UTBK: USAHA TANGGUH, BERBEKAL KEYAKINAN

0

Fotografer: Najmi Alifsya

MALANG-KAV. 10 Matahari masih betah menggantung di langit Malang ketika jarum jam merambat pelan menuju pukul lima sore. Cahayanya yang keemasan menyentuh kursi-kursi kayu di depan perpustakaan Universitas Brawijaya (UB), tempat dua perempuan duduk berdampingan—Lova dan Sausan. Keduanya baru saja keluar dari ruang UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer), mengakhiri tes masuk perguruan tinggi yang persiapannya telah menyita waktu mereka selama berbulan-bulan. 

Mereka bertemu di media sosial. Lebih tepatnya, di sebuah grup WhatsApp yang mempertemukan calon peserta UTBK dari jalur yang sama. Meski berjuang untuk tujