh tuts besi pada mesin tik itu, perasaannya terasa campur aduk. Sebagai seorang pemuda asal Lombok yang sedang merantau di Malang, cerita itu berhasil menghantam sisi melankolis milik Albani.
“Aku ngerasa lagi bikinin puisi buat ibuku sendiri dan itu sangat personal sekali, karena waktu itu aku lihat ibu itu lumayan berair matanya,” kenangnya sembari tersenyum pahit mengingat itu. Momen itulah yang pada akhirnya mengunci keyakinan Albani bahwa ia sedang berjalan pada jalur yang tepat.
Selain momen haru yang kerap mewarnai lapak Albani, ia turut merasakan berbagai macam beban emosional ketika menjadi pendengar di depan mesin tiknya. Albani ingat betul bagaimana atmosfer di sekitarnya mendadak terasa berat ketika salah satu mahasiswa datang dan bertutur tentang keputusasaan yang membawa ia pada kebiasaannya melukai diri sendiri.
“Waktu itu aku ngerasa terbebani, kalau aku fail buat nangkap inti cerita dia—kayaknya aku bakal kecewa sama diriku sendiri, karena dia sudah dengan berani dan sukarela menceritakan sesuatu yang sangat personal sekali buat dia,” jelas Albani.
Kemudian, jemari Albani mulai bertugas untuk menjelajahi tuts huruf di atas mesin tua itu. Memproses cerita pilu sembari mencoba memposisikan dirinya sebagai pendengar tanpa perlu menghakimi apa-apa. Ketika lembaran kertas di atas mesin akhirnya terisi oleh sajak-sajak, ia hadiahkan lembar itu kepada pencerita sebab telah bersedia menukar kisahnya. Albani sekali lagi dibuat tertegun oleh ucapan terima kasih yang diterimanya.
Mahasiswa itu memandangi baris demi baris, kalimat demi kalimat di atas kertas tersebut sebelum akhirnya tersenyum. “Mas, puisi ini bakal jadi pengingat aku kalau mau self-harm lagi. Kalau baca ini, semoga aku nggak melakukan itu lagi,” ujarnya singkat.
Ketika mahasiswa itu melangkah pergi menjauhi Albani, barulah ia dapat bernapas bebas. “Ketika selesai menulis dan dia pergi, aku langsung lemas. Itu salah satu cerita yang paling membekas, ketika sesuatu yang kita lakukan bisa menyelamatkan atau membantu orang lain,” ucap Albani sembari menghela nafas lega.
Pengalaman menghadapi emosi pencerita yang meluap juga turut dialami oleh Agyl. Suatu hari ketika ia melapak, sebuah puisi berhasil lahir kembali dari kisah yang dibawa seorang pengunjung. Agyl kemudian menawarkan apakah puisi itu harus dibacakan olehnya atau tidak, sang pengunjung pun menolak. Ia hanya mengambil lembar kertas itu dan membacanya dalam hening kepalanya sendiri. Lalu perlahan jatuh air mata milik pengunjung tersebut, satu tetes demi tetes lainnya.
“Aku membuat manusia menangis, apakah ini salah?” tutur Agyl dengan nada reflektif ketika mengenang saat itu. “Tapi aku berharap tangisan itu adalah tangisan kelegaan, bahwa setelah bercerita dia bisa mencurahkan beban yang selama ini mungkin dipendam sendirian.”
Selembar Harapan yang Dibawa Pulang
Malam telah sepenuhnya menguasai selasar Perpustakaan Universitas Brawijaya saat kami bersiap menyudahi obrolan hari itu. Angin terasa semakin menusuk ke dalam pori-pori. Kedua penyair itu bersiap mengakhiri pertemuan dengan cara yang serupa: mengemas kembali mesin tik yang mereka bawa.
Sebelum merapikan mesin tiknya kembali ke dalam kotak, Albani menyampaikan secercah harapan sederhana yang juga disetujui oleh Agyl dalam diam.
“Ketika mereka selesai bercerita, aku harap mereka bisa menerima cerita mereka dalam bentuk fisik. Jadi ketika selesai menulis, aku harap puisi ini bisa jadi teman cerita mereka ketika mereka ngerasa suatu hal yang sama di lain waktu. Mereka bisa membaca itu kembali dengan perasaan yang berbeda dan tidak takut untuk bercerita lagi,” terang Albani.
Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Apa pun yang kita rasakan, aku rasa perlu diceritakan. Kepada siapa pun, entah hewan peliharaan seperti kucing, teman, orang tua, atau bahkan ke sesuatu yang paling kita suka seperti puisi.”
Satu persatu lampu selasar perpustakaan mulai menyala saat penyair-penyair itu melangkah pergi, membiarkan bilik penampung cerita itu kembali menjadi tempat tunggu yang sunyi. Mesin tik tua mungkin telah berhenti berbunyi hari itu, tetapi bait-bait yang lahir darinya kini hidup dalam lembaran kertas yang dibawa pulang banyak orang, sebagai kawan yang akan selalu setia mendengarkan.
Penulis: Aulia Hasti Zalika R.
Editor: Fenita Salsabila
