RABRAW BELUM USAI, TEBU MENJERAT: DI BALIK BOBROKNYA KOORDINASI OSPEK FIB

0
image

Sumber: Booklet Teras Budaya 2026

MALANG-KAV.10 Udara dingin menyelimuti Kota Malang seakan menyambut ribuan mahasiswa baru (maba) Universitas Brawijaya (UB). Membawa rasa senang, haru beserta bangga bisa menginjakkan kaki di tanah Brawijaya. Berangkat dari gelapnya malam hingga pulang ketika langit mulai menggelap lagi, dengan semangat ospek demi mencium harum wangi kampus biru. 

Namun, manisnya momen itu menguap seketika pada Senin (10/8). Tepat di tengah jeda istirahat, salat, dan makan (isoma) di Gedung Samanta Krida, layar gawai mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya (FIB) mendadak dipenuhi kabar yang memicu kening berkerut. Booklet panduan Teras Budaya (Tebu) resmi dipublikasikan, lengkap dengan segudang peraturannya. 

Serangan Kebingungan Secara Massal

Kejanggalan langsung menyengat mata pelihatnya. Panduan yang dirilis tiga hari sebelum Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) fakultas itu secara ajaib mencantumkan bahwa pengerjaan tugas sudah dimulai sejak (8/8). Dua hari sebelum booklet itu sendiri sampai ke tangan maba FIB.

Salah satu keganjilan tenggat terlihat jelas pada instruksi penugasan twibbon. “Nah, penugasan twibbon itu, aku baca di guidebook-nya tanggal 8 sampai tanggal sampai tanggal 14, yang mana guidebook tuh turun tanggal 10,” jelas Lila [bukan nama sebenarnya] pada Sabtu (15/8).

Sedangkan bagi Sisil [bukan nama sebenarnya], kejutan dari unggahan Instagram itu datang di momen yang paling melelahkan—tepat saat isoma di Gedung Samanta Krida, di tengah padatnya rangkaian agenda universitas. “Yang mungkin sangat-sangat lebih krusial, booklet keluar di h-3 ospek fakultas (osfak). Itu, tuh, bahkan lebih bikin draining energinya [dibandingkan] pas tengah-tengahnya RAJA Brawijaya (Rabraw),” curah Sisil pada Minggu (16/8).

Fokus para maba FIB terpaksa terbelah. Mereka dipaksa tetap menjaga stamina mengikuti acara universitas hingga malam, atau merelakan waktu istirahat demi memburu tenggat waktu yang terlanjur berjalan mundur.

Bagi mereka yang baru pertama kali merantau ke Kota Malang dan belum mengenali denah Kota Malang, dipaksa secepat mungkin menghafal dan beradaptasi. Hal ini diperlukan untuk menyisir minimarket hingga toko-toko yang menyediakan list barang osfak dalam kepungan waktu yang kian memburu. 

“Pokoknya canting, totebag, baju bekas, buku bekas, kacang pistachio, susu kotak dua,” terang Lila menyebutkan barang bawaan yang diperlukan untuk mengikuti rangkaian Tebu. Barang-barang tersebut, secara tidak langsung membuat barang-barang yang sebelumnya mudah ditemukan menjadi langka. “Aku nyari sampai ke Landungsari sana baru nemu susunya,” tambahnya.

Sisil juga tidak habis pikir setelah mendapat jawaban dari salah satu panitia terkait esensi membawa kacang pistachio. Ia menemukan bahwa harga kacang itu sebesar Rp80.000 per kilonya. “Sekalian aku tanyain gitu, katanya itu sebenarnya buat buat cemil-cemil doang. Jadi, kayak buat sarapan aja,” beber Sisil.

Lebih lanjut, Sisil menambahkan bahwa ia sempat terkejut mengenai barang bawaan untuk konsumsi tersebut. “Jujur, aku kaget kayak kok bisa kepikiran dari banyaknya sarapan [malah diminta membawa pistachio]. ‘Kan, kita udah disuruh bawa roti Aoka sama susu. Aku rasa itu udah cukup paling enggak untuk sarapan, karena kita dapat konsumsi makan siang. Jadi, aku rasa kacang pistachio itu too much apalagi kacang itu mahal.”

