GEN MALANG RAYA GELAR DISKUSI PUBLIK, SOROTI BERAGAM PERSPEKTIF TENTANG RENCANA PERTANDINGAN AREMA VS PERSEBAYA

0

Fotografer: Nabila Riezkha Dewi

MALANG-KAV.10 Generasi Emas Nusantara Malang Raya (GEN Malang Raya) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Malang Raya Roundtable: Mencari Konsensus Publik Jelang Derby JATIM” pada Rabu (15/04). Menghadirkan beberapa tokoh masyarakat, diskusi diproyeksikan menjadi tempat aspirasi untuk menanggapi terkait rencana pertandingan Arema vs Persebaya pada 28 April mendatang di Stadion Kanjuruhan. 

“Jika Kanjuruhan digunakan kembali, maka itu akan baik untuk ekonomi masyarakat sekitar, tetapi persoalannya tidak sekadar itu. Perasaan masyarakat juga penting untuk diperhatikan,” ungkap Rahmat Hadijono selaku perwakilan Pemerintah Kabupaten Malang. Menurutnya, adanya tragedi bukanlah akhir dari sebuah laga pertandingan, tetapi penting untuk menghindari risiko-risiko yang ada. 

Selaras dengan pernyataan Rahmat, Muhammad Ukasyah Ali Murtadho selaku perwakilan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kabupaten Malang, mengungkapkan bahwa fokus mereka saat ini adalah untuk mengembalikan mentalitas semua orang di Kabupaten Malang. “PR terbesar kami untuk saat ini adalah bagaimana caranya untuk mengembalikan mentalitas sepakbola masyarakat Kabupaten Malang pasca Tragedi Kanjuruhan,” tegasnya. 

Rafi, seorang peneliti dan penulis buku, dengan tegas menolak laga tersebut diadakan di Stadion Kanjuruhan. “Saya menolak laga tersebut dilaksanakan di Kanjuruhan, alasan saya lebih dari sekedar moral,” ujarnya. 

Ia juga menambahkan bahwa penyelenggaraan pertandingan di Kanjuruhan dinilai merupakan upaya untuk merenovasi ritus memori. “Ketika ritus direnovasi,  sejarah akan hilang. Meskipun tragedi Kanjuruhan tak akan terlupakan, tetapi kita akan lupa siapa yang bersalah dan siapa yang harus diusut hingga tuntas,” imbuh Rafi.

Di sisi lain, Ketua Yayasan Keadilan Tragedi kanjuruhan (YKTK), Devi Athok juga menolak adanya laga tersebut. “Saya menolak pertandingan antara Persebaya dan Arema diselenggarakan di Kanjuruhan,” ungkapnya. 

Devi juga menyatakan bahwa PSSI adalah sebab dari sulitnya masalah antara Arema dan Persebaya. “Masalah ini menjadi sulit karena pihak PSSI belum pernah sama sekali menemui kami [YKTK]. Kalau seperti ini terus sama saja PSSI ngelunjak, tidak akan tuntas kalau mereka tidak mau mencari solusi untuk tragedi ini,” ujar Devi. 

Lebih lanjut, persaingan antara Arema dan Persebaya dianggap memiliki nilai jual yang tinggi. Roni, salah satu korban tragedi Kanjuruhan, mengatakan bahwa persaingan antara Arema dan Persebaya tidak sama dengan klub lain. “Arema dan Persebaya tidak sama dengan klub lain, nilai jualnya tinggi karena ada rivalitas historis juga,” ungkapnya. 

Roni juga menyampaikan bahwa tidak seharusnya ada upaya untuk meraup keuntungan pasca tragedi Kanjuruhan. “Baiknya semua pihak tidak mengambil keuntungan di saat-saat seperti ini, karena trauma kolektif dari tragedi itu yang belum menghilang,” pungkas Roni.  

Penulis: Nadil Ulum Annafis
Editor: Nabila Riezkha Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.