KUMPULAN PUISI DARI FRAGMEN: JALAN

0
Road. Etude karya Sergey Arsenievich Vinogradov

Sanggupkah?

Kau
   pernah
       berbisik,
           menggoda.
               “Aku mau
                  menyesapi pikiranmu,
                  Sayang.”
                  Tapi, tidak
                   sadarkah
                   engkau
                  bahwa
                 pikiranku
                serumit
              jalan puisi ini?
           Aku pun
       tak paham.
   Seharusnya
  juga
engkau.
. ____  .
. ____  .
. ____  .
Kecuali,
  kau dan
       hatimu yang
            tulus nan
               putih
                  itu
                    mencintaiku
                    di level di mana
                    aku tak sanggup
                   menolakmu
                  masuk
                dalam
              pikir
            kalutku
         akan mati,
       dan neraka,
   dan dirimu,
 Tuhan,
kamu.
Bisikan balik dariku:
“Sanggupkah engkau, Sayang?”
Kamu tersenyum,
meneguk tehku.
“Sanggup,
karena
  aku sudah
       melakukannya.”

Penulis: Nur Istiyanti

Jalanan yang Kulalui dengan Jalan-Jalan Bersamamu

Jalan terjal,
jalan simpang, 
mana jalan keluar?

“Sudah kau sebut,” 
tuturmu lembut.

Jalan napas,
jalan pintas,
kutemukan jalan mati.

“Tapi masih ada jalan lain,” 
jawabmu lagi-lagi.

Jalan lurus,
jalan tikus, 
jalan buntu.
Ah, aku lelah (…)

“Ayo jalan-jalan.”
Kita bergandengan.

Dan (…)
tidak ada jalan-jalan yang menyeramkan 
jika denganmu dalam jalanan perjalanan.

Penulis: Elvaretta Rahma Devina

Setangkai Bunga yang Mekar

Aku sendirian
Pandangan terselimuti gelap
Peraba dicekik dinginnya kepala
Napas pun—
sulit merambat masuk

Tak peduli seberapa amis bau tubuhku
Tak terhingga serpihan kenangan dalam tubuh
Tak tau sampai kapan menunggu
Tak tau kapan keajaiban datang

Aku berjalan di jutaan serpihan kenangan
Terkadang aku menyempatkan
Melihat apa yang telah lalu

Aku pun mulai menari 
Menghibur diriku yang lembab
Dengan kaki yang tertusuk

Sering kulihat biji harapan
Tetapi imbas yang kudapat
Tertusuk oleh bayang masa lalu
Yang terpajang di udara
Aku pun mulai sering melewatkannya

Entah berapa lama langkah ini terseret
Hingga kutemukan setangkai bunga
Cantik. Bercahaya. Kuning

Tak kupaham bagaimana ia bisa mekar
Di genangan amis cairanku sendiri
Kudekati, kujamah kelopaknya, lalu bertanya:
“Jika kupetik,
akankah aku tertusuk
seperti biasanya?”

Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya

Jalan Waktu dengan Hati

Buat citamu penuh sentosa
Biar bunga berkelindan di nuranimu, aku mohon
Jelas, ini pinta amanat [kecil] bagimu
Janji, beri ruang [sempit] batinmu guna menilik

pengkhianat bukanlah dirimu

dan 
lambat–laun, lahir lembut kebahagiaan pada kalbu kelabu.

Kepada segalanya…
masa lalu, masa depan, kemarin, lusa, besok, saat ini;
seluruhnya adalah milikmu,

karena 
teruntuk si penopang–gerak, tapak kaki bukanlah usaha lari.

Nikmati: saraf pada tapak yang hendak mengenal jalan dunia
Nikmati: segala rasa & karsa: jasad, sahabat, tempat, waktu hayat
Nikmati: selangkah, selangkah, selangkah. Selangkah!

Apapun rasanya…
pesona maupun cela;
semua menjelma bagian dirimu,

lubuk jalan-jalan jiwa selalu berbisik lirih,
“Cintailah,
belajarlah mencintaimu.”

Kecil pintanya…
\tentulah aku tahu\
pengkhianat bukanlah dirimu’

Penulis: Khoiriyah Balqis

Malam Itu

Kumparan senandung sajak tentang keindahan
Pada ia aku meneroka
Bait nada selalu kuselaraskan, lamat-lamat
Sebenarnya apa yang lebih abadi dari kedatangan?

Waktu, bersolek
Nisbat rasa yang selalu kupendam
Kepada ia aku terpejam… Nisbi
Dalam-dalam
Bak senar-senar kecapi yang berdiri
Aku cinta

Binarnya kurasakan
Tetaplah disana
Aku mau menunggu jalan itu
Tersulut api menjadikannya nyala yang hidup
Kedatangannya congkak
Aku diam, lamat-lamat

Aku tak yakin cinta adalah ikatan,
Janji emas,
Persekongkolan jin, atau ritus suci
Tidak semua itu
Cinta adalah keindahan, siapa yang datang
Dan kepada cinta mempertemukan jalan
Abadi
Izinkan aku mencintaimu

Penulis: Fudhail Najmudin Al Muzaki

Poros dan Mantra

Malam itu {sebelum kau menjadi poros pastinya}
Kau hadiahi aku seisi dunia dengan gemerlap lampu-lampunya

“Walau kabut menyambut, kau akan aku jemput.”
ucapmu kalut

Setiap jalan berbatu yang kita lewati
Rasanya seperti milik sendiri
Begitupun tempat-tempat yang belum sempat kita singgahi

“Gunung itu akan kita daki, meski aku harus menopangmu di atas pundakku sendiri.”
Seakan tiap kita berjalan ragamu tak pernah sudi merasa letih

Kau ajak aku berkelana di antara rak-rak buku
Menyusuri halaman-halamannya yang semu

“Coba tunjukkan aku buku-buku favoritmu?”
Padahal kau tau semua itu ada di dalam kepalamu.

