KETERLIBATAN STAF ACARA SELAMA TERAS BUDAYA KURANG, KOORDINATOR ACARA BERI TANGGAPAN

0
Sumber: Postingan Instagram @terasbudayafibub

MALANG-KAV.10 Tanggal 30 Agustus lalu, muncul sebuah utas oleh pengguna anonim di X yang mengaku sebagai staf acara dalam postingan @ub_menfess terkait keluhan Open House (OH) Teras Budaya (Tebu) Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Dalam utas tersebut, ia menjelaskan bahwa staf acara kurang dilibatkan, terutama dalam pembuatan penugasan, buku panduan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan OH Tebu. Hal tersebut kemudian berimplikasi pada ketidakmampuannya sebagai staf acara dalam menanggapi sejumlah protes oleh mahasiswa baru maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM) yang akan tampil di OH.

Sky (bukan nama sebenarnya), salah seorang staf acara, menjelaskan bahwa terkait pembagian kerja antar divisi acara sudah cukup jelas dan merata. Akan tetapi, ketidakjelasan itu mulai muncul saat pelaksanaan kegiatan. “Tapi selama pelaksanaan itu menurut saya ada cukup banyak hal yang memang baru diinfokan mendadak. Dan mendadak itu bukan yang H-3, H-2, bahkan ada yang di H-1 atau H- beberapa jam itu baru di-floor-kan [ke para staf],” jelas Sky pada Minggu (6/9).

Terkait penugasan untuk mahasiswa baru (maba), Sky menjelaskan bahwa dalam salah satu rapat divisi acara terdapat sesi pemaparan penugasan. Ia sempat mengonfirmasi kepada koordinator dan wakil koordinator acara tentang ada tidaknya penambahan penugasan, tetapi tidak ada tanggapan lebih lanjut. “Tapi yang di-upload di buku panduan itu berbeda [dengan sesi pemaparan penugasan],” ungkapnya.

Moon (bukan nama sebenarnya), salah seorang staf acara lain, merasa hal yang paling fatal adalah ketidakterlibatan staf mengenai penyusunan buku panduan. Ia mengaku bahwa koordinator dan wakil koordinator hanya memaparkan penugasan. “Jadi, ketika maba-maba protes soal barang bawaan. Kita sebagai staf tuh enggak tahu. [Nah], dampaknya tuh ke kita,” jelas Moon pada Minggu (6/9).

Kebingungan terkait teknis acara terus berlanjut, hingga sebelum pelaksanaan OH Tebu. Moon menjelaskan bahwa ia bahkan tidak bisa menjawab ketika UKM FIB menanyakan perihal susunan acara. Hal tersebut akibat tidak adanya penyampaian instruksi dari koordinator dan wakil koordinator.

Anggun selaku koordinator divisi acara Teras Budaya, menjelaskan bahwa pembuatan buku panduan telah berkoordinasi dengan Badan Pengurus Harian (BPH), yaitu advisor dan koordinator lapangan. Hal itu bertujuan agar divisi acara dapat segera merumuskan perubahan apabila terdapat banyak keberatan. “Menurut saya itu cukup efektif karena mempercepat segala perubahan. Enggak perlu dari staf dulu. Koordinasinya langsung satu pintu,” terangnya pada Rabu (9/9).

Terkait OH, Anggun menjelaskan bahwa terdapat kendala dalam fiksasi tempat pelaksanaan OH hingga membuat ia sendiri pun kebingungan dalam pembagian tugas. Ia merasa apabila tempat pelaksanaan OH belum dapat difiksasi, para staf akan bekerja dua kali, misalnya dalam pembuatan juklak juknis. “[Terjadi] kekosongan koordinasi pada saat persiapan OH. Mungkin karena dari ketua dan wakil ketua pelaksana masih harus mengurusi terkait venue [yang] terkait Rencana Anggaran Biaya (RAB) juga. Jadi, saya sendiri [divisi acara] tidak tersentuh oleh mereka,” jelas Anggun.

Ia pun sempat mengatakan langsung keluhan itu kepada ketua dan wakil ketua pelaksana. Namun, hingga saat selesainya rangkaian Teras Budaya tidak ada evaluasi terkait pelaksanaan kegiatan. Ia menjelaskan, “Saya juga memposisikan diri saya itu dengan staf-staf gitu. Gimana kerja keras mereka, tapi [pada] akhirnya mereka merasa dibuang. Itu pun saya rasakan sendiri sebagai [koordinator] acara.”

Penulis: Elvaretta Rahma Devina
Editor: Nabila Riezkha Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *