MERAJUT KESAN PERTAMA PADA OSPEK YANG CULAS

Selamat datang di kampus biru, Candrasena 64. Sudah sejauh mana kalian mengenal rumah baru ini?

Beberapa minggu terakhir mungkin telah kalian habiskan dengan berbagai rangkaian ospek. Mulai dari menerima materi, mengikuti instruksi, menjalankan aturan, hingga berhadapan dengan berbagai tuntutan yang sebelumnya mungkin tidak pernah kalian temui. Di tengah padatnya rangkaian kegiatan tersebut, barangkali ada satu hal yang belum sempat kita lakukan untuk berhenti sejenak dan bertanya: sebenarnya untuk apa semua ini dilakukan?

Ospek kerap dibingkai sebagai ruang untuk mengenal kehidupan kampus, membangun solidaritas, dan membentuk karakter mahasiswa baru. Namun, tujuan yang terdengar baik tidak serta-merta membenarkan segala cara. Tugas yang tidak masuk akal, tuntutan yang tidak relevan dengan tujuan pengenalan kehidupan kampus, maupun aturan yang justru bertentangan dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan kampus tidak seharusnya dinormalisasi hanya karena berlindung di balik nama tradisi.

Persoalan ini menjadi semakin pelik ketika mahasiswa baru berada pada posisi yang dituntut untuk mengikuti setiap aturan, sementara panitia memiliki kewenangan untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dalam kondisi demikian, rasa takut, ketidaknyamanan, bahkan keberatan seringkali berakhir pada diam. Di sisi lain, terdapat panitia yang justru menyalahi aturan yang mereka buat sendiri. Sesuatu yang keliru pun perlahan dianggap wajar karena terus diulang dan diwariskan.

Silakan baca buletin Jurnal Ospek Edisi III Tahun 2026 melalui tautan berikut:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.