Ilustrasi : Mila Febriyanti

Oleh : Farisya Rikza Nabila (Anggota Magang)

Hari ini adalah hari pertama dimana musim gugur tiba. Hujan pagi itu mendorongku untuk membawa payung dan memakai mantel tebal untuk pergi ke sekolah. Tidak heran, jalanan sangat ramai karena sebagian besar masyarakat Kota Ottawa sibuk dengan kegiatannya di Senin pagi ini. Untungnya, rumahku tidak jauh dari sekolah. Aku berjalan menyusuri trotoar sembari disambut dedaunan pohon maple yang mulai menguning. Pukul tujuh tepat aku datang di sekolah, disertai bel masuk kelas yang nyaring dan membuat sebagian besar siswa riuh memasuki kelasnya masing-masing. Senin pagi ini, disambut pelajaran sastra yang diajar oleh wali kelasku sendiri. Aku sedikit bingung ketika ada seorang gadis asing yang memakai seragam bermotif sama sepertiku berjalan di belakang guruku. Tak lama kemudian, ketika semua siswa di kelasku tak sadar akan kedatangan sang guru, barulah guruku memperkenalkan gadis itu. Siswa baru yang mendapat perhatian puluhan pasang mata anak di kelasku. Alyna namanya. Gadis berambut panjang dan coklat tua itu menatapku dengan senyuman ramah yang hanya kubalas dengan tatapan cuek dan dingin seperti yang kulakukan biasanya. Istirahat pertama tiba, gadis itu menghampiriku dan bertanya,”Kau tidak ingin ke kantin?”. Aku hanya menatapnya aneh tanpa berkata apa-apa. “Ayo ikut denganku?”, sambungnya ketika ia tak mendapat respon dariku. “Dasar pria es,” gumamnya pelan namun masih terdengar olehku. Lalu dia pergi, mungkin dia kesal dengan sikapku.

Bel pulang sekolah, suara yang mungkin ditunggu-tunggu oleh para siswa akhirnya berdering. Semua siswa berhamburan dengan payungnya masing-masing. Hujan hari ini benar-benar tanpa jeda, aku hanya bisa mengeluh karena aku sangat membenci hujan. Gadis itu, maksudku Alyna, menghampiriku dengan senyuman yang sama seperti tadi pagi. Aku hanya bersikap tidak peduli sambil menatap hujan yang deras dengan tangan kiriku yang menggenggam gagang payung. “Kenapa kau menggunakan payung?” tanyanya aneh yang membuatku terpaksa untuk berbicara hari ini. Aku pun menjawab, “Kau tidak lihat hujan yang deras ini?”. Ternyata kalimat tanyaku itu malah membuat ia berkata aneh lagi padaku. “Iya, aku lihat, memang kenapa? Menurutku hujan itu seperti sahabat karib, itupun jika kau mau menikmatinya seperti ini.” Ia berjalan ke arah tanah lapang sekolah dan membasahi dirinya sendiri dengan guyuran hujan yang semakin deras. Aku berjalan menuju gerbang masih dengan payung dan mantel hangatku. Melihatku pergi, Alyna menarik tanganku paksa untuk ikut berhujan-hujanan bersamanya. Aku berusaha menolak, namun ia masih meyakinkanku bahwa hujan tak seburuk yang aku kira.

Saat ini, payungku sudah lepas dari genggaman tanganku, hanya Alyna yang ada di depanku saat ini. Ia menggenggam erat tanganku layaknya teman yang sudah bertahun-tahun ia kenal. Tubuh dan pakaianku kini telah basah kuyup akibat ulahnya. “Apa yang kau lakukan?” Pertanyaan muncul dari mulutku di tengah-tengah hujan sore itu. “Aku hanya berharap, hujan bisa mencairkan hatimu yang beku itu,” Alyna hanya menjawabnya demikian. Aku kebingungan dan berpikir apakah aku secuek itu pada orang lain. “Kau tahu? Aku sangat membenci hujan,” ujarku ketus dan langsung meninggalkannya. Aku berjalan menjauh dan menoleh ke arahnya. Sama seperti tadi, ia masih berdiri di bawah deraian hujan. Dia adalah gadis teraneh yang pernah kutemui di kehidupanku. Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasanya. Pagi itu, Alyna menyambutku di depan pintu kelas. Ia Farisya Rikza Nabila Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menyodorkan sebuah daun maple yang berwarna kuning kecokelatan dengan tulisan kata ‘Maaf’. Aku menerima daun itu dan bertanya kepadanya, “Apa maksudmu?”. Alyna menunduk sambil berkata, “Maaf atas kelakuanku kemarin. Aku tidak tahu kalau kau membenci hujan.” Setelah percakapan singkat itu, aku masuk ke dalam kelas, mengeluarkan ponsel dan melanjutkan permainan online favoritku. Alyna mendekat ke arahku ketika aku sibuk membunuh musuh di layar ponselku. “Aku ingin berteman denganmu,” ujarnya yang sukses membuatku melihat ke arah gadis itu, ke arah dimana ia berdiri tepat di sampingku.

“Baiklah, kalau kau mau menjadi teman baikku, maka jangan ganggu aku.” Aku kembali memandang layar ponselku, sedangkan Alyna berjalan menjauh dari tempat ia berdiri sebelumnya. Bel istirahat pertama berbunyi, Alyna berjalan ke arahku dan mungkin ia bermaksud untuk mengajakku berbicara lagi. “Ikutlah denganku.” Gaya bicaranya seakan lebih lembut dari biasanya. “Kemana?” Kali ini aku menjawab ajakan berbicaranya. “Sudahlah, aku mohon.” Aku pun meng-iyakan ajakannya. Alyna berjalan di depanku sampai ia berhenti di depan bangku taman sekolah. ia pun duduk di bangku itu dan kuikuti duduk disebelahnya. “Atas permintaan maafku, aku bisa menjadi tempatmu bercerita.” Aku memandangnya, dan menurutku terlalu banyak kisah pahit dalam hidupku jika untuk sekedar diceritakan. “Kumohon,” sambungnya. Entah kenapa aku mulai menceritakan kisah hidupku, kisah dimana orang lain selalu menjauhiku dan membenciku. Bahkan, aku tidak tahu mengapa orang lain selalu bersikap begitu padaku, apa mungkin aku terlalu tidak peduli pada orang lain? Setelah panjang lebar bercerita tentang lika-liku hidupku, Alyna pun angkat bicara, “Kurasa kau belum mengenal kata maaf, terima kasih, dan tolong”. Aku mengernyitkan dahiku seakan tak paham apa yang dikatakan oleh Alyna, tentu saja aku mengerti tiga kata itu kan? “Katakan maaf jika kamu melakukan kesalahan pada seseorang, katakan terima kasih ketika orang lain membantumu, dan katakan tolong ketika kamu membutuhkan bantuan,” sambungnya disertai senyuman. Kemudian, ia berdiri dan berjalan menuju kelas. Mungkin, karena bel masuk berbunyi. Aku masih termenung di bangku taman, tepat di bawah pohon maple besar yang sebagian daunnya mulai berjatuhan.

Mendalami maksud Alyna tadi, mungkin memang benar jika aku harus menerapkan tiga kata penting itu. Hari demi hariku di musim gugur kulewati dengan cepat bersama Alyna. Akupun merasakan perubahan diriku dari sisi yang cuek dan cenderung tidak peduli menjadi ke sisi yang lebih hangat dan ramah pada orang lain, itu semua berkat Alyna. Sore itu sedikit lebih dingin dari biasanya, aku dan Alyna duduk di bangku yang biasanya kita duduki sambil bercengkerama membahas hal-hal yang tidak penting tetapi menyenangkan. “Udaranya sedikit lebih dingin dari biasanya, menurutku musim dingin akan datang,” ujarku sambil memandang gadis itu. Ia nampak kebingungan dan berkata, “Musim dingin?”. “Iya, musim dingin. Kau mau bermain lempar bola salju denganku?” Aku mengajaknya dengan rasa antusias karena aku mulai merasa nyaman dengan Alyna. Disamping ia membantuku ke sosok yang lebih baik, menurutku ia juga sangat berhati lembut. Ketika aku dan Alyna sedang asyik berbincang, tiba-tiba butiran salju lembut mulai turun ke tempat kami berada. Alyna tampak panik, “Sepertinya aku harus pulang sekarang,” ujarnya tiba-tiba. “Huh? Kenapa tibatiba?” tanyaku yang terkejut melihat Alyna yang terburu-buru untuk pulang. “Aku alergi dingin,” jawabnya singkat kemudian ia berlari menjauh. Aku mencoba berpikir positif, mungkin memang Alyna alergi terhadap dingin. Keeseokan harinya, jalanan yang biasa kulewati benar-benar tertutup salju, menurutku turunnya salju kemarin benar-benar mengawali musim dingin tiba. Senyumku merekah ketika melewati koridor sekolah, karena ini hari pertama musim dingin, aku ingin memberi sebatang coklat untuk Alyna, dan berharap gadis itu tersenyum ketika menerima hadiah kecilku ini. Aku menunggunya di kelas hingga bel masuk berdering sangat kencang. Namun, batang hidung Alyna benar-benar tidak terlihat.

Aku berpikir, apakah ia sakit karena kedinginan? Saat bel istirahat berbunyi, aku mencoba bertanya pada teman-teman gadisnya. Namun nihil, mereka tidak ada yang tahu alasan mengapa Alyna tidak masuk sekolah. Jam demi jam pelajaran kulewati dengan rasa cemas, hingga akhirnya pukul 4 sore tiba. Entah kenapa, ada sesuatu yang mendorongku untuk pergi ke bangku taman, tempat yang biasa kami duduki. Aku terkejut ketika mendapati sepucuk surat dengan daun maple di atasnya yang tertempel pada bangku taman. Tulisan yang tertuang pada surat itu seperti tulisan yang tidak asing bagiku. ‘Hai Brian.. kau baik-baik saja kan? Ah, kuharap kau selalu baik-baik saja. Sebelumnya, aku ingin minta maaf kepadamu, karena aku tidak memberitahu soal ini sebelumnya. Aku ini bukan manusia sepertimu. Jangan terkejut, aku adalah bidadari musim gugur yang diutus Ratu Kayangan untuk membawamu ke atas sana. Ratu Kayangan akan menikahkanmu dengan sang Puteri dan melantik dirimu menjadi seorang Pangeran. Tetapi, aku gagal menjalankan utusan ini. Aku sadar bahwa aku memiliki darah Aphrodite dalam tubuhku,dan aku mudah sekali untuk jatuh cinta, terutama pada dirimu. Aku benar-benar minta maaf karena menggagalkanmu menjadi seorang Pangeran. Juga, selama tidak ada musim gugur dan hujan, aku tidak akan pernah ada. Musim gugur adalah hidupku, dan hujan adalah jiwaku. Jangan menungguku kembali. Aku tidak akan pernah kembali, walaupun musim gugur berikutnya. Kecuali ada cinta sejati di bumi yang sangat mengharapkanku. Tetapi itu mustahil kan? Selamat tinggal Brian, tetaplah menjadi pribadi yang baik seperti yang kuajarkan padamu sebelumnya’, Dadaku terasa sesak setelah membaca surat singkat itu, rasanya aku ingin marah pada Alyna. Namun, rasa marahku sungguh tergeser sepenuhnya oleh suatu perasaan yang aneh.

Air mataku jatuh secara tiba-tiba. Apakah aku sedih karena kepergiannya atau aku telah jatuh cinta pada Alyna? Satu tahun begitu cepat berlalu tanpa Alyna. Aku sudah sedikit terbiasa tanpa kehadirannya. Namun, ketika aku mengingat-ingat kembali ke masa dimana aku dan Alyna masih saling bercengkerama, dadaku seakan sesak seperti ketika ia meninggalkanku. Hari ini adalah hari pertama musim gugur tiba kembali, tetapi tidak dengan Alyna. Aku masih menyimpan surat terakhir yang ia tulis tahun lalu dan aku mulai membacanya kembali di tempat yang sama. Di bangku taman yang berada tepat di bawah pohon maple yang daundaunnya mulai menguning. Ketika kalimat terakhir yang terdapat di surat itu kubaca dengan pelan, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari arah belakang. Aku terkejut dan menoleh ke arahnya. Seorang gadis yang pernah kutemui sebelumnya, di musim yang sama, dengan senyuman yang sama pula. “Merindukanku?” ujarnya yang hanya kubalas dengan tatapan sorai dari kedua mataku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.