YANG, NYATA DAN PUISI LAINNYA

Yang, Nyata
Apa yang tersisa dari penyesalan?
Si Bodoh jangan mengambil dalih
Kau kehilangan semuanya
Nyata, pekikmu tak tersulang bahagia
Selamanya… Selamanya,
Terpantang, “Yang Nyata — Harapan”
Yang Nyata — Harapan
Kiranya
Beginilah kereta nasib
Yang lalu ialah yang nyata
Yang semu ialah yang hadir
Tak habis dilekang pilu
Untuk itu, aku terkutuk
Terkutuk disumpahi atas sendirinya
Hilang tangan malaikat
Semuanya ulah sang pikir
Sang pikir tak mau mengalah
Ia menjalankan keretanya sendiri
Sekilas ini jejak manusiawi
Sang pikir merasa si Hyang Jagat
Tersedu aku di pinggiran
Kukatakan,
“Masih bisa, sebab hati punya rasionalitasnya sendiri.”
Biar susah sungguh
Yakinku, tepian doa adalah ingatan
Menjeram tak tahu malu
Bagaimana bila sang pikir mengejekmu?
Kataku, biar waktu mengajak rendah diri
Bahagia akhirnya
Yang Nyata — Pisau Tumpul
Hatiku adalah gendera balairung
Yang
Tak mampu terasah
Tak segan terhina
Ia lugu, tertipu
Andai hati punya mata
Ia pasti tahu dunia kejam
Urung pandai terpolek kata dan masukan
Tertanam, kaca yang sangat pipih
Diam dan pecah oleh waktu
Seharusnya,
Kau tahu posisiku
Karena hati terlalu naif berbicara
Salah, bisa saja
Salah, pada akhirnya
Terjawab, “Yang Nyata — Goresan”
Yang Nyata — Goresan
Tidak, Dasar Bodoh!
Tak kuasa ku menahan malu
Tak hidup ku menawar rindu
Berlindung dibalik katanya
Tak kuasa, cinta
Salahmu tak apa
Seandainya hati tidak terlalu naif
Tak sampai hidup dimati udara busuk
Semua salahku
Yang Nyata — Goresan, ia
Aku tidak mengata mau lahir olehmu,
Tapi laksana aku bahagia dibesarkanmu
Suatu saat kau binasa kubuat
Kataku, “kita tidak menjalankan kontrak awal”
Si induk bersalah
Mengutuk diri selamanya
Jatuh nun jatuh, permatanya
Ganggam induk berniat bunuh diri
Induk yang,
BerTuhan
Yang Nyata — Selamanya
Apa kiranya cinta
Apabila ia kolam bejana: keindahan
Semua ku terbuai
Oleh waktunya
Sebagian, segalanya, tak pecah terisi
Apa yang sedang ditulis Tuhan dalam perang nasib
Dulunya,
Matiku jiwa mati
Datang kemudian ditampik sang hal
Ia, permata
Dipermainkan sang waktu
Sang hal sedang terperangah sakit
Tak tega
Sebentar saja, cinta
Kubunuh segala apa dibalikmu
Aku,
Biar kuingat selamanya
Biar terkutuk selamanya
Sembuh lah, Permataku
Penulis: Aku (kontribusi pembaca)
