KUMPULAN PUISI PIKSILASI II 2026

Aku Sudah Mati
Jika Tuhan tak sebagaimananya Tuhan,
maka minuman keras itu saja yang ku-Tuhan-kan,
atau sebilah pisau yang mencium nadi.
Aku bercinta dengannya di atas bumi.
Hidup beban, mati pun ingin.
Ah, betapa enak goresan ini.
ㅤㅤㅤ“Betapa enak dirimu.”
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ“Mengapa kau masih hidup, Nona?
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤHargamu murahan.”
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ“Tuhan membencimu.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤNeraka akan menjilatmu.”
Seandainya saja Tuhan buta.
Tuhan Yang Maha Melihat.
Ia tak sebagaimananya Tuhan
Yang Maha Pengasih, Masa Penyayang.
Karena Dia melihatku,
ikut menelanjangiku,
ikut menyiapkan neraka.
Seakan kematianku,
akan siksa dunia-Nya,
membuat-Nya bergumam,
“Kamu adalah makhluk paling hina di muka bumi ini.”
ㅤㅤㅤMaka, sudilah kiranya Ia
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤmelihatku pecah,
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤBerdarah tanpa tobat.
ㅤㅤㅤAku tak menyesal berdosa,
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤkarena ini pun salah-Mu.
ㅤㅤㅤAtas rangkaian takdirku.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤSeharusnya Engkau
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤtak menyesal juga sebagai Tuhan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤKarena pendosa-Mu ini
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤtidak meminta keadilan
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤdan belas kasih lagi.
Aku sudah mati.
Entah untuk menemuimu,
atau menemui neraka-Mu.
Penulis: Nur Istiyanti
Selamat Tidur Dariku
tidak nasi hari itu,
lelah aku merebus badan
sari-sariku telah menumpuk
di badan makhluk mungil
yang kuperanak
menjadi lain diriku
aku tak pandai menggaris
tapi cukup lurus jalanku
dan sebuntal popok itu
kucuil sekali lagi badanku
melahapnya sekejap
kembali ke tubuh
dengan perasaan pahit
dan sedikit asam
hampir aku muntah
setiap hari,
aku menghamba anjing
tapi aku memang
tidak merasa milik Tuhan
seperti—
aku tidak merasa memiliki
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ—N
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤy
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤa
maka, aku cuma segumpal tai
dan mereka suka makan tai
kau akan tahu
mereka pura-pura bergidik
lalu makan begitu rakus
kau akan lihat
di balik perut buncit
itu, telah dipenuhi tai
dan anak-anaknya pun
sedemikian merupa tai.
dan aku pun menang
perihal kejujuran
“oh, nak
kau mendengarnya, ‘kan?
ini pengantar tidurmu hari ini.”
Penulis: Elvaretta Rahma Devina
Catatan Pemakaman tentang Hal-Hal yang Gagal Menjadi Kata
Barangkali malam memang diciptakan
untuk menampung segala yang gagal disampaikan siang.
Ia adalah pelabuhan terakhir
bagi kapal-kapal perasaan
yang karam sebelum mencapai bibir kata
Ia adalah perut semesta
Menelan segala bising, mengunyahnya menjadi sunyi.
Ia tercipta dari abu lidah manusia—
dari kalimat-kalimat yang terbakar hidup-hidup,
sebelum sempat menyentuh udara
Gelap, ditiadakan, dan dimusnahkan
Hati yang tinggal puing,
mimpi yang tersisa kerangka,
serta doa yang patah di tengah perjalanan.
Ia mempersilahkan semua duduk,
di meja yang bernama kehancuran
Menyelimuti raga-raga kosong itu,
dengan kain yang bernama gelap.
Bahkan ketika fajar kembali mengambil alih
Ia pergi tanpa kata,
tanpa pamit,
bak ditelan Sang Kuasa
Penulis: Denyndia Nafisha
Di Balik Sunyi Malam
Jam 2 pagi
Malam senyap sepi
Langit bintang tertutup polusi
Dibalut rintik hujan dini hari
Kafe 24 jam itu tak sepi
Bertebaran bau rokok dan kopi
Waktu di mana manusia insomnia melepas lelah diri
Musik, seperti wahana
Sorak riuh bahagia
Sebenarnya mereka berpura-pura bahagia
Namun, bagi mereka,
Ini surga melepas penatnya dunia
Kota ini belum tidur
Lampu berpura-pura menjadi bintang
Sementara, manusia kehilangan wajahnya
di balik asap dan musik dini hari
Ada yang tertawa di balik musik kafe,
ada yang menangis diam-diam di sudut kamar sempit
ditemani jam dinding dan kopi yang mulai dingin
Saat fajar datang
semua kembali memakai topengnya
Namun malam tahu— siapa yang sebenarnya rapuh
dan siapa yang hanya pandai terlihat kuat.
Penulis: Aura Bella Ranai Putri
