Ada Sesuatu yang Harus Dibicarakan

0
Ilustrator: Nur Istiyanti

Mari, mari mendekat. Jangan berdiri terlalu jauh seperti orang yang takut diterkam.
Kemarilah. Ya, kau juga—kau yang sempat membelalakkan matamu tanpa hasil yang keren.

Hujan baru saja turun. Tanah masih hangat dan aroma daun basah naik pelan ke udara. Malam seperti ini memang paling cocok untuk cerita yang lama disimpan.

Tenang saja. Aku tidak akan bercerita tentang pahlawan atau raja-raja besar. Apa katamu? Kisah romantis ke-dua insan yang saling melengkapi?

Tidak. Kisah ini jauh lebih tua dari mereka semua.

Ya, ya ya kemarilah mendekat, hujan di luar semakin subur, aroma kayu basah semakin meruak dari sini.

Kalian mungkin pernah datang kepadanya dengan ember, dengan pipa, dengan doa, atau dengan tiket di tangan.

Tapi kalian tidak pernah benar-benar mendengar ceritanya.

Padahal sejak dulu
Akulah yang menyaksikan semuanya.

***

Desa Amarta, 20 november 1978

Barangkali aku salah tapi waktu menyuruhku untuk melupakan segalanya. Pagi itu matahari mengeringkan tubuhku yang kehujanan semalaman. Hangatnya merayap dari kulitku sampai ke kuku-kuku ku yang terbenam dalam tanah. Di sebelahku, teman lama bericak pelan, memohon supaya aku tetap mendengarkan nyanyiannya yang kecil. Angin pada pagi itu pun tidak mau kalah untuk mengeringkan apa pun yang bisa dilewatinya, rumput-rumput serentak bersenandung riang mengikuti tarian si angin.

Semuanya berjalan seperti biasa, hampir terlalu biasa malah—aku memejamkan mata menikmati suasana yang berpihak kepadaku pagi itu.

Aku sudah berdiri di tanah ini lebih lama daripada kebanyakan manusia yang pernah datang dan pergi dari desa ini. Aku melihat musim berubah, anak-anak tumbuh menjadi orang tua, dan ladang-ladang berganti wajah.

Namun hari itu berbeda.

Di hadapanku duduk pemuda itu. Rambutnya berwarna hitam. Sudah hampir botak melompong sebetulnya. Tapi orang-orang seperti dia memang kebanyakan seperti itu. Barangkali hatinya juga botak melompong. Siapa tahu? Aku tidak suka dengan penampilannya, mengingatkanku pada kenangan buruk, meski kuakui warna seragam yang dikenainya cocok sekali dengan rambutku.

Ia tidak sendirian.

Tanah mulai bergetar pelan. Getaran kecil yang merambat melalui kuku-kuku ku—tanda yang sudah terlalu sering kukenal.

Langkah-langkah manusia.

Satu, dua, lalu lebih banyak lagi.

Mereka muncul dari sela pepohonan dengan suara yang selalu terlalu keras untuk hutan yang sebenarnya tidak pernah meminta keramaian. Tawa mereka patah-patah, bercampur bunyi logam yang saling bersentuhan.

Aku membuka mataku sedikit lebih lebar. Di tangan mereka ada sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Kecil-kecil. Kurus. Masih terlalu muda untuk memahami dunia.

Mula-mula hanya beberapa manusia dengan cangkul dan sepatu berat yang membuat tanah bergetar setiap kali mereka melangkah. Lalu di belakang mereka, datanglah gerombolan kecil yang asing bagiku—anak-anak pinus yang kurus dan masih terlalu muda untuk mengenal dunia.

Mereka ditanam berjejer, rapat seperti barisan tentara kecil yang belum tahu untuk apa mereka dilahirkan. Aku ingat bagaimana mereka menggigil ketika angin pertama menyentuh daun-daun muda mereka. Mereka bahkan belum sempat belajar berbicara dengan matahari. Namun manusia tampak puas melihat mereka tumbuh.

Sampai suatu hari, ketika usia mereka baru saja cukup untuk menyapa langit, pemuda itu kembali datang dengan alat-alat yang lebih tajam. Dan satu per satu, teman-teman kecilku itu diangkat dari tanah. Aku tidak pernah benar-benar mengerti ke mana mereka pergi.

Manusia selalu punya alasan yang tidak pernah mereka ceritakan kepada pohon tua sepertiku.

***

Desa Amarta, 7 Mei 1989

Barangkali aku salah tapi waktu menyuruhku untuk melupakan segalanya. Pagi-pagi seperti ini biasanya aku mencoba menurutinya. Matahari masih malu-malu muncul dari balik punggung bukit, dan kabut tipis menggantung rendah di antara batang-batang kami yang tua. Hutan kembali tenang seperti luka yang mulai mengering. Di sampingku, teman lamaku masih bernyanyi seperti biasa.

Air kecil itu telah menemaniku lebih lama daripada kebanyakan manusia yang mengaku mengenal tanah ini. Dari perut bumi ia muncul tanpa pernah bertanya kepada siapa ia harus memberi. Ia hanya berlari—ke kuku-kuku kami, ke lumut, hingga ke kaki-kaki manusia yang datang membawa ember.

Dulu mereka datang dengan langkah ringan. Perempuan-perempuan desa akan duduk di batu besar di dekatnya, berbicara tentang panen dan anak-anak yang mulai belajar berjalan. Anak-anak kecil sering bermain terlalu dekat dengan arusnya, membuat percikan kecil yang membuatnya tertawa dalam bahasanya sendiri.

Aku selalu menyukai hari-hari itu.

Namun manusia jarang membiarkan sesuatu tetap sederhana.

Suatu pagi aku melihat sesuatu yang aneh menjulur dari tubuh mata air itu. Benda panjang yang kaku, dingin seperti logam. Ia menempel di tubuh air seperti akar yang tidak pernah meminta izin pada bumi.

Manusia tampak puas melihatnya.

Mereka memeriksa alirannya, berbicara dengan suara serius, seolah-olah air itu baru saja ditemukan hari itu juga. Padahal ia sudah bernyanyi di sini jauh sebelum mereka tahu cara menamai tempat ini.

Teman lamaku masih mengalir seperti biasa.

Ia tetap memberi kepada tanah, kepada kuku-kuku kami, kepada siapa pun yang datang membawa wadah kosong. Hanya saja—sekarang sebagian dari dirinya menghilang ke arah yang tidak lagi kukenal.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, nyanyiannya terdengar sedikit berbeda.

Seperti seseorang yang dipaksa berbicara melalui mulut yang bukan miliknya.

***

Desa Amarta, 18 Agustus 2018

Barangkali aku salah, tapi waktu masih saja menyuruhku melupakan. Namun beberapa hal tidak pernah benar-benar mau pergi dari ingatan.

Pagi itu hutan terasa lebih ramai daripada biasanya. Bukan oleh suara burung atau angin yang bermain di pucuk-pucuk daun, melainkan oleh langkah manusia yang datang dengan suara terlalu percaya diri.

Mereka membawa papan-papan, tali-tali, dan sesuatu yang baru bagiku

Pagar.

Pagar itu berdiri kaku di sekitar tempat rumah kami.

Di sekitar mata air.

Teman lamaku masih mengalir seperti biasa. Ia tetap bernyanyi pelan seperti yang selalu dilakukannya sejak dulu. Namun kini manusia berdiri di dekatnya dengan wajah-wajah serius, mengawasi siapa yang boleh mendekat dan siapa yang harus menunggu.

Aku melihat sesuatu yang lebih aneh lagi.

Orang-orang desa tidak lagi datang dengan langkah ringan seperti dulu. Mereka datang pelan-pelan. Kadang saat matahari hampir tenggelam, kadang ketika malam sudah cukup gelap untuk menyembunyikan wajah mereka. Ember mereka dibawa dekat ke tubuh, seperti seseorang yang takut terlihat membawa pulang sesuatu yang bukan miliknya.

Padahal aku ingat betul hari-hari ketika anak-anak bermain air di sana tanpa pernah bertanya kepada siapa pun.

Kini mereka hanya mengambil sedikit.

Cepat.

Lalu pergi.

Seolah-olah tanah menjadi tempat yang harus mereka lalui dengan hati-hati.

Aku sudah berdiri di sini jauh sebelum pagar-pagar itu muncul. Sebelum manusia belajar menaruh batas pada sesuatu yang bahkan tidak pernah meminta untuk dimiliki.

Teman lamaku masih mengalir.

Aku masih berdiri.

Aku sudah berdiri di sini lebih lama dari mereka semua.
Namun hari ini, bahkan tanah tempat kuku ku tumbuh terasa seperti bukan milikku lagi.

Penulis: Unaisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.