KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: RAIH

0
“Reach for the sky” karya Georgy Ineshin

Meraih Tuhan

Pak guru bertanya 
cita-citaku sekarang apa
Bu guru bertanya 
suatu saat aku ingin jadi apa

Bapak bertanya 
nanti aku ingin kuliah di mana
Ibu bertanya 
bisakah aku dapat beasiswa

Pamanku bertanya 
kapan aku dapat kerja dan gaji layak
Bibiku bertanya 
kapan rencanaku nikah dan punya anak

Pacarku bertanya 
seandainya ia semut
masihkah aku mencintainya

Pak Kyai bertanya 
aku ingin cinta dunia, masuk surga 
atau terpanggang di neraka

Kubilang:

“Aku ingin terbang menuju langit ketujuh untuk
meraih Tuhan, agar bisa menangis dalam 
pelukannya sampai sedikit terangkat segala beban.”

Mungkin, setelah itu aku punya jawaban.

September, 2026

Penulis: Memamu Dezek (kontribusi pembaca)

O, Sang Pengasih

Tuanku,
seratus purnama aku raib dari kasih-Mu,
bertanya, apakah jauh akan membuat-Mu lupa?

Masihkah ada? Kasih untukku tersisa?

Aku merindu,
dengan hati biru sendu.

O, Sang Pengasih,
bagaimana mengetuk dengan tangan-
yang berkali menampik?

Hendak meminta dekap,
teringat segala yang kuingkar selepas amin.

Bahkan dalam sesal, aku masih meminta:
ampuni aku, sayangi aku,
jangan lelah kepadaku.

Sedang janjiku, Kau tahu,
betapa mudah ia menjadi dusta.

Mengapa masih juga ampun bagiku?

Aku rindu, Tuan.
hingga malu untuk merayu.
hingga hanya nama-Mu,
yang berputar dan melingkar.

Bawa aku pulang.
Jangan biar aku jauh.

Bila aku gentar pada kasih,
bila kutarik tanganku sebab nista,

Raih. Raih. Raih.

Raih ragaku yang menjauh
ketika ingin didekap.

Raih hatiku yang tak kunjung percaya
boleh pulang selepas ingkar.

Raih imanku, aminku, Tuan.

Aku tak tahu, bagaimana meminta-Mu untuk tinggal,
tanpa menjanjikan sesuatu yang kelak kulanggar.

Maka malam ini,
izinkan aku merindukan-Mu saja.

Sungguh,
aku hanya milik-Mu Tuan.

Penulis: Ahmad Reza Usfalusi

Diam Mengamati Jarak

Mungkin kau tak menyadari,
tembok kita tak pernah sama
setiap hari

Ada kalanya waktu merobohkannya sedikit
Lalu ia meninggi lagi
Enggan mengalah

Sengaja aku diam
Mengukur sejauh mana tanganku melampauinya
Kutunggu uluran tanganmu
Seberapa tebal pun ia berdiri

Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya

Kuku Pustakawan

Henti bincangkan jarak masa bersua

Bahas saja pada kala lain,
isi kepala perpustakaan–mu

Nanti, mari bedah lembaran pustakanya

Biar masa ini, kuku kita
yang saling mengenal

Berbunyi tik-tik-tak 
Jelas dekat, namun jauh, masih jauh

Andai perkenalan bisa antar kuku

Agar di mana pun dirimu
Rasamu tetap ada di kukuku

Iya, pada kala lain
Aku akan jadi pemusta–kamu

Penulis: Khoiriyah Balqis

Raih Riuh

Kini benar-benar
dalam diam
(tak lagi) merayakan
memiliki (yang tak lagi)

Memang benar aku
hanya menjadi gerimis
yang kecil

Tak dapat raih
jelma petir yang getir
riuh [tak] bergemuruh

Penulis: Aulia Hasti Zalika Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *