Ilustrator: Sofidhatul Khasana

Sedotan demi sedotan dilakukan adikku pada payudara ibu, air susu itu menetes deras dari sela-sela bibir kecilnya. Dia menyedot dengan begitu tergesa-gesa seakan kelaparan terus mengejarnya. Tak lama kemudian, bibir kecilnya lepas begitu saja dari puting Ibu. Dia tidak menangis lagi—sekarang adik tertidur lelap. Bulu mata Ibu terangkat dan dia menatapku sambil berkata, “Nak, andai saja payudara ibu ada dua, adikmu pasti tidak kelaparan seperti ini,” begitu lirih ujarnya sembari terus memandangi payudaranya yang tertinggal satu sebelah kiri.

Selama ini, beribu-ribu cara dapat aku lakukan jika memang aku mampu. Ketidakberdayaan yang aku miliki sebagai anak laki-laki membuatku tak mampu mengurus ibu dan adik. Tapi di sisi lain, aku tidak mau menjadi seperti bapak yang suatu hari hanya pulang membawa es moni (sejenis miras oplosan), matanya linglung, mengaku jika merasa pusing lalu tergeletak di bawah kasur kamarnya. Aku ingat kejadian itu saat bapak muntah: bulir nasi dengan warna oren sedikit kecoklatan keluar dari mulutnya dan berbau layaknya bahan fermentasi yang agak sedikit busuk. Saat itu ibu menangis di samping bapak, membersihkan muntahannya. Perban di dadanya tidak sengaja bergeser hingga aku lihat di celah pintu ketika mengintip ada noda darah tembus di dasternya.

Bapak tidak terlihat lagi sejak kejadian itu. Aku tidak mengerti mengapa ia meninggalkan aku, ibu, dan adik yang baru berumur lima hari. Meratapi itu, ibu menangis: tangisnya bersahutan dengan tangisan adik kala melihat pintu rumah terbuka lebar, bahkan dinding kamarku tidak membendung pedih yang dirasakan ibu. Aku tidak memahami mengapa ibu mau menjadikan bapak sebagai suaminya. Sifatnya yang kasar dan gampang tersulut itu kurasa hanya akan menginjak-injak ibu. Ketidakberdayaan ibu membuat satu payudaranya hilang, ibu divonis kanker payudara ketika hamil adik lima bulan. Kala itu aku tidak mengerti mengapa ibu bisa mengalaminya, adik yang masih bergelung di dalam ketuban tidak menyadari jika ada sesuatu paling ganas, paling menakutkan, yang kapan saja bisa merenggut nyawanya dan nyawa ibu.

Entah karma apa yang didapatkan orang selemah ibu. Tak banyak hal yang telah ia lakukan di kehidupannya yang sederhana. Dasternya saja bolong dan ia hanya mau menggantinya ketika sudah robek setengah badan. Kendati demikian, ibu selalu menjejaliku prinsip hidupnya tentang kesederhanaan. Contohnya di suatu hari aku mendapatkan juara saat kelas delapan. Sontak aku menagih janji es krim pada ibu yang sebelumnya ia janjikan saat aku berhasil meraih peringkat itu. Ibu, yang menemuiku di sekolah, menepati janjinya—ia tak banyak mengelak selama prinsip kesederhanaan yang ia ajarkan masih selaras dengan hadiah itu. Es krim itu sendiri hadiah yang sederhana. Harganya saja dua ribu. Tentu hadiah itu berbeda dengan yang diperoleh teman-temanku saat mendapat juara kelas: mereka pergi ke mall untuk menonton bioskop. Meski begitu, rasa kapas dengan perpaduan warna pink, biru, dan ungu itu membuatku senang saat membelinya.

Ibu menggandeng tanganku saat pulang ke rumah. Selama perjalanan, aku menikmati es krim yang baru saja dibelikan ibu. Rasanya menyenangkan ketika aku bisa mendapatkan hadiah atas usahaku sendiri. Setibanya di rumah, ibu membuka pintu. Entah kenapa semenjak pintu itu terbuka, es krim yang kupegang tidak lagi nikmat. Di dalam rumah, terlihat bapak bersama seorang wanita yang biasanya aku panggil budhe. Mata ibu melotot dan berair, bapak gelagapan, sementara budhe terlihat takut. Aku tidak mengerti dan aku tidak paham. Aku hanya ingin mengakhiri jilatan es krim itu dengan enak. Sesaat kemudian, ibu pingsan. Sementara aku menangis memeluknya—walaupun aku juga bingung kenapa aku harus menangis.

