BAWA KAMI KEMBALI KE 2010

Malang.
Tanah yang kami pijak seakan berkawan erat dengan luka yang kami pikul. Kota ini, yang dulu bernyanyi riang di tiap sudutnya, kini sunyi—seperti dada kami yang penuh retakan. Dualisme yang diwariskan dari tahun ke tahun, bercampur kelamnya malam Kanjuruhan, membentuk luka yang tak mudah pulih. Tragedi itu seolah menghapus jejak 2010 yang dulu begitu hangat, begitu hidup.
Banyak yang hilang sejak saat itu. Arema, yang kami jaga dalam doa dan amarah. Teman-teman yang dulu berseru di tribun kini bungkam atau pergi hanya karena berbeda keyakinan. Sejak tragedi, sebagian memilih hidup tanpa sepak bola, bahkan membencinya. Tapi seharusnya kemarahan diarahkan kepada mereka yang menginjak-injak ruhnya, bukan kepada lapangan dan bola.
Sebab sepak bola itu abadi. Ia tumbuh dari tanah, bukan dari nama besar. Ia hidup di suara anak kecil yang menendang bola di gang sempit dan di semangat buruh yang bermain usai lelah bekerja. Kami percaya, dengan atau tanpa Arema, kami masih bisa mencintai sepak bola di tempat yang lebih jujur dan lebih tulus.
Namun hari ini, kami, Arek Malang, dipaksa membungkuk. Dituduh tak berperasaan. Kami, penyintas luka Kanjuruhan, justru dianggap noda oleh mereka yang tak tahu rasanya berdiri di tengah gas air mata. Apapun yang kami lakukan hari ini dianggap salah. Teriakan kami dianggap kebisingan. Kesedihan kami dianggap pura-pura. Bahkan saat kami ingin mencintai sepak bola lagi, kami disumpahi. Seakan duka hanya boleh ditafsir oleh mereka, dan kami hanya wayang yang harus diam.
Tapi roda harus berputar. Meski tertunduk, kami tetap melangkah. Meski dihujat, kami tak akan pergi. Ini tanah kami. Ini luka kami. Ini hidup kami.
Dan untuk kalian yang kini memilih menjauh, yang merasa Arema sudah mati, maafkan kami yang masih terikat pada janji. Kami memang bukan yang paling cerdas, tetapi kami tak pernah lari. Karena kami percaya, malam paling gelap pun akan bertemu pagi, dan cahaya akan menyapa lagi.
Saat ini, satu-satunya harapan yang masih kami genggam adalah persatuan Arek Malang yang telah lama terpecah. Kami sadar persatuan itu tidak akan pernah sepenuhnya menyembuhkan luka dan trauma yang kami rasakan. Namun setidaknya, kita yang masih bertahan dapat kembali berjalan bersama, saling menguatkan, dan menghadapi hari-hari yang akan datang dengan lebih tegar. Semoga mereka yang telah pergi tanpa sempat mendapatkan keadilan dapat tersenyum melihat keluarga yang ditinggalkan kembali bersatu, saling merangkul, dan hidup rukun seperti yang seharusnya.
Kami tidak sedang bersikap egois ataupun kehilangan empati. Kami hanya menyadari bahwa hidup harus terus berjalan. Tugas kita adalah melanjutkan perjuangan, menjaga kenangan mereka, dan terus belajar menjadi manusia yang lebih baik. Semoga saja Singa Bertindik itu segera kembali dan kita menjadi satu lagi.
(Kutipan Zine Kanjuruhan, 2024)
Mengapa Singa Bertindik
Hari-hari di timeline ramai sekali dengan Aremania yang meminta penggunaan logo Singa Bertindik kembali. Lantas mengapa harus Singa Bertindik? Padahal Singa Mengepal juga memiliki sejarah yang tidak kalah penting. Singa Mengepal adalah logo pertama kali saat PS Arema terbentuk.
Mungkin jika boleh menjawab dari sudut pandang kami tanpa mewakili seluruh Aremania yang ada, alasannya adalah karena Singa Bertindik merupakan logo terakhir saat kami masih bersama-sama. Logo ini menemani perjalanan Arema ke tempat paling tinggi, yaitu menjuarai ISL 2010. Di dalam logo ini tersimpan kenangan kebersamaan terakhir, dan sepertinya banyak Aremania yang merasa terhubung dengannya.
Lebih dari sekadar logo atau desain, simbol ini menyimpan cerita, kenangan, dan hubungan yang terjalin di dalamnya. Kembalinya Singa Bertindik merupakan usaha untuk menyambung kembali ikatan yang telah lama terputus sekaligus membuka lembaran perjalanan baru, bukan semata-mata nostalgia masa lalu.
Setelah Kembali Nanti
Akhirnya, setelah lebih dari 15 tahun menunggu, perlahan kita mulai melihat apa yang selama ini dicari. Mungkin belum sepenuhnya selesai, mungkin juga belum seluruh harapan terwujud. Namun setidaknya, jalan itu kini mulai terlihat. Arema yang hanya ada satu di Malang Raya. Logo Singa Bertindik yang kembali mendapatkan tempatnya. Dan semoga, mandat yang selama ini menjadi bagian dari sejarah Arema juga tetap diperjuangkan oleh mereka yang peduli terhadap masa depannya.
Hari-hari ini ada sesuatu yang terasa berbeda. Nawak-nawak yang selama bertahun-tahun memilih diam mulai kembali berbicara tentang Arema. Mereka yang menjauh mulai kembali menoleh. Bahkan ada yang sudah mulai membayangkan kembali berdiri di tribun, menyanyikan lagu yang pernah begitu akrab di telinga. Tak sedikit pula yang menyebut momen ini sebagai Riyoyone Arek Malang.
Menjelang Riyoyone Arek Malang
Mungkin penyebutan itu memang tidak berlebihan. Sebab setelah lebih dari 15 tahun menunggu, rasanya seperti menjalani puasa yang sangat panjang: menahan rindu, menahan kecewa, menahan amarah, sekaligus menjaga harapan agar tidak benar-benar padam. Dan seperti kata orang-orang tua kita, “Onok poso, mesti onok riyoyo.”
Namun sebelum hari itu benar-benar datang, ada satu hal yang semoga tidak kita lupakan. Dalam setiap kebahagiaan, selalu ada nama-nama yang seharusnya ikut merasakannya, tetapi tak lagi memiliki kesempatan untuk hadir bersama kita. Empat tahun lalu, kita kehilangan 135 saudara kita dalam Tragedi Kanjuruhan. Mereka berangkat dengan harapan yang sama seperti kita: mendukung dan mencintai Arema. Namun mereka tidak pernah sempat pulang seperti yang direncanakan.
Karena itu, menjelang hari yang mungkin akan menjadi salah satu momen penting bagi banyak Aremania ini, sempatkanlah sejenak untuk mengingat mereka. Datanglah ke makam mereka jika memungkinkan. Kirimkan doa-doa terbaik. Atau sekadar berkunjung ke Stadion Kanjuruhan, khususnya Gate 13, tempat yang kini menjadi pengingat bahwa cinta kepada Arema juga pernah dibayar dengan kehilangan yang begitu besar.
Tak perlu membawa apa-apa. Cukup hadir, diam sejenak, mengirim doa, dan mengingat bahwa ada banyak pelajaran yang ditinggalkan oleh mereka yang telah pergi. Karena sesungguhnya, kita yang masih diberi kesempatan hidup memiliki tanggung jawab untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin.
Menjelang hari kemenangan ini pula, sudah sepatutnya kita meninggalkan sifat-sifat buruk yang selama ini membebani perjalanan kita. Tidak perlu membawa dendam. Tidak perlu merasa lebih tinggi dari yang lain. Sebab kemenangan yang paling indah adalah ketika kita mampu kembali dengan hati yang lebih lapang.
Mari rayakan hari itu dengan penuh kebahagiaan, tetapi tetap dengan kerendahan hati. Hormati mereka yang memilih merayakan. Hormati pula mereka yang memilih diam. Jangan memaksa siapapun untuk memiliki keyakinan yang sama dengan kita, karena setiap orang memiliki perjalanan dan luka yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, hari itu mungkin menjadi hari kemenangan. Namun bagi sebagian yang lain, hari itu bisa menjadi pengingat tentang seseorang yang sudah tidak ada lagi di samping mereka. Karena itu, jangan tinggalkan mereka sendirian dalam kenangan mereka.
Jika hari yang kita tunggu benar-benar tiba, mari rayakan dengan cara yang membuat para pendahulu kita bangga. Tunjukkan kembali bahwa Aremania adalah keluarga besar yang menjunjung moral, etika, dan rasa hormat kepada sesama. Mungkin akan ada konvoi. Mungkin akan ada lautan biru yang kembali memenuhi jalan-jalan kota. Tetapi ingatlah bahwa jalan raya juga milik masyarakat yang sedang bekerja, mencari nafkah, dan menjalani aktivitasnya. Berilah ruang bagi mereka. Patuhi aturan lalu lintas. Hindari hal-hal yang justru mencederai makna kebahagiaan itu sendiri. Dan bila mampu, bagikan sedikit kebahagiaan kepada mereka yang tetap bekerja di jalan pada hari itu.
Sebab setelah semua penantian yang panjang, setelah semua perpecahan, kehilangan, air mata, dan luka yang pernah kita lalui, kemenangan yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang paling benar atau siapa yang akhirnya menang. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika kita dapat kembali bersama, tetap mengenang mereka yang telah pergi, merangkul mereka yang masih terluka, serta menjaga kemanusiaan yang selama ini menjadi alasan mengapa Arema begitu dicintai. Karena pada akhirnya, keistimewaan Arema tak hanya lahir dari sepak bolanya. Orang-orang yang terus menjaga nilai, kenangan, dan persaudaraan di dalamnya juga turut membuatnya berarti.
Setelah keinginan kita terwujud, itu bukan sebuah akhir perjalanan. Itu adalah awal kita untuk melangkah ke depan. Lantas, kita sebagai suporter mau berjalan ke arah mana nanti? Mau menjadi seperti apa? Apakah simbol yang kita inginkan selama ini benar-benar sudah bisa menyatukan kita? Apa arti satu bagi kalian?
Generasi Lama dan Generasi Baru: Apa Sudah Menyatukan?
Sejatinya kita tidak pernah benar-benar sama. Namun jika kita sudah memilih dan mengucapkan Arema sebagai simbol pemersatu, berarti kita juga sudah siap berdiri di tengah banyaknya perbedaan. Kita harus siap mendengar bahasa yang berbeda, melihat warna yang berbeda, dan berbagi tempat dengan mereka yang memiliki pemikiran berbeda.
Jika memang nanti kita bisa kembali, kita semua akan saling bertemu. Kita tahu bahwa Aremania hari ini bukan hanya identik dengan warna biru dan kultur mania. Ada yang mengenakan pakaian hitam ala ultras, ada juga yang berpakaian kasual dengan chants berbahasa Inggris. Pertanyaannya, apakah kita siap untuk saling menerima perbedaan itu?
Apakah loyalitas dihitung dari lamanya seseorang mendukung? Apakah generasi baru harus selalu mengikuti tradisi generasi lama? Menurut pandangan kami, ketika kita sama-sama memilih Arema sebagai simbol pemersatu, tidak perlu lagi memperdebatkan antara nostalgia dan masa depan. Semua orang bebas menjadi dirinya sendiri: menjadi mania, ultras, casual, atau bahkan sekadar tertidur hingga pertandingan berakhir.
Arema adalah rumah yang seharusnya tidak membeda-bedakan siapapun yang ada di dalamnya. Jika pada akhirnya kita masih memaksakan keseragaman, lalu untuk apa selama ini kita memperjuangkan simbol pemersatu tersebut? Karena simbol pemersatu berarti di dalamnya terdapat beragam perbedaan yang hidup berdampingan.
Menjaga yang Sudah Kembali
Ketika semuanya kembali, pekerjaan kita belum selesai. Justru saat itulah tanggung jawab yang sebenarnya dimulai: menjaga. Menjaga selalu lebih sulit daripada meraih. Sebab yang harus dijaga mencakup lebih dari sekadar nama. Ia terdapat nilai-nilai yang telah dibangun dan diwariskan selama bertahun-tahun. Moral, sikap, dan cara kita memandang sesama adalah bagian dari warisan yang harus terus dirawat.
Menjadi Aremania tidak hanya tentang hadir di stadion. Waktu kita di tribun mungkin hanya beberapa jam, tetapi identitas itu melekat jauh lebih lama di jalanan, di lingkungan sekitar, dan di ruang-ruang percakapan media sosial.
Di stadion, kita dapat menunjukkan bahwa dukungan dapat diwujudkan melalui nyanyian, kreativitas, dan semangat kebersamaan yang bermakna, tanpa harus berlandaskan kebencian. Di luar stadion, kita bisa menjadi bagian dari masyarakat yang membawa ketenangan, bukan kekhawatiran. Kehadiran kita seharusnya meninggalkan kesan melalui sikap yang baik dan membawa ketenangan bagi orang-orang di sekitar.
Dan di media sosial, tempat banyak orang menilai siapa kita, setiap kata yang ditulis membawa konsekuensi. Tidak semua hal harus ditanggapi, tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Terkadang, menjaga marwah lebih penting daripada memenangkan perdebatan. Karena pada akhirnya, nama besar Aremania tidak dijaga oleh satu orang atau satu kelompok. Ia dijaga dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan bersama.
Penutup
Terakhir, kami ucapkan terima kasih untuk semua yang sudah berjuang mengembalikan Arema seperti dulu lagi. Terima kasih kepada semua yang telah berusaha menjaga nama besar Arema. Mohon maaf jika tulisan ini berbeda dengan pemikiran kalian. Tulisan ini murni pemikiran penulis tanpa mewakili siapa pun.
Satu harapan kecil kami jika keinginan kita sudah terwujud: mari sesekali kita mulai dari halaman Kanjuruhan, tempat kita terakhir kali bersama. Mungkin dari sana saudara-saudara kita yang telah pergi dapat tersenyum melihat kita kembali pulang dalam ikatan keluarga, tanpa lagi saling memandang sebagai musuh.
Karena apapun yang terjadi, Kanjuruhan adalah rumah. Dan rumah ini akan selamanya menjadi milik kita. Tetap menjadi Aremania yang menjunjung tinggi attitude dan memiliki harga diri.
Al-Fatihah untuk 135+ korban Tragedi Kanjuruhan dan semua yang telah lebih dahulu berpulang.
Salam Satu Jiwa, AREMA!
Penulis: Ruludesarema (kontribusi pembaca)
Catatan: Tulisan ini pernah diterbitkan di medium Rulusardema