Selain kacang pistachio, Sisil merasa cukup keberatan membawa baju bekas—apalagi ia yang bukan merupakan warga asli Kota Malang. Sebagai anak kos, ia hanya membawa barang-barang yang sekiranya penting untuk dirinya. Dengan kata lain, baju-baju yang ada hanya baju kuliah yang dikenakan dengan sistem cuci-kering-pakai.

Lila juga memiliki pendapat yang sama terkait baju bekas—justru menurutnya membuat pengeluaran baru. “Soalnya, kita sebagai anak kos ngapain bawa baju bekas gitu, ‘kan? Kalau thrifting juga lumayan mengeluarkan uang apalagi buat disumbangkan.”

Kemudian, dengan alasan kenyamanan, para maba FIB secara tiba-tiba diwajibkan membawa matras puzzle untuk alas duduk mereka. “Dan itu benar-benar h-2. Jadi, kita sebagai anak rantau bingung beli di mana matras puzzle. Kalau pesan di Shopee tuh lama datangnya,” keluh Lila.

Pengumuman itu membuat grup angkatannya ramai, ia menjelaskan bahwa kebanyakan dari mereka membeli matras secara berkelompok. Matras-matras itu setelahnya dipakai hanya untuk berakhir di ruas-ruas jalan. “Di Veteran itu banyak matras yang tergeletak. Enggak diambil, enggak diuruslah sama para mabanya.”

Tak selesai pada penugasan logistik, ketidakjelasan prosedur juga membayangi aturan birokrasi lewat keberadaan kartu legitimasi. Dokumen ini dirancang sebagai bukti sah kelulusan maba dalam rangkaian orientasi pendidikan (ordik) dan orientasi mahasiswa (ormawa) dengan bukti tanda tangan oleh ketua, advisor, koordinator lapangan, dan panitia inti lain. 

“Jadi, intinya kita harus minta tanda tangan ke panitia inti,” ungkap Sisil.

Kebingungan yang terus Berlanjut

Beragam barang bawaan yang tidak masuk akal memicu gelombang kekecewaan maba FIB. Mereka pun menagih jawaban di grup WhatsApp resmi Teras Budaya pada Selasa siang (11/8) akan esensi peraturan yang panitia buat. Ia juga menambahkan bahwa hal itu sampai dijadikan candaan oleh para maba. “Teman-temanku ada yang nge-jokes kayak ‘kenapa sih ini mau bikin Dubai chewy cookie kah’ gitu?” ungkap Lila.

Ia kemudian mengirim satu pesan panjang sebagai bentuk protesnya, dan mendapat banyak reaksi, disusul pesan-pesan lain dari para maba yang mendukungnya. “Terus beberapa ada yang kayak nyusul juga ngasih kritik.” 

Namun, di tengah panasnya erangan maba FIB, Davina yang merupakan koordinator penugasan Teras Budaya baru membalas semua protes itu pada malam harinya—ketika protes-protes lain telah tertimbun oleh kekesalan yang berbentuk sindiran. Sehingga, ia hanya menjawab satu persoalan saja. 

“Yang pertama kali dia balas itu tentang maba yang tanya, ‘Kartu legitimasi itu buat apa, kak?’ Padahal di atas-atas banget itu enggak ada yang bahas kartu legitimasi dan ada yang lebih penting,” ungkap Lila. 

Perubahan tugas kemudian terjadi, panitia mengklarifikasi terkait barang penugasan. “Sumpah di komunitas tuh mereka mereka spam, loh. Jadi, aku bingung–” Ia kemudian membaca grupnya, mencoba memastikan ulang pesan yang telah dikirim oleh panitia. “–yang dibatalkan kacang pistachio sama baju bekas,” ungkap Lila.

Di sisi lain, Sisil merasa memang ada perubahan tugas, seperti penghapusan barang bawaan kacang pistachio. Akan tetapi masih terdapat barang yang dipertahankan usai protes seakan kurang mendapat spotlight. “Jadi, kayak tetap satu anak bawa satu buku bekas gitu.” 

Kebingungan pun masih berlanjut terkait esensi membawa buku bekas. Sisil belum tahu untuk apa membawa barang tersebut. Ketika ditanya apakah buku bekas itu untuk disumbangkan, dirinya sendiri juga masih mempertanyakan esensinya.

