Ilustrator: Aura Bella Ranai Putri

Lampu neon pada sudut remang kelab ini mulai menguliti topeng-topeng yang membusuk di dalamnya, melelang sisa-sisa jiwa kepada gelas-gelas kaca. Aku berdiri di sana, mengamati sesosok wanita dibungkus gaun merah marun—sebut saja Merah—sibuk berbincang dengan bayangannya pada cermin toilet. Pantulan itu terlihat seperti mangsa empuk bagi para serigala dengan jas rapi yang kerap mengintai meja VIP.

Seekor serigala benar-benar mendekat dan membisikkan rayuan mesum pada telinganya. Merah hanya membalasnya dengan jemari sedingin es. Tubuhnya mendadak menyusut, mengempis, meninggalkan tumpukan pakaian mahal dan genangan cairan hitam. Kekacauan itu menghibur bagi Merah. Ia kembali melihat dirinya yang semakin bersinar pada cermin, sebelum pantulan itu perlahan menghitam, dipenuhi wajah-wajah distorsi dari para lelaki yang egonya baru saja ia “telan”.  

Saat jam dinding berdentang tiga kali, bangunan itu dipenuhi kehebohan. Sebab serigala yang tersisa mendadak kehilangan fungsi bahasa. Mereka melenguh, merangkak, dan saling mengendus tumpukan baju rekan mereka yang telah lenyap. Aku tersentak saat menghirup aroma tanah basah dipadu wangi melati yang begitu menyengat. Sebelum menyadari kehadiran jemari Merah pada pundakku, membiarkanku merasakan rahasianya mengalir langsung dalam nadiku. Aku tidak menjerit ketakutan saat tulang-tulang rusukku mulai melunak dan meleleh. Ada ekstase aneh ketika menyadari bahwa ego maskulinitas yang selama ini membebaniku akhirnya runtuh. Pandanganku perlahan menghitam, membentuk pemandangan Merah yang tengah merapikan kembali gincu pada bibirnya. Merah, merona. 

Penulis: Aulia Hasti Zalika R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.