KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: LANGKAH

0
Path in the Park karya Vincent van Gogh

Setapak Panduan

Eksis dalam untaian kisah
berdalih atas segala maknanya
menciptakan langkah
yang merangkai tiap paragraf cerita;

“Langkah besar”
itu yang selalu dikoar-koarkan dalam antologi motivasional
“Langkah terjal”
itu yang selalu diberitakan dalam runut petunjuk pendakian
di antara teman perjalanan
Tergelincir, adalah pasangan yang setia

Setiap tapak adalah taruhan,
setiap jejak adalah saksi,
setiap pijakan adalah keputusan yang tak pernah kembali.

Namun terlepas dari segala, ini bukan sekedar tamasya

banyak yang berujar: “Hidup bukanlah perlombaan.”
namun kita tahu; “tertinggal” adalah suatu hal yang patut diperhatikan

Penulis: Mochammad Zaidan Chanif A.

Lumut

Langkahku terlambat—

hingga waktu lebih dulu

menutup pintu.

Lumut lebih setia
daripada aku;
ia tak pernah ragu
memeluk sepi.

Kita menamai jarak.


Aku menamai diam.

agar hati
tak perlu mengaku,
agar musim
tak lekas berlalu.

Kutemukan
matahari/ti lain—

namun jejakmu
lebih dulu pulang,
membawa seluruh musim
yang kukira telah gugur.

Kupijak dua jalan.

Yang karam
bukan aku.

Melainkan musim
di matamu,

yang tak sempat mekar—
lalu gugur
sebelum sempat
belajar menjadi bunga

Penulis: Ahmad Reza Uzfalusi

Sejejak, Dua Jejak

Sejejak, dua jejak.
Kakiku tetap pindah.
Tidak tahu akan sampai.
Karena waktu menolak mundur.
Dan aku menolak mundur.
Dan ini demi ketidakpastian.
Bukan pantang mundur.
Aku mencintaimu,
sebanyak sejejak, dua jejak, setiap hari.

Sejejak, dua jejak.
Apa kita berjalan ke depan?
Apa langkah kita sama?
Apakah kita beriringan?
ㅤㅤㅤKeㅤㅤ ti ㅤㅤdak ㅤㅤpasㅤㅤ ti ㅤㅤan.

“Maka kau mencintai ketidakpastian?”
Tidak boleh?
Nasib yang tidak pasti itu?
Cinta yang tidak pasti itu?
Tuhan yang belum pasti wujud dan keberadaan-Nya itu?

Aku mencintai kefanaan.
Sejejak, dua jejak.
Setiap hari.
Karena aku pun tak pasti.
Tak pasti mencintai yang tak pasti,
Sebagaimana aku mencintaimu,
dengan langkahmu yang berbeda,
yang terkadang tak sama,
dan tak beriringan.

Penulis: Nur Istiyanti

Sudahlah, Jangan Bahas Hujan di Bulan Apapun

Ah, surya dan bumi dan lunar
Oh, revolusi dan rotasi dan orbit rembulan

Hingga kala apa aku… menunggumu?
Abad. Dasawarsa. Lustrum,
ataukah–?
Tahun, Semester, dan bulan-bulan apapun

cukup, ya.

Penat dengan tanyaku ‘Kapan?’
Nanti ya, kalau ga hujan’–lembutnya…

Hujan, Oh hujan
Langit, Eh langit
a-aku tak mampu mengaturnya.

Maka,
tanpa jam, menit, detik
(maksudku,) sekarang!

Melangkahlah bersamaku,
tanpa tempo terlarut-larut lagi-lagi-lagi.
Makanlah, siklus!
Datang eraku, bersamanya

Penulis: Khoiriyah Balqis

Mari, Pulang

Tahukah bahwa,
Ortografi sebuah kaki
Tak selalu menuju hari esok?

[Kompas] dalam lututku 
Menunjuk arah selatan: ke belakang, ke rahim ibu.

Apakah melangkah mundur adalah sebuah dosa,
Jika tanah di depanmu hanyalah tebing yang berpura-pura menjadi rata?

Langkah ituㅤ  menㅤ jaㅤ uh 
Langkah iniㅤ ㅤ me ㅤ luㅤ pa
Langkah kita ㅤ ㅤ meㅤ nyeㅤ rah
Pada akhirnya, langkahkuㅤ puㅤ lang.

Maka biarkan,
Kakiku jatuh tepat 
Di titik (.) 
Di mana
Semuanya
Bermula. 

Penulis: Aulia Hasti Zalika R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.