MENGARUNGI ARUS AMBISI DALAM “GURITA KOTA”

0
Sumber: soundcloud.com

Judul: Gurita Kota
Album: Mabuk Laut
Penyanyi: The Panturas
Tahun rilis: 2018
Durasi: 2:21
Genre: Surf Rock

The Panturas adalah salah satu band Indonesia yang mengusung aliran Surf Rock. Surf Rock merupakan subgenre dari musik rock yang menggabungkan unsur rock and roll dengan atmosfer pesisir, menyuguhkan irama yang riang, penuh energi, dan membakar semangat. Aliran ini berkembang dari budaya berselancar (surfing) di California Selatan pada awal dekade 1960-an. Suara-suara yang dialunkan oleh instrumen musik yang digunakan dalam aliran Surf Rock ini seperti menciptakan suara gulungan ombak pantai, menjadikan pendengarnya seolah-olah diajak untuk berselancar bebas. Sebagai seorang penikmat musik yang tak bisa bermusik, saya hanya bisa mendengarkan alunannya dan mengapresiasinya.

Kembali pada band yang sedang kita bahas, The Panturas mulai meniti karirnya di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada tahun 2015 dengan beranggotakan empat personil, yaitu Abyan Nabilio, Surya Fikri, Bagus Patria dan Rizal Taufik. Kemudian pada tahun 2018, The Panturas merilis mini album perdana mereka yang bertajuk “Mabuk Laut”. Album tersebut bisa dikatakan cukup booming dan menarik perhatian para penikmat musik untuk mendengarkan karya-karya mereka. 

Salah satu lagu yang ada dalam album tersebut cukup menarik untuk dibahas, yaitu “Gurita Kota”. Gurita Kota sebenarnya menggambarkan bagaimana realitas kehidupan masyarakat urban dan kesemrawutan lalu lintas yang ada di ibu kota. Tetapi saya lebih suka menafsirkannya melalui bagaimana gambaran peliknya kehidupan kota yang tampak mengalir dan berwarna dari luar, tetapi di dalamnya ada arus deras yang siap menenggelamkan siapa saja yang tidak kuat berenang.

Kota di sini tidak hanya sekadar menjadi tempat untuk tinggal, tetapi sebuah sistem yang menyedot seluruh energi, waktu, dan mimpi setiap penghuninya secara bersamaan. Kota kemudian dianalogikan dengan gurita, makhluk yang mempunyai banyak tentakel dan berburu mangsanya dengan melilitkan tentakelnya dari segala arah tanpa memberikan ruang untuk kabur. Semakin keras ia berjuang, semakin keras pula ia terlilit oleh sang “Gurita”.

Gurita kota kini ditunggang oleh bala perompak

Harta karunnya hanya ada di tanggal muda minggu pertama

Berwajah congkak mereka sikat habis aspal hitamnya

Kebun binatang keluar lantang keras dari dalam mulut 

“Perompak” yang menunggangi gurita, tidak lain merupakan gambaran dari kita, manusia, dengan jiwa-jiwa lelah yang sedang memburu harta karun berupa kedamaian pikiran, kebahagiaan, atau hanya sekadar ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota yang menguras kewarasan. The Panturas kemudian menyindir bagaimana manusia bisa “berwajah congkak” ketika saling sikat di atas aspal hanya demi ego dan ambisi pribadi. 

Berenang dan tenggelam

Kuterhempas dalam karang penuh bimbang 

Namun, di balik riuhnya aspal jalanan, pada kenyataannya kita semua sama-sama “berenang dan tenggelam” dalam pusaran kebingungan, kekosongan jiwa, dan krisis identitas yang sama. Kita dipaksa terus bergerak hingga akhirnya seperti pada penggalan liriknya, kita justru “terhempas dalam karang penuh bimbang.” Karang itu adalah ekspektasi sosial, kesepian di tengah keramaian, dan hilangnya jati diri yang menghantam nurani kita bertubi-tubi. 

Dia belah udara mulai menantang Musa dengan tongkatnya

Menari-nari tak sadar caci maki datang bertubi

Demi bertahan hidup (atau bertahan di atas aspal), orang-orang sengaja “menantang Musa” dengan merobohkan benteng moral dan etika mereka tanpa peduli lagi pada hati nurani. Mereka rela menulikan telinga dari caci maki asalkan ambisi egois mereka bisa lebih cepat tercapai. Lagu ini memberi peringatan kepada jiwa-jiwa yang rapuh bahwa kota bukanlah tempat yang ramah bagi mereka. Mereka saling menyerang dengan caci makian yang dilontarkan ke sana ke mari. 

Dan lampu merah padam

Tak sadar ku telah ditabrak gurita 

Kota bukanlah sekadar tempat tinggal. Kota adalah sistem dan sistem tidak selalu berpihak pada yang lemah. Melalui Gurita Kota, The Panturas memberi peringatan bahwa kita hanyalah sebagian kecil dari pusaran sistem kehidupan yang ganas dan tak terkendali, layaknya gurita raksasa dalam lautan lepas. Sangat menarik jika dikaitkan dengan kehidupan kita yang carut-marut saat ini. Selain bergelut dengan diri sendiri, kita juga bergelut dengan dunia sekitar yang kian hari kian kacau. Keadaan kacau di mana-mana dan cahaya harapan agar segalanya membaik pun seakan telah padam.

Sekali lagi, sebagai penikmat musik yang tak bisa bermusik ini, menurut saya Gurita Kota dapat mewakili bagaimana perasaan kita yang seringkali tidak bisa kita ungkapkan. Penulisan lirik dengan analogi yang menarik dibarengi dengan alunan musiknya yang keras dan unik membuat siapapun yang mendengarnya pasti terpikat. Begitu pun dengan lagu-lagu lain yang dibawakan oleh The Panturas. Mereka berhasil membuat pendengarnya seolah-olah diajak untuk berselancar bersama melalui lagu-lagunya. Meskipun kebanyakan lagu yang mereka bawakan memiliki nada yang keras dan energik, bagian itulah yang saya sukai dari band ini. Selamat berselancar, anak buah kapal!

Penulis: Aurelia Calista F.A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.