Katanya bapak bekerja sebagai montir. Hari itu memang dia harusnya libur dan membiarkan ibu bekerja sebagai juru masak di sebuah rumah makan. Setiap hari rasanya ingin aku ke tempat kerja Ibu, sebab dia selalu memberikanku ayam bakar sisa yang selama ini, selain es krim, selalu menjadi tujuanku mendapat nilai sempurna. Hari itu, aku berpikir mungkin ibu marah karena bapak tidak bekerja. Tapi, mengapa budhe bersama bapak?

Semua itu berlalu begitu saja. Monolog yang aku lakukan dan tulisan usang tentang perselingkuhan bapak dengan budhe dan bapak yang mabuk tiga tahun silam selamanya tertulis dalam buku harian dan ingatanku. Jika aku tau semenyakitkan itu, sedari awal aku tidak akan mencoba memahaminya. Di dalam kamar persegi dengan cat putih dengan dinding yang menggaram—aku termenung beberapa saat hingga ibu memanggilku.

Le, ibu pegel. Tolong gendong sebentar adikmu ya!” matanya terlihat kesakitan bukan pegal.

Nggeh buk, sini tak gendong e,” aku ambil adek dari gendongan ibu, dan saat itu juga aku lihat perban bekas operasi angkat payudaranya berwarna merah.

“Loh buk, perbannya ibu basah lagi. Aku panggil mbak Tul, ya?” aku tawarkan padanya untuk memanggil perawat yang membuka praktek di desa kami.

“Wes ndak usah le, Ibu lho bisa ganti sendiri. Wes sana gendong adekmu!” dia mengusirku.

Ibu dengan tergesa sambil menahan sakit kembali ke kamarnya. Aku timang-timang adikku, walaupun sebenarnya dalam hatiku aku tidak mau. Teman-temanku biasanya mengejek, “lanang kok momong”. Sejujurnya aku malu. Aku ingin bermain layangan, bermain kelereng, dan mencari belut di sawah, bukan malah menggendong batita kecil perempuan yang suka menangis. Dia adalah adikku yang lahir dari ibu dengan satu payudara. Aku yang masih kelas satu SMA dipaksa rela merawat dua perempuan lemah. Ibu dengan satu payudaranya dan adik yang tidak bisa apa-apa.

Tanpa menghiraukan matahari yang menusuk kulit dengan sinarnya, aku tetap berjalan dengan adik di gendonganku. Aku harap dia tidak menangis. Setidaknya aku ingin sedikit merasa bebas dan bahagia dengan ketenangannya. Adik, tahukah engkau jika sesederhana menonton temanku menerbangkan layangan saja sudah amat menyenangkan, ucapku sambil menatap wajahnya. Aku akan mengajakmu turut serta melihatnya, tidak peduli jika nanti engkau menangis tersengak-sengak.

Dari jarak lima puluh langkah. Perasaan senang sudah memenuhi dadaku, apalagi saat aku lihat tiga temanku yang sedang serius menerbangkan layang-layang. “Eh Yudha dateng cok, walahh kok bawa adikmu juga Yud?” temanku Reno bertanya langsung tanpa babibu mengapa aku membawa adik. “Iyo, ibukku sakit soalnya,” jawaban yang aku rasa adalah zona aman. “Semoga cepet sembuh ya Yudh, ibukmu,” tidak aku sangka Rizal yang nakal dapat berbicara seperti demikian.

“Aman kok rek, makasih ya doanya,” lega rasanya temanku tidak menggunjing seperti teman sekolahku yang lain.

“Jaga adikmu aja Yudh sambil liatin kita main. misalkan besok kamu bisa, nanti kita main. Aku jemput sama Rizal,” Reno menawarkan dengan senyumannya. Aku kagum padanya. Sekalipun giginya tonggos, dia tidak pernah ragu pada dirinya sendiri.

Tenangnya hatiku merasakan respon mereka. Percakapan singkat itu mengantarku ke sebuah bangku kayu lapuk pinggir lapangan. Rasanya aku ingin ikut bermain bersama mereka. Namun ibu dan adik, dengan kuasa moral dan perasaan tidak enak yang aku miliki menghancurkan inginku begitu saja. Aku tatap adik yang begitu tenang menyedot empengnya. Sekalipun dia begitu tenang, aku tetap takut dia menangis dan tidak merasa nyaman.

Semakin sore, semakin banyak orang di lapangan ini, jika sebelumnya hanya Reno dan Rizal kini berisi berbagai usia dan pedagang keliling. Sangat ingin aku membeli sebungkus pentol lima ribu saja, namun aku ingat bahwa membeli obat untuk ibu lebih penting dari sebungkus pentol. Lamunan akan pentol buyar begitu saja saat adik menangis. Aku tau ini adalah lonceng untuk pulang karena bagaimanapun adik butuh ribuan tetes asi ibu.

Aku berjalan tergesa-gesa dengan harapan ketika sampai di rumah, aku bisa tenang sejenak. Nahasnya hal itu tidak kudapatkan bahkan ketika aku masih sampai di depan rumah. Ada apa lagi ini Ya Tuhan? Mengapa ibu menangis hingga suaranya hilang? Mengapa Budhe dan Pakdhe di depan Ibu dengan raut muka kebencian?

“Seharusnya dari dulu kamu serahkan tanah itu kepada kami, Rum,” teriakan Pakdhe lantas mempercepat langkah kakiku yang hanya berjarak lima langkah saja dari sepetak rumah kecil itu. Aku masuk lewat pintu belakang dan kemudian masuk ke kamar untuk menidurkan adik.

“Sampai aku bosok di tanah tidak akan aku serahkan tanah itu pada mas. Tanah itu sah hak milikku mas. Aku yang mengusap kotoran mbok e tiap hari mas, sementara kamu dan bojomu yang pelakor ini cuma foya-foya pakai uang haram hasil jual perhiasan mbok e mas. Kasihani aku mas. Susuku ini tinggal satu. Uang hasil jual tanah itu kubuat untuk berobat mas,” aku tiada kuasa menahan bulir air mata ini. Hatiku hancur melihat ibu beradu mulut sambil bersimpuh menahan sakit pada dadanya yang tercetak noda darah besar.

“Alah, kamu itu Rum alasan terus, percuma itu kamu berobat tidak akan sembuh susumu. Sejak awal tanah itu milik kami, kamu itu udah dapat rumah kok tiada bersyukur,” Budhe dengan lantang memaki ibu tanpa welas asih.
Adik menangis kencang karena teriakan itu. “Cup-cup adikku sayang, Sarah yang cantik jangan menangis. Mas di sini,” aku coba menimangnya dengan lembut. Biarpun pintu kamar ini tertutup rapat, suara samar adu mulut tidak terhalang sepenuhnya. Pada akhirnya adik tertidur. Suara ribut itu sudah tidak terdengar lagi.

Ketika pintu kamar ini terbuka, suasana tenang yang aku dapati adalah ibu yang menutup wajahnya sambil menangis serat duduk bersimpuh di bawah sofa. Terdapat gejolak batin aku yang aku hadapi saat aku lihat Ibu tidak berdaya seperti ini. “Buk, kenapa?” aku harus berani bertanya padanya. “Ibu, putus asa le. Ibu tidak kuat lagi hidup seperti ini. Jaga Sarah ya le,” ibu berusaha tidak menangis saat mengatakannya, sekalipun tidak aku pungkiri air matanya terjatuh begitu deras. “Ojo ngomong seperti itu bu, ibu terus sama aku dan Sarah selamanya,” aku peluk ibuku begitu erat dan dalam. Tidak aku pedulikan darah yang merembes lalu menembus kaos yang aku kenakan. Malam ini begitu lirih, sunyi, dan pedih.

Tidurku rasanya tidak nyenyak, meskipun sebelumnya juga tidak pernah nyenyak. Aku berjalan linglung keluar dari kamarku menuju kamar ibu. Harapan besar tentang keadaan ibu yang baik-baik saja terus aku tanamkan begitu dalam pada setiap bilik perasaan dan pikiran. Perlahan-lahan aku buka pintunya. Aku intip kamar ibu lewat celah kecil yang aku buka. ibu tertidur pulas sambil menyusui adik yang ikut tertidur pula.

Lega hatiku melihatnya. Untuk memastikan ibu baik-baik saja, aku masuk lebih dalam ke kamarnya. Tertusuk hatiku melihat payudara keriput itu, meskipun ringkih tidak pernah ia berhenti mengalihkan sumber hidup untuk Sarah. Bibir adik juga masih menyedotnya. Aku terduduk di atas ranjang milik Ibu, kendati hatiku begitu lega melihat ia begitu tenang dan sunyi. Tetap ada perasaan mengganjal dalam setiap detakan jantungku. Aku angkat tanganku, lalu aku tautkan jari tengah dan telunjuk guna memastikan napas Ibu tetap berhembus, namun napas ibu sudah hampa. Ibu telah tiada sambil menyambung hidup adik dengan menyusuinya. Tidakkah engkau tau adik? Ibu sudah mati, walaupun putingnya masih mengalir susu—napasnya telah berhenti.

Penulis: Hanin Amalia Najahah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.