SOROT LAMPU, DEGUP JANTUNG, DAN SEKANTONG PELUH

Dua kata yang menggambarkan jalan sebelum titik Babatan, Wagir, dan Ngajum bertemu; gelap dan sunyi. Namun, malam Sabtu (30/5) dusun Maduarjo justru terdengar bising. Tukang parkir begitu sibuk mengatur motor-motor yang ditinggal pemilik. Para polisi, hansip, petugas kesehatan, dan entah banyak lagi, sibuk mondar-mandir dengan walkie talkie. Di sisi lain, para penjual saling tumpuk-menumpuk omongan; menawarkan dagangan yang hampir sejenis.

Tanah kosong seketika menjelma ruang tawa anak-anak. Para orang tua bercengkerama dengan sesama. Membicarakan anak mereka yang “lepas”, kemudian tentang sesuatu yang lebih besar. Lebih mendebarkan—Karnaval Maduarjo, tempat kaki-kaki mereka berputar ke sana kemari. Dengan mulut-mulut yang tak berhenti mengobrol atau mengunyah sebungkus kacang seharga sepuluh ribu. Mereka pun melupakan wejangan mereka ke anak sendiri: jangan membuang sampah sembarangan!

Suara adzan oleh muazin mulai sayup-sayup terdengar. Sedang manusia mulai terlihat semakin banyak jumlahnya. Akhirnya, setelah penantian cukup menguras kantong akibat rayuan manis, pedas, hingga asin atau untuk alas duduk seharga lima ribu yang berarti bisa duduk di mana saja asal di pinggir, sorot-sorot lampu kemudian mulai memancar ke langit. Maka, bising ratusan manusia pun kalah tanding. Tolong perhatikan telinga dan jantung masing-masing! (Baca: sound horeg eksis).

Bulan pun bersinar tak digdaya cahaya sound horeg malam itu. Kalah jumlah, warna, maupun efek yang menyertai pelihat. Primadona malam itu kemudian bergilir ke seperangkat pengeras suara berjuta-juta itu. Molek rupanya; mencolek mata manusia dengan permainan ragam warna. Serupa pelangi versi malam yang hadir setelah banyak lembar kertas berjatuhan.

Dentuman suara seketika merambat ke jantung penikmat tak terkira. Otak mereka seketika memerintahkan sang tangan menutup telinga; cukup sia-sia. Sapaan sound horeg terlalu bersemangat. Salah seorang ibu sependapat, bayinya tak akan tahan mendengar. Lalu, mereka pun menghindar. Sedang yang lain semringah, mengeluarkan gawai, dan mulai menghayati. Hingga tubuh-tubuh mereka mulai mengikuti irama dengan sedikit malu-malu.

Sang penari, pelakon—tidak ada istilah pasti untuk menggambarkan manusia-manusia di balik kemegahan pengeras suara di hadapan mereka. Namun, yang pasti mereka adalah manusia dengan segala ketidaksempurnaannya: gerakan yang tak selalu selaras, telinga disumpal tisu, hingga aksesori yang sering copot. Dahulu, mereka adalah sorot utama. Namun, kini lebih terasa seperti pelengkap si raksasa favorit penikmat-penikmatnya.

Ramai. Satu kata yang mendeskripsikan segalanya di malam itu. Para pedagang mencari peruntungan. Panitia berlalu-lalang berharap lancar hingga akhir acara. Peserta karnaval mencoba mengingat gerakan sambil mengulum permen lima ratus tiga. Ada yang menutup telinga sambil merekam, melenggokkan badan, atau sekadar menonton bersama teman dan keluarga. Seakan-akan semua orang punya kehidupan masing-masing tetapi berporos pada satu titik.

Dan malam itu banyak yang terhibur. Atau mungkin diam-diam memberengut; menghardik suara yang terlalu ribut untuk jantung. Namun, hal-hal seperti ini ada untuk membawa kita ke sisi lain: bahwa ada tangan-tangan yang menggantungkan hidup pada sound horeg—kebanggaan masyarakat Jawa Timur.
Penulis: Elvaretta Rahma Devina
Fotografer: Elvaretta Rahma Devina
