SANGKUT-SENGKARUT DALAM ‘MALAM SERIBU JAHANAM’

Sastra horor Indonesia sering terjebak dalam dikotomi usang; kalau bukan taktik jump scare lewat hantu atau berakhir sebagai melodrama. Namun, dalam novel terbarunya yang bertajuk Malam Seribu Jahanam, Intan Paramaditha melakukan lompatan radikal yang membalikkan genre tersebut. Penulis yang dikenal lewat estetika gothic feminis ini, kembali menggunakan fiksi spekulatif sebagai pisau bedah sosial yang tajam. Di bawah bayang-bayang Rumah Victoria yang tak berujung, horor dalam novel ini melampaui mitos kuntilanak atau sumur misterius. Kengerian sejati justru lahir dari realitas sosiopolitik yang dingin dan sebuah asumsi eksistensial yang mencekam bahwa di luar maupun di dalam diri kita, kita tidak pernah mengetahui apa-apa.
Umumnya, sebuah ledakan besar diletakkan sebagai klimaks di akhir cerita, Intan justru membuka Malam Seribu Jahanam melalui sebuah guncangan hebat sejak bab-bab pertama. Berlatar tahun 2018 di sebuah kota rekaan bernama Kotawijaya tepat beberapa hari menjelang Ramadan, seisi negeri dibuat geger oleh aksi teror bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga. Sasaran mereka tersebar, mulai dari institusi gereja hingga gedung serbaguna di kompleks perumahan borjuis. Peristiwa fiksional ini merupakan refleksi langsung dari tragedi nyata Pengeboman Surabaya pada 13–14 Mei 2018, di mana sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak menjadi martir destruktif yang meninggalkan trauma kultural mendalam bagi masyarakat Indonesia.
Jahanam dan Keluarga
Melalui reruntuhan bom tersebut, Intan membagi tubuh narasi ke dalam empat sudut pandang polifonis yang saling bertubrukan dan mengisi kekosongan satu sama lain. Struktur keluarga Victoria ini diwakili oleh tiga dara dengan arsitektur peran yang kokoh. Ada Mutiara, sang Penjaga, anak perempuan sulung yang memikul beban domestik tak berujung, menjadi perawat bagi yang sakit, enggan menikah karena ngeri melihat replika orang tuanya, sekaligus dihantui rasa bersalah karena tidak tahu apa-apa tentang kehancuran yang mengintai adiknya. Di sisi lain, hadir Maya sang Pengelana, si anak tengah yang memilih melarikan diri dari struktur keluarga yang mencekik, hidup berpindah-pindah tanpa rumah, dan memandang seluruh anggota keluarganya telah tersesat di dalam labirin dogma agama yang mengalienasi realitas. Sementara itu, Annisa sang Pengantin, merupakan anak bungsu kesayangan sang ayah yang paling cantik, paling dimanja, namun tubuhnya berakhir terburai bersama isi perutnya dalam aksi bom bunuh diri.
Melalui penokohan Annisa inilah novel ini menjabarkan sebuah anomali yang menampar bias masyarakat. Annisa mematahkan stereotip teroris perempuan yang selama ini dikonstruksikan oleh media massa sebagai figuran pasif, korban cuci otak, atau sekadar pengikut naif yang mengekor agenda patriarkal sang suami demi jaminan mati syahid. Sebaliknya, Annisa hidup sejahtera, anak-anaknya menempuh pendidikan di institusi Islam bergengsi yang jauh dari radikalisme kumuh, dan ia sendiri adalah ibu rumah tangga yang modis serta gemar bersosialisasi. Kengerian terdalam yang disajikan Intan adalah kemungkinan bahwa perempuan pelaku teror ini bertindak atas kesadaran penuh, dingin, dan independen; bahwa ia sendiri adalah “imam” yang menuntun keluarganya menuju altar kematian. Latar belakang dan motif Annisa tidak pernah disajikan secara utuh dan instan, melainkan tersebar secara fragmentaris, memaksa pembaca untuk menyusun sendiri kepahitan demi kepahitan di balik keputusannya untuk mengambil jalan ekstrem karena tidak lagi memercayai siapa pun.
Jahanam dan Rosalinda
Di tengah peliknya konflik keluarga heteronormatif borjuis tersebut, Intan Paramaditha memasukkan elemen yang menjadi keunikan radikal dalam novel ini, yaitu kehadiran tokoh Rosalinda sang Pendongeng yang dijuluki sebagai “saudara tiri buruk rupa”. Narasi Rosalinda tidak berdiri sendiri sebagai bumbu eksotisme minoritas, melainkan berfungsi sebagai katalisator, pemecah gelembung, dan lensa kritis untuk membongkar bias kelas serta hak istimewa yang selama ini menyelimuti kehidupan ketiga dara cucu Victoria. Masa lalu Rosalinda berakar pada identitasnya sebagai Rohadi, anak dari pekerja rumah tangga yang melayani di Rumah Victoria. Sejak kecil, ia terpinggirkan; adakalanya ia diajak bermain oleh tiga dara tersebut, namun lebih sering dilupakan dan diposisikan sebagai subordinat struktural. Ketika ia bermutasi menjadi Rosalinda—seorang transpuan atau bujangdara—ia mengalami kekerasan berlapis yang eksistensial, mulai dari dibuang oleh keluarga asal hingga harus merasakan kerasnya hidup di jalanan. Kedatangannya kembali ke Kotawijaya adalah untuk menagih utang moral atas pengkhianatan yang berulang kali dilakukan oleh ketiga dara tersebut, terutama Maya yang mencampakkannya dan Annisa yang menyebabkan dirinya didepak dari ruang domestik Victoria.
Keunikan penokohan Rosalinda terletak pada bagaimana Intan menggunakannya untuk mendekonstruksi konsep keluarga dan jaring keamanan sosial. Ketika institusi keluarga sedarah dalam kisah Mutiara-Maya-Annisa terbukti menjadi ruang penindasan, trauma, dan radikalisasi, Rosalinda justru menemukan konsep cinta, kasih sayang, dan solidaritas organik di luar hubungan darah, yaitu di dalam komunitas transpuan Yogyakarta yang dipimpin oleh Mami Cindy. Bagi Rosalinda, Mami Cindy adalah figur ibu sejati yang menyelamatkan hidupnya dari kerentanan jalanan. Subversi ini mencapai titik kulminasi yang mengerikan ketika Intan mempertemukan narasi kaum marjinal ini dengan terorisme Annisa. Dalam serangan bom bunuh diri yang dirancang Annisa, salah satu target sekunder yang hancur adalah kelompok pengajian transpuan yang dipimpin oleh Mami Cindy. Di sini, Intan mempertemukan dua kutub religiositas yang kontras: agama yang digunakan sebagai instrumen kekerasan pemusnah oleh Annisa, bersinggungan dengan agama sebagai ruang pemulihan, spiritualitas inklusif, dan ruang aman bagi kelompok minoritas gender yang dipraktikkan oleh Mami Cindy.
Kematian Mami Cindy yang tragis mendorong Rosalinda keluar dari kepasifan struktural untuk mengambil langkah konfrontasi demi menuntut pertanggungjawaban atas ketidakadilan berlapis yang ia alami. Melalui penyajian narasi yang disampaikan secara selang-seling antara Rosalinda dan Mutiara-Maya, Intan memaksa pembaca untuk menanggalkan pandangan hitam-putih. Karakter Rosalinda sebagai bujangdara membawa simbol dualisme yang kaya; ia menolak kategorisasi biner masyarakat, baik dalam hal gender maupun dalam cara memandang keadilan sosial. Kehadirannya di pertengahan novel secara intens bertindak sebagai tamparan kelas yang memperlihatkan bahwa ruang aman bagi si kaya sering kali dibangun di atas pengorbanan dan pengabaian terhadap hak-hak si miskin.
Jahanam dan Perempuan
Secara teoretis dan ideologis, Malam Seribu Jahanam dapat dibaca sebagai sebuah manifesto feminisme interseksional. Intan Paramaditha tidak menampilkan feminisme sebagai narasi tunggal yang merayakan agensi perempuan secara membabi buta atau sekadar menyuarakan jargon pemberdayaan perempuan yang borjuis. Sebaliknya, melalui penokohan Mutiara, Maya, Annisa, Rosalinda, dan Victoria, Intan memperlihatkan bahwa penindasan dan agensi perempuan sangat dipengaruhi oleh irisan antara gender, kelas sosial, seksualitas, dan dogma agama. Di satu sisi, novel ini menampilkan figur-figur perempuan yang tampak berkuasa, mandiri, dan memegang kendali atas hidup mereka sendiri, seperti Nenek Victoria, Mama Mae, dan si sulung Mutiara yang didoktrin untuk tidak pernah bergantung pada laki-laki. Namun, kemandirian finansial dan kekuasaan domestik ini terbukti tidak serta-merta membebaskan mereka dari belenggu patriarki. Figur sang ayah, meskipun dalam kondisi sekarat antara hidup dan mati, tetap bertindak sebagai hantu patriarkal yang mengendalikan dinamika psikologis keluarga tersebut sebagai sosok yang misoginis, rasis, dan pilih kasih.
Feminisme dalam novel ini dibedah lewat beban-beban spesifik yang dipikul oleh setiap karakter perempuan, di mana agensi atau pilihan bebas seorang perempuan sering kali menjadi ruas kekusutan bagi perempuan lainnya. Eksploitasi emosional Mutiara sebagai anak sulung yang dikungkung tanggung jawab domestik, berbenturan dengan pilihan Maya yang mengasingkan diri demi kesehatan mentalnya. Sementara itu, keputusan Annisa untuk membebaskan diri dari ekspektasi keluarga borjuisnya diwujudkan lewat terorisme yang justru memusnahkan ruang aman bagi perempuan marjinal seperti Mami Cindy. Melalui jalinan konflik yang rumit ini, Intan memperlihatkan bagaimana penindasan tidak bergerak secara satu arah, melainkan saling mengikat dan menjebak para karakternya dalam lingkaran kekerasan yang sistemik. Intan juga menggunakan novel ini untuk mengkritik konstruksi heteronormativitas masyarakat yang menganggap bahwa keluarga ideal hanyalah keluarga tradisional, sekaligus menegaskan bahwa institusi tersebut sering kali menjadi tempat pertama di mana kekerasan dan radikalisme disuburkan secara tak kasat mata.
Dengan gaya bercerita yang berat, pekat, dan berani, Malam Seribu Jahanam berhasil melampaui fiksi horor belaka. Novel ini adalah sebuah esai kritik sosial yang dibungkus dalam estetika gothic; sebuah karya sastra yang tidak hanya membuat bulu kuduk berdiri saat dibaca di tengah malam yang hening, tetapi juga sebuah refleksi filosofis yang memaksa pembacanya menarik napas berkali-kali. Karya ini menunjukkan kita bahwa kebenaran tidak pernah hitam-putih, dan mengingatkan kita mengenai betapa kusut dan rapuhnya struktur kemanusiaan kita.
Penulis: Mariana Safina Nirmala
