KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: SENJA

Pacarku, Aku Mau Sepotong Senja
Pacarku, aku mau sepotong senja. Curilah ia
dari Sukab, toh Alina tak menginginkannya.
Baginya, senja yang dikirim Sukab lebih
menyesakkan ketimbang asap. Namun,
asap sedang menghalangiku menemukan senja lainnya.
Apa katamu? Sekarang senja di tangan Prabs?
Menurutmu itu tidak gawat? Bagiku ini darurat.
Senja kita akan dinilai sebagai lembar yang
mudah terbakar, kemudian ia akan merencanakan
industri pagi, siang, hingga malam di setiap titik indahnya.
Gawat, darurat.
Gawat, darurat.
Gawat, darurat, sayangku!
Begini saja, curilah senja darinya sekarang juga.
Sebelum ia mencurigai dan membunuhmu.
Segera bawa kemari, ke pelukanku.
Letakkan di sini, di antara
cintamu dan cintaku,
pulaumu dan pulauku,
hidupku dan matiku.
Setidaknya itulah penghiburan yang syahdu,
sembari menunggu kepulihan negeriku.
Batu, 16 Oktober 2026
Penulis: Memamu Dezek (kontribusi pembaca)
Napas
Kalau napas adalah doa
sudikah ia
disengal dan ditunda
oleh kabut asap dan dosa manusia?
Karena t’lah kami saksikan
langit terbakar senja
sebelum fajar merintis pagi
sampai, mungkin, lusa nanti.
Dan bayang pun ‘tak lagi menyisa
hanya paru sarat debu
yang haus meminta air mata.
Karena hidup adalah doa
yang ‘tak boleh disengal dan ditunda.
2026
Penulis: Johannes C. Marbun (kontribusi pembaca)
Bergugur
Melewati siang yang terik minggu-minggu ini
sebetulnya es degan seporsi sudah cukup melegakan
Namun, di kala menyelami berita
dari pagi hingga siang buta
Es degan kehilangan kesegarannya
Maka,
Runtuh, maka runtuhlah seruntuh-runtuhnya
Tak peduli pula mereka memperhatikanmu
Gugur, maka gugurlah segugur-gugurnya
Pengorbananmu tak terlihat oleh mata nurani mereka
Jika api mampu menyalakan gejolak amarah
Maka libatkan air untuk menyapu segala keluh kesah
Jika angin mampu membawa asap kekecewaan
Maka libatkan tanah untuk menelan segala kekhawatiran
Sesungguhnya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan
Kalau kemudahan-kemudahan itu tak menampakkan diri
Mungkin dia sedang berada di waktu yang salah
Tunggulah barang sedikit,
kan ayatnya terulang dua kali
Penulis: Jayantaka (kontribusi pembaca)
Tolong, Jangan Selesaikan Hariku Sendirian
Oh, Sayang.
Matahari sore ini bagai hangatnya rindu pelukmu.
Oh, Sayang.
Tidakkah kau lihat aku yang kau gantungkan ini?
Oh, Sayang.
Inginku culik dirimu dari laprakmu yang memisah kita;
memisah kita bagai senja yang mulai menyapa.
Penulis: Zahra Ramadhani Darmawan (anggota magang)
Qobliyah Maghrib bersama Tebu
Kala sore itu
…netraku berhasil mengecap hal manis
Tak berbeda dengan gula:
tersungging bibirmu
Oh, Tuhan
ss-sungguh manis.
Manisnya ciptaanmu…
Tebu–kah dirimu?
;tinggi kuat menjulang
;berkulit keras nan kilau deragem
namun.., manis di dalam
Pantulan petang mencipta terang binarmu
Nyatanya, benarlah dirimu Tebu..,
terus bertumbuh segar
hingga merekahkan bulir bunganya
bulir bunga tak mencipta rangkaianmu tampak lemah
justru menegas matangnya sang Tebu
Hingga panggilan Maghrib tertangkap pendengaran
Sorot temaram ditangkap pandang
Saatnya memohon pada Tuhan;
agar aku bisa menelan manisnya Tebu
Penulis: Khoiriyah Balqis
Tuhan Tunggang Gunung
Di antara warna,
dalam satu cangkir kopi
& sore pada langit itu
& api yang keluar
demi satu batang
kata-kata pada puisi-puisi klise
yang sudah terlalu, pasar.
Pun,
antara Dan dan &
Barangkali,
Tuhan bersemayam di antaranya
Di antara
Senja,
& kita.
Penulis: Aulia Hasti Zalika Ramadhani
