KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: HAMPIR

Perihal Catatan Vas
Sering kita hias
Sering juga kita retak
Aneh, vas tanah liat kita bermacam motif
Bunga tertimbun adonan baru
Goresan terlukis gugus bintang
Tampilan selalu baru tapi bukan wujud
Usapan kita terus membentuknya
Menambal, memoles, melukis
Di tiap kehampiran lebur
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Hampir Selanjutnya
Kadang kita hampir.
Tapi, jarak lebih kejam.
Darat lebih jauh,
laut lebih ganas.
Dan kita kembali dalam penjara
yang kita bangun sendiri.
Saat kita hampir,
kadang kita gembira,
kadang kita diam.
Hampir mencapai atau gagal.
Hampir selesai atau kalah.
Sudah sepersekian kali.
Hampir-hampir itu,
menyiksa kita,
hati kita.
Inikah hampir selanjutnya?
Karena aku tak tahan.
Kenapa belum tergapai?
Sayang,
kenapa masih ‘hampir’ ya?
Kenapa belum menang ya?
Akankah kita hampir kalah lagi?
Penulis: Nur Istiyanti
Saya, akan, Lawan!
Pintanya, kau ikuti
Tanpa sadar, dirinya adalah
bisikan setan
hasutan memelas
Menadah rasa kasih
Inilah cinta, katanya
Nyatanya, dimamah
habis tubuhmu
tawaran penolong
Gelincir dosa
Hangat, peluknya
Sorenya, mata kecilmu
tersedu menangis kencang
nyaris tersesat
Kubangan maksiat
Kepada, nurani
Catatan: jangan dekat
dengan kemungkaran
juang lawan
Kendali atas nafsumu
Selamat berjihad (lagi)
Penulis: Khoiriyah Balqis
Sangat Dekat
Waktu terus berlalu
Berhenti sejenak, lalu terus melaju
Bunga bersemi di halaman
Dirawat dan disiram dengan kasih sayang
Pada suatu waktu, tiba-tiba ia membatu
Tak lagi terurai indah seperti dulu
Heran, tak sadar sang bunga jadi korban
Dari air yang tak pernah tertakar
Sejenak ia hampir saja mekar
Namun pupus dalam luapan kasih sayang
Penulis: Mochammad Zaidan Chanif Alharis
Katarsis, Katalis
dua jalan rima, yang terpotong-potong; terfragmentasi—membikin tubuhmu koyak. sisa mesin-mesin lestari.
tergerak satu cabang: menjalar. hampir menafikan segala apa yang tercantum sebagai takdir.
di dalam lanskap—jam dinding mengalun; menuntut cepat, lambat lamat, lari di dalam diri. membuat lumpuh gerakan rimpang yang terkujur sebadan-badan di resonansi kabar buruk.
“jawah melunturkan gerak-gerik usahamu,” kata angin di seberang jurang kekalahan.
lalu mesin-mesin merangkak naik dan mempercepat langkah sambil berharap sayap tumbuh dalam rongga kampas remnya: tak peduli.
ia melonglong ke atas:
“tapi rima berjanji menuntun kita sampai meregang nyawa,” ucapnya sambil mempercepat kejatuhan yang tak sebetulnya ia canangkan.
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Meh
Uripku tak setegak gedebok pisang
Diri hanyalah jala yang merangkap cerita kasih kerinduan
Tapi sesekali kuingin menjadi engkau..,
Bukan,
Gedebok pisang
Biar seutas terang kuyakin bahwa diriku ada
Sederhana saja
Aku tak mau mati dibayang malam
Dan siang mendekat membawa kabur
Kembali hidup…, niscaya
Dia tahu
Waktu lincah-lincah yang menderu kebisingan
Aku memimpikan kemerdekaan gedebok pisang
Tapi tak mungkin,
Dia selalu ada
Sekali saja, aku hanya ingin merasakan sekali saja
Biar rasa ini selalu nyata
Gedebok pisang itu jahat
Meh-ae
(hampir saja)
Penulis: Fudhail Najmudin Al Muzaki
Alang-Kepalang, Kenyang
Alang-kepalang..
Rasanya menjadi betah pada lantai kota asing
Sebab indra pencecapku rewel nan cengeng
Andai lidahku tak diculik: oleh
Serat daging yang kau pikul hingga pipih
…(dendeng)
Dan bumbu manis yang meresap pelan ke dalam tempe
(bacem)…
Aku pergi, jauh, bersama ambisi.
Tapi pulang dan runtuh, sebab semangkuk rindu akan nasi.
Yang resepnya tak mampu kutiru
Sebagaimana minyak yang meletup di wajanmu,
Bu.
Penulis: Aulia Hasti Zalika R.