Masalah tak habis di situ. Spesifikasi totebag putih yang kemudian tidak dijelaskan dalam booklet membuat sebagian maba harus mengeluarkan uang lebih. “Awalnya cuma kita tahu aja tas putih atau totebag putih tanpa ngasih tahu harus spesifik bahan apa. Jadi, bahannya kayak yang agak semi kain, semi plastik gitu. Itu ada yang udah terlanjur beli, akhirnya harus beli lagi gitu,” terang Sisil.

Ternyata kain yang dimaksud oleh panitia adalah kain blacu yang bisa digunakan untuk membatik. Maba yang terlanjur salah membeli totebag pun, diperintahkan untuk tetap memakai kain yang sudah dibeli, dengan catatan menggantinya sewaktu Open House (OH). “Katanya sih gapapa, sementara dipakai dulu, nanti ketika OH ganti pakai kain. Masalahnya, duit lagi, ‘kan.”

Namun, Sisil sedikit lega karena ukuran canting tidak ditentukan. “Canting itu pun untungnya enggak dikasih tahu yang spesifik harus size berapa.”

Susu yang sempat masuk ke dalam daftar bawaan pun menuai kebingungan. Maba FIB diinstruksikan panitia membawa dua susu dengan varian yang disuka oleh masing-masing maba, dan susu full cream. Tanpa mereka ketahui sebelumnya bahwa susu full cream ini akan disumbangkan. Sedangkan, sebagian dari maba telah menghabiskan susu bawaan mereka.

“Karena lupa diberitahu untuk jangan diminum, jadi enggak dikumpulkan yang susu full cream ini,” jelas Sisil.

Penugasan yang Terlalu Dipaksakan

Setelah ditelusuri lebih dalam, terdapat informasi internal bahwa booklet pertama yang sebenarnya tidak mendapat persetujuan dari dosen. “Dikasih tahu sama Mimesis juga ya, kalau misal booklet awalnya yang ada pistachionya itu enggak di acc [setujui] sama dosen-dosen,” ujar Sisil.

Koordinasi antar pendamping juga dinilai sangat berantakan. Informasi yang diberikan antar advisor sering kali berbeda-beda dan saling bertentangan. “Ada yang bilang, kata advisor harus dimasukin ke rok atau celana. Ada juga advisor yang bilang kalau misal selama rapi itu enggak apa-apa. Jadi, kabarnya simpang siur,” tambahnya.

Tak selesai-selesai dengan urusan logistik, maba kembali diperas oleh penugasan lapangan yang memakan waktu. Di tengah jeda yang kian tercekik, mereka diwajibkan terjun langsung ke lapangan dengan tenggat waktu yang menurutnya lama hingga 22 Agustus. “Tugasnya kita harus mewawancarai penduduk-penduduk di tiga kampung. Kampung warna-warni, Kampung Keramik Dinoyo, sama Kayutangan. Itu dibagi per kluster,” jelas Lila.

Tidak ada detail lain. Petunjuk mengenai kelompok hingga jadwal keberangkatan masih abu-abu. Bahkan, pembagian kelompok baru dilakukan secara mendadak. “Hari ini tanggal 15 Agustus, baru dibagi kelompoknya. Barusan jam 5 tadi, jam 5 sore,” tambah Lila. 

Selain itu, pertanyaan wawancara yang diberikan untuk ditanyakan kepada warga juga dinilai tidak koheren dengan apa yang dilakukan oleh para penduduk di kampung tersebut. “Terus pertanyaannya itu kayak ancaman Artificial Intelligence (AI) di kampung itu. Padahal kan kalau keramik masih handmade enggak ada yang pakai AI,” kata Lila.

Lila juga sempat merasa tidak enak kepada warga karena tenggat waktu yang mepet menjadikan warga sering didatangi maba FIB untuk penyelesaian tugas. “Jadi kayak merasa kasihan lah sama penduduk sana juga.”

Ekspektasi kehidupan osfak santai pun runtuh dan berganti dengan kekecewaan di tengah tumpukan tenggat tugas yang mengejar. “FIB yang harusnya [biasanya] punya image kalau misal fakultasnya itu santai enggak banyak tugas dan segala macam. Whatever it is, malah tiba-tiba kita dikasih realita kayak gini,” keluh Sisil mengakhiri wawancara.

Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Editor: Elvaretta Rahma Devina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *