KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: RAIH

Meraih Tuhan
Pak guru bertanya
cita-citaku sekarang apa
Bu guru bertanya
suatu saat aku ingin jadi apa
Bapak bertanya
nanti aku ingin kuliah di mana
Ibu bertanya
bisakah aku dapat beasiswa
Pamanku bertanya
kapan aku dapat kerja dan gaji layak
Bibiku bertanya
kapan rencanaku nikah dan punya anak
Pacarku bertanya
seandainya ia semut
masihkah aku mencintainya
Pak Kyai bertanya
aku ingin cinta dunia, masuk surga
atau terpanggang di neraka
Kubilang:
“Aku ingin terbang menuju langit ketujuh untuk
meraih Tuhan, agar bisa menangis dalam
pelukannya sampai sedikit terangkat segala beban.”
Mungkin, setelah itu aku punya jawaban.
September, 2026
Penulis: Memamu Dezek (kontribusi pembaca)
O, Sang Pengasih
Tuanku,
seratus purnama aku raib dari kasih-Mu,
bertanya, apakah jauh akan membuat-Mu lupa?
Masihkah ada? Kasih untukku tersisa?
Aku merindu,
dengan hati biru sendu.
O, Sang Pengasih,
bagaimana mengetuk dengan tangan-
yang berkali menampik?
Hendak meminta dekap,
teringat segala yang kuingkar selepas amin.
Bahkan dalam sesal, aku masih meminta:
ampuni aku, sayangi aku,
jangan lelah kepadaku.
Sedang janjiku, Kau tahu,
betapa mudah ia menjadi dusta.
Mengapa masih juga ampun bagiku?
Aku rindu, Tuan.
hingga malu untuk merayu.
hingga hanya nama-Mu,
yang berputar dan melingkar.
Bawa aku pulang.
Jangan biar aku jauh.
Bila aku gentar pada kasih,
bila kutarik tanganku sebab nista,
Raih. Raih. Raih.
Raih ragaku yang menjauh
ketika ingin didekap.
Raih hatiku yang tak kunjung percaya
boleh pulang selepas ingkar.
Raih imanku, aminku, Tuan.
Aku tak tahu, bagaimana meminta-Mu untuk tinggal,
tanpa menjanjikan sesuatu yang kelak kulanggar.
Maka malam ini,
izinkan aku merindukan-Mu saja.
Sungguh,
aku hanya milik-Mu Tuan.
Penulis: Ahmad Reza Usfalusi
Diam Mengamati Jarak
Mungkin kau tak menyadari,
tembok kita tak pernah sama
setiap hari
Ada kalanya waktu merobohkannya sedikit
Lalu ia meninggi lagi
Enggan mengalah
Sengaja aku diam
Mengukur sejauh mana tanganku melampauinya
Kutunggu uluran tanganmu
Seberapa tebal pun ia berdiri
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Kuku Pustakawan
Henti bincangkan jarak masa bersua
Bahas saja pada kala lain,
isi kepala perpustakaan–mu
Nanti, mari bedah lembaran pustakanya
Biar masa ini, kuku kita
yang saling mengenal
Berbunyi tik-tik-tak
Jelas dekat, namun jauh, masih jauh
Andai perkenalan bisa antar kuku
Agar di mana pun dirimu
Rasamu tetap ada di kukuku
Iya, pada kala lain
Aku akan jadi pemusta–kamu
Penulis: Khoiriyah Balqis
Raih Riuh
Kini benar-benar
dalam diam
(tak lagi) merayakan
memiliki (yang tak lagi)
Memang benar aku
hanya menjadi gerimis
yang kecil
Tak dapat raih
jelma petir yang getir
riuh [tak] bergemuruh
Penulis: Aulia Hasti Zalika Ramadhani
