TERDAPAT MISKOMUNIKASI DI PANGGUNG OH RABRAW, KAPEL SEBUT TENTATIFNYA LAYOUT DAN SUSUNAN ACARA

MALANG-KAV.10 Pelaksanaan Open House RAJA Brawijaya 2026 menuai keluhan dari salah satu talent yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Keluhan bermula dari unggahan di media sosial X pada 29 Agustus 2026. Talent tersebut menyoroti miskomunikasi, perubahan teknis secara mendadak, hingga pelayanan konsumsi selama kegiatan.
Fyodor (bukan nama sebenarnya), talent tersebut, menceritakan bahwa pihaknya, Marching Band Ekalavya Suara Brawijaya belum memperoleh kepastian mengenai jadwal sound check hingga H-1. Mereka juga mendapat tambahan penampilan untuk rangkaian penyambutan mahasiswa baru secara mendadak “Ternyata kita tiba-tiba disuruh untuk tampil, tapi tampilnya itu bukan cuma untuk pengenalan UKM. Jadi harus ada penampilan untuk welcoming mahasiswa baru,” ujar Fyodor ketika diwawancarai pada Rabu (9/9).
Perubahan kembali terjadi pada hari pelaksanaan. Fyodor menyebut alat yang sebelumnya diminta untuk tidak dikeluarkan justru tetap dikeluarkan. Akses masuk talent yang mulanya diarahkan melalui sisi kanan dan kiri panggung juga berubah menjadi hanya melalui sisi kiri. “Jadi banyak perubahan-perubahan yang akhirnya benar-benar dilakukan di hari-H, di detik itu juga. Walaupun talent bisa menyesuaikan, cuma tetap enggak enak aja,” katanya.
Ketua Pelaksana RAJA Brawijaya, Daffa, mengatakan perubahan layout dan susunan acara merupakan hal tentatif dalam penyelenggaraan acara berskala besar. “Apalagi Open House yang flow-nya juga tetap bisa berubah-ubah, tergantung dengan kondisi lapangan yang ada. Dan itu pun kita sampaikan kepada semua talent dan semua UKM,” jelas Daffa pada Selasa (1/9).
Daffa tidak menampik perubahan dapat terjadi beberapa menit sebelum penampilan. Namun, menurutnya, panitia telah menyediakan berbagai ruang koordinasi dan memiliki SOP untuk mengantisipasi perubahan. “Apakah perubahan ini bisa terjadi pada saat H-1 menit dan H-2 berapa menit? Bisa. Semua kemungkinan bisa terjadi,” ujarnya.
Selain perubahan teknis, Fyodor mengeluhkan pelayanan konsumsi. Ia mengatakan tempat istirahatnya berada di Gedung Widyaloka, sedangkan konsumsi harus diambil di titik lain dan jalan menuju ke titik tersebut padat sesak oleh mahasiswa baru yang mengantre untuk penugasan stempel.
Menurutnya, permintaan agar makanan diantarkan menuju tempat istirahat talent ditolak. “Teman aku sempat bertanya ke panitia, ‘Apakah tidak bisa makanannya dibawakan ke sini?’ Karena kami sebagai talent juga capek. Yang namanya habis tampil, istirahat,” ujar Fyodor.
Koordinator Divisi Konsumsi, Rhaisy, membantah anggapan bahwa divisi konsumsi bersikap ogah-ogahan terhadap talent. “Dugaan soal anak konsumsi itu ogah-ogahan, itu bisa aku bantah dengan jelas. Karena kami saja mengantarkan konsumsi satu persatu kepada hampir 200 tenant UKM,” ujar Rhaisy. Ia menjelaskan mekanisme untuk tenant UKM dan talent memang berbeda. “Memang beda mekanisme saja, tapi sesuai SOP semua sama,” katanya.
Menurut Rhaisy, konsumsi penampil diambil melalui titik yang telah disepakati sebelumnya. Panitia juga berkoordinasi melalui Humas dan liaison officer (LO) apabila konsumsi belum diambil. “Kita sudah sounding ke LO masing-masing bahwa ini konsumsinya belum diambil, tolong dong di-sounding. Entah kalian yang distribusikan, atau kita yang anterin ke mereka atau gimana,” jelas Rhaisy.
Keterangan Rhaisy berbeda dengan pernyataan Daffa. Daffa menyebut konsumsi diantarkan kepada penampil. “Yang terkait konsumsi talent itu diantar. Jadi, kita yang mengantar ke talent terkait,” ujarnya. Ia juga menyatakan, “Sepengetahuan kami, ini semua telah ada SOP dan skemanya. Jadi, di konsumsi mereka punya skema untuk mengantar konsumsi ke talent.”
Sementara itu, Rhaisy mengatakan persoalan tersebut baru diketahui setelah Open House RAJA Brawijaya selesai sehingga menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan berikutnya. “Paling kita jadikan bahan evaluasi untuk tahun depan saja. Biar nanti mungkin entah koordinasinya, entah mungkin kesepakatan antara ketiga pihak ini, mungkin di tahun depan bisa dijadikan lebih baik lagi,” jelasnya.
Penulis: R. AJ. Afra Aurelia Luqyandysa
Editor: Nabila Riezkha Dewi
