KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: SAMPAI

Simpang Sampai
[Kemungkinan & Kemungkinan]
Singgah yang sama
Dua sambang dalam dua tahun
Namun tahun keduaku
Jumpa dua penglihat kita
Bergidik rambut kulitku
Menari-nari halus
Memantik di bawah kain
Sekali lagi kuraih lokamu
Berhamburan napasku
Sampai di sini?
Tapi sisa kisik:
Sampai bertemu lagi
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Parasmu
“Matamu spesial,” kataku
yang duduk diantara lentik bulu matamu
sampai akhirnya aku melihat hidungmu
“hidungmu istimewa,” kataku
hidup menjulang mempertegas sikapmu
sampai akhirnya aku melihat bibirmu
“bibirmu indah,” kataku
merobek halus tanpa luka disempurna senyumu
sampai akhirnya aku mengagumi parasmu
“parasmu misterius,” kataku
seperti gigil yang diberikan kepada peti emas yang sedang digali
“Akankah ada berlian diakhir papan?”
“parasmu memesona,” kataku
seperti gila yang diberikan kepada bumi bulan gemintang terhadap poros tata surya
“Akankah ada semesta di antara berkas realita?”
“parasmu mulia,” kataku
seperti desak yang diberikan kepada kata terhadap Kitab-Kitab Dewa paling Maha
“Akankah ada surga dibalik ayatnya?”
“sudahkah kau temukan berlian, semesta, dan surga?” tanyamu sore itu
sudah, mereka tanggal ketika aku kecup setiap inci jengkalnya
Penulis: Ekas Abdul Baits
Hujan Kuburan Waktu
Kilau berpendar menusuk netra,
Terbaring nyaman raganya ramai perih
Tangkapan cahaya lampu makin membuatnya sakit.
Jejak jejas terpatri
Sakit atas bala dan mala,
Angannya kembali pada laka…
Beban yang tertenggat waktu
;mencekik jiwa dan raga
;menuntut ketuntasan bersama kesempurnaan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤKendaraannya beraksi gesit
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤGelap
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤnan lengket hujan.
Ah…
Orang berujar, gaji akhir di banknya
Tentunya, orang akan menggantikannya
Istirahat atas laka perindu hentian
Sebut saja damba sementara
Menjadi selang sela waktu [aku]
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤAlhasil, “sampai mana?”
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤYa, Prima Husada.
Penulis: Khoiriyah Balqis
Sadar
(1)
kesandung rima
ia murka
“aduh, aku harus mengulanginya terus?”
mati sajalah…
(2)
hari itu akhir dunia
orang-orang terkujur lebur di persimpangan kiri
sedang ia lelah berputar di perjumpaan itu tak berhenti;
ia bertungkus lumus, melewati rentang-rentang konstruksi, menjumpainya lagi dan lagi, tak absen pula memori menghanyutkan waktunya: tiga dimensi, dan ia gelagapan, terlempar ke sana kemari
hari akhir mengabaikan sisa-sisa dirinya
menjadi objek baginya dimakan senja
ia terekam di haluan qualia
tak pernah mati di pelupuk bahasa
(3)
dalam penderitaan itu, harap ia bisa menarik napas dengan baik di sekujur-kujur
ia tak lagi murka. ia tahu tujuannya tak ada
maka sampai baginya adalah plasebo,
yang membawanya pada rima yang keliru
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Perapian Hestia
Rumah itu kecil,
Tersimpan perapian Hestia didalamnya
Hangat surya mungil di daratan hampa
Akulah planet yang ditarik gravitasinya
Mengorbit hingga ditelan kedalam cahaya
Terbakar atmosfirku menjadi bahan bakar
Planet kecil di dalam kemegahan surya
Ranting beku di tengah tungku baja dan bata
Percikan api melayang disanding kobaran raksasa
Kuharap perapian itu menyala makin terang
Mentari yang sinarnya menumbuhkan tanaman
Tungku pengusir beku dan menghangatkan
Akan datanglah para mencari kehangatan
Melunakkan otot yang keram dan bekunya tulang
Kuharap aku masih membantunya nyala
Agar penat hilang dan tawa terbit
Melelehkan borgol serta mengusir perih
Membakar jiwa hingga terusir perih
Kuharap padamku menjadi asap pekat
Tinggi mengudara memanggil kawan
Sampailah ke api yang menghidupkan
Sama sepertiku sampai di rumah kehangatan.
Penulis: Muhammad Iqbal Rabbani
Membaca Galeri:
/A/
Binhad bilang bahwa penyair adalah sejarawan perasaan.
Puisi bukan dokumen ANRI
Puisi bukan berita TVRI
Puisi bukan Tugu Pahlawan
Puisi bukan film garapan Arifin C. Noer.
Maka haruskah kita menghapus puisi layaknya Fadli Zon merevisi sejarah Indonesia?
Haruskah kita merevisi puisi seperti Kanjuruhan yang direnovasi?
Haruskah kita?
Kita?
?
“Dan kita tahu bahwa dada kita menjelma lahan gambut Karhutla,
dan asapnya umpatan kita dan sebatang LA Mango yang “dipadamkan” pejabat Indon,
dan Waktu menanti musim hujan yang membunuh bara-puluhan-meter-dalam-dada-kita.”
Dan kita berusaha menjauh dari sifat-sifat negara.
Yang otoriter terhadap sejarah.
Meski kita selalu mengharap hujan.
Penulis: Badra D. Ahmad