Maka, biarlah waktu melipat dirinya dengan keheranan
Biarlah mereka mengumpat dunia seakan kesetanan
Tetap akan ada satu mantra yang akan kukekalkan

“Jalan panjang kita, semoga menyenangkan.”

Penulis: Aulia Hasti Zalika Ramadhani

Keniscayaan

pohon diantara perlintasan memandang sayu – 
tidur dalam keheningan.


bercak merah berhamburan, kawan berguguran
bagai medan perkelahian, satu persatu hilang 
meninggalkan kelindan jiwa yang terulir sejauh pandang

hanya sekedar ada. nyawa menjadi sesi perjudian
tak berkuasa, pun tak dianggap memiliki jiwa
mereka para pelintas tak peduli
apa yang runtuh dan mati.

ringkih, mereka senyap
mengharap, bergelimang nestapa;
“ya tuhan”
“mengapa hidup dipersulit
dengan pelangkah yang tak paham?”

Padahal  makhluk ego yang fana hanya melintasi takdir yang mereka anggap kemestian
mereka menyebutnya;
“jalan”

Penulis: Mochammad Zaidan Chanif Al Haris

Ingin Berpulang

Setiap malam aku termenung,
dunia memang sesepi ini-atau hanya aku yang tertinggal di dalamnya.

Ku mencoba mencari arti nyata kehidupan seperti mencari oasis, tapi yang ku dapatkan hanyalah angin yang mungkin sama sepertiku yang lupa caranya pulang.
Ragaku kosong, tidak tahu kapan bisa terisi penuh.

Aku seperti manekin—
berdiri, diam, menunggu digerakkan,
tanpa pernah ditanya
“Apakah kamu bisa berjalan sendiri?”
Cukup,
aku hanya ingin mendengar kalimat itu.

Tuhan,
aku sudah tidak tahan dengan sakitnya duri-duri kecil di setiap diriku melangkah.
Apakah diriMu tidak merasa kasihan dengan jiwa vang mungkin sudah tercabik-cabik ini?

Tuhan,
aku rindu dekapan hangatmu.
Jika Engkau mendengar, dekaplah hingga aku tidak ingin dibangunkan lagi

Penulis: Nabila Riezkha Dewi

Untuk Sesaat yang Tak Habis

untuk sesaat, aku sadar
jajaran ruang-ruang
yang membentang diantara
yang kubunuh satu persatu
hanya mencuri waktu
yang kusimpan rapat di saku

untuk sesaat, aku sadar
waktu yang kupungut
di hamparan ilusi dan nisbi
perlahan ia bagai santau
membunuh dengan mencipta jarak
menyamarkanmu dari ingat

untuk sesaat, mungkin kau dengar
kaki-kakiku yang berikrar
bahwa tiap langkahnya
adalah janji untuk kembali

untuk sesaat, aku menduga
kalau kau juga berpikir sama
kenapa bukan ruang yang bergerak
menyisakan kita yang bergeming
atau waktu yang membeku
membiarkan kita memangkas jarak

untuk sejenak, aku melihat
dirimu yang sirna dilahap cahaya
meninggalkan pandang yang menenggelamkan
menanam sadar, kau berkata
tak perlu untukku kembali
cukup disini, menemani
di jalan yang tak ada habis ini

Penulis: Ahmad Tristan Samudro Siregar

Nihil

Barangkali aku memang bangkai yang kehilangan kompas, 
membusuk hidup-hidup dalam lubang sesal yang menyesakkan paru. 
Kupikir kiamat datang lebih awal saat senyummu itu tak lagi sudi menatap ku.

Andai aku bajingan tamak, sudah kupaksa jiwamu hingga lebam,
kuracuni tiap nadi dengan cintaku yang berkarat, biar kau tahu rasanya napas yang hampir putus dihajar rindu

Tapi sial, aku hanya pemuja tolol,
Semakin kusembah langkahmu, semakin tajam ludah benci yang kau lempar ke mukaku.
Aku mampus sendirian di tengah riuh dunia yang cuma becus membisikkan namamu.

Penulis: Refa Al-Zahfa

Lalu Lengang
(untuk Andrie Yunus)

kemarin petang
lampu-lampu mati
pintu sudah terkunci
kucing-kucing beradu garang
segala serangga adu suara
bisakah kau bayangkan, sayang, betapa di malam itu, pekat meraup raut aspal yang kian terkelupas?
lalu beberapa waktu lagi kau saksikan yang bukan air hujan membakar-i tubuh itu

subuh tadi
dengkur lebih nyaring terdengar dari mulut para pendoa
para maling
mulai bergerak merampas muka dari kamar seorang pejuang sepulang kerja
yang hilang separuh wajahnya, setengah matanya, bukan lagi hanya identitas dan sehelai balaclava

esok hari, sayang
di Salemba
yang tersisa hanya lengang
tiada lagi derit kamera dan gesekan udara yang dapat berbicara mewakili suara kita
hujan air keras membutakan mata jalan
pada akhirnya, ia gagal mengantar kita pada tujuan

Penulis: Adila Amanda (kontribusi pembaca)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.