PANGKU: KETIKA KEMISKINAN MEMPERSEMPIT PILIHAN

Ada film yang selesai ditonton lama kelamaan akan hilang dari ingatan. Ada juga film yang selesai ditonton meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Pangku, karya Reza Rahadian termasuk kategori kedua.
Saat mendengar istilah “Kopi Pangku” beberapa orang langsung terbayang dunia hiburan malam yang identik dengan citra buruk. Banyak orang yang cepat-cepat memberikan penilaian moral tanpa benar-benar memahami bagaimana lingkungan itu terbentuk dan siapa saja yang tinggal di dalamnya. Tapi film Pangku tidak bergerak ke arah tersebut. Film ini tidak mengajak penonton untuk menghakimi. Sebaliknya, film ini membuat kita dekat dengan kehidupan para tokoh yang penuh stereotip dalam percakapan masyarakat.
Melalui karakter Sartika, kita mengikuti kisah ibu yang sedang berjuang untuk bertahan hidup. Film dengan jalan cerita yang mudah dipahami ini terlihat sangat dekat dengan kita. Sartika bukan karakter yang terjun ke dunia malam karena keinginan pribadi. Di tengah kebutuhannya untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan menjaga keluarganya, ia harus menghadapi fakta bahwa tidak semua orang memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidup yang sempurna. Pada titik inilah film ini menunjukkan bahwa beberapa pilihan yang diambil bukan muncul dari kebebasan untuk memilih, tetapi karena kebutuhan untuk bertahan hidup dalam situasi yang tidak memberikan banyak pilihan.
Pangku membahas sesuatu yang lebih besar dari dunia malam. Film ini berbicara tentang kemiskinan.
Kemiskinan sering dipahami sebatas kurangnya pendapatan. Padahal dampaknya jauh lebih besar, kemiskinan mengurangi akses pendidikan, memperkecil lapangan pekerjaan, membatasi pergerakan sosial, bahkan membuat orang sulit menentukan masa depannya sendiri. Saat hidup dalam keadaan kekurangan, pilihan yang tersedia semakin sempit, yang tersisa hanyalah pilihan-pilihan yang sulit. Di banyak adegan, penonton dapat melihat bagaimana ekonomi memegang peran besar selama film berjalan. Kita melihat rutinitas sehari-hari yang melelahkan dan selalu sama, sesuatu yang mungkin mirip dengan pengalaman kehidupan banyak orang.
Di sinilah kekuatan utama film Pangku. Film ini berhasil menggambarkan bahwa masalah prostitusi tidak dapat dipisahkan dari masalah ekonomi. Saat sulit mendapatkan pekerjaan formal untuk mendapatkan uang, muncul berbagai pekerjaan informal sebagai cara bertahan hidup. Sebagian pekerjaan tersebut berada di ranah abu-abu, termasuk praktik kopi pangku yang menjadi latar utama film ini.
Fenomena seperti ini banyak ditemukan di Indonesia. Di Jawa Timur, misalnya, orang-orang tahu beberapa tempat yang kerap dikaitkan dengan aktivitas prostitusi terselubung. Di Malang, Kopi Cetol sering dibicarakan oleh warga saat mereka membahas tempat-tempat seperti itu. Keberadaan lokasi-lokasi itu sering menjadi topik perdebatan di masyarakat. Namun yang menarik, pembahasannya hanya seputar pada masalah moral. Orang-orang sibuk menilai benar atau salah, tetapi jarang mendiskusikan penyebab utama yang membuat ruang-ruang seperti itu terus ada.
Pangku tidak langsung mengalihkan perhatian dari pembahasan tersebut. Film ini memperlihatkan pada penonton aspek yang sering diabaikan, yaitu kondisi sosial dan ekonomi yang mendasarinya. Mengapa selalu ada perempuan yang bekerja di tempat seperti itu? Mengapa praktik tersebut tetap bertahan meski ditentang habis-habisan? Mengapa ada orang yang tetap memilih pekerjaan dengan stigma negatif?
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak semudah masalah moral. Ada beberapa faktor yang saling berhubungan, seperti kemiskinan, kurangnya pendidikan, sedikitnya kesempatan kerja, ketidakmerataan pembangunan, dan lemahnya perlindungan sosial. Menariknya, Reza Rahadian tidak pernah menjelaskan semuanya dengan kata-kata. Dia tidak menyertakan dialog yang panjang yang menjelaskan teori kemiskinan atau ketidakadilan sosial. Sebaliknya, ia membiarkan gambar berbicara.
Kamera bergerak tenang menyoroti kehidupan para tokohnya. Rumah-rumah yang biasa, jalan Pantura yang ramai, kedai-kedai kecil, pakaian yang terlihat usang, hingga keringat yang terus menempel di wajah dan tubuh para karakter. Detail-detail kecil itu membuat suasana sangat hidup dan terasa nyata. Penonton tidak hanya menyaksikan kehidupan para tokoh, tapi ikut merasakan betapa sulitnya kehidupan yang mereka jalani.
Suasana kehidupan malam di film ini jauh dari kata glamour yang biasa kita lihat di acara populer. Dunia malam di Pangku terasa panas, pengap, dan melelahkan. Lampu-lampu menyala sampai pagi tidak menunjukkan kemeriahan, tetapi justru tanda dari pekerjaan yang harus dilakukan agar kehidupan bisa terus berjalan.
Hal menariknya, film ini menunjukkan posisi perempuan dalam struktur sosial yang tidak selalu adil. Dalam banyak kondisi, perempuan sering menjadi pihak yang menanggung beban terberat. Mulai dari merawat keluarga, mencari uang, menjaga penampilan, dan juga menghadapi pandangan negatif dari masyarakat. Saat seorang wanita menghadapi kesulitan ekonomi, masyarakat seringkali lebih cepat menilai keputusan hidupnya daripada mencoba memahami alasan di balik keputusan tersebut.
Secara teknis, Pangku menunjukkan betapa seriusnya Reza Rahadian sebagai sutradara. Banyak adegan dibiarkan berjalan tanpa tergesa-gesa. Alur film ini terasa lambat, tapi inilah letak kekuatannya. Penonton diberikan waktu untuk melihat, memahami, dan merasakan kehidupan karakternya. Film ini percaya bahwa kenyataan yang ditampilkan sudah cukup kuat untuk berbicara sendiri.
Setelah film selesai, pertanyaan yang ada tidak lagi mengenai mana yang benar atau salah. Pertanyaan yang lebih penting adalah tentang bagaimana pandangan masyarakat terhadap orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran. Apakah kita benar-benar memahami situasi mereka? Apakah kita cukup adil ketika memberi penilaian? Dan yang paling utama, apakah kita sudah berusaha untuk memperbaiki keadaan yang membuat pilihan-pilihan terbatas itu terus muncul?
Melalui Pangku, Reza Rahadian tidak sedang mencari simpati. Dia hanya membuka jendela yang selama ini jarang dibuka. Di balik dunia yang sering dianggap suram, terdapat orang-orang biasa yang setiap hari berusaha keras untuk bertahan hidup. Dan kadang-kadang, mengerti perjuangan itu jauh lebih penting daripada hanya menghakiminya.
Penulis: Dewi Cantika
