BISING, BERANG, DAN RUANG YANG HILANG
MALANG-KAV.10 Langit Kota Malang sore itu menolak benderang, memilih kelabu yang perlahan merajam. Minggu, 8 Maret 2026, aspal tidak diperuntukkan bagi pesta fana yang tenggelam. Puluhan langkah bergegas menagih ruang aman yang terlalu lama dirampas kejam, menggugat struktur kekuasaan dan kodrat yang sering kali memaksa perempuan bungkam.

Alun-alun sejenak menanggalkan fungsi tamannya, menjelma rahim bagi amarah yang terkalibrasi. Di bawah rintik hujan penghabisan yang perlahan menepi, tak ada punggung-punggung santai yang mencari tepi dan sepi. Mereka merapatkan barisan, merawat nyali. Dahaga puasa sore ini bukan haus akan air duniawi, melainkan lapar akan keadilan yang kerap dikerdilkan menjadi urusan domestik tanpa apresiasi.

Kaki-kaki lalu membedah dan mencumbui aspal yang masih basah, membelah klakson kota saat gerimis akhirnya menyerah. Langit menahan tangisnya, namun spanduk menolak rebah. “Hidup perempuan yang melawan!” pekik mereka presisi memecah resah. Seruan parau itu merobek selaput abai, mengingatkan bahwa buruh, tani, dan kaum miskin kota adalah nadi, bukan sekadar bayangan yang pasrah dan mengalah.

Pelantang digenggam hingga jari memutih, urat leher menegang membelah hawa dingin yang masih merintih. Trotoar licin sisa hujan menjelma mimbar tanpa pamrih. Puluhan ribu angka duka dimuntahkan bukan sebagai statistik bisu, melainkan belati yang menunjuk gundukan realita hidup perempuan yang begitu pilu. Mereka menggugat keringat domestik yang tak terbayar, menelanjangi arsitektur rapuh peradaban angkuh yang selalu meminjam punggung perempuan sebagai pilar.

Beralih, bundaran Balai Kota menyuguhkan pemandangan yang ironis. Asap knalpot memeluk aroma takjil di bawah udara senja yang saat itu begitu magis. Sebagian warga bergegas mencari hangat takjil yang manis, sementara barisan ini menolak surut meski awan gelap mulai menepis. Mereka menggugat siulan jalanan yang kerap dianggap lumrah, menuntut hak-hak dasar manusia: untuk bisa berjalan melenggang di ruang publik tanpa takut jiwa dan tubuhnya berdarah.

Lembar tuntutan dibentangkan terang, di bawah langit kelabu yang menaungi petang. Suara pembaca menembus hawa dingin yang tak kunjung hilang, merangkum tuntutan yang sedari tadi lantang. Ini bukan rintihan usang, melainkan manifesto perlawanan yang menolak tumbang. Mereka menuntut hancurnya sistem yang mengekang, merebut kesetaraan yang lama berpulang, dan menciptakan ruang aman di setiap lapang. Di hadapan aspal yang kian legam, poin-poin itu dibacakan tajam: bahwa penderitaan ini nyata, dan perlawanan adalah satu-satunya pelita.
Penulis: Ahmad Reza Uzfalusi
Fotografer: Ahmad Reza Uzfalusi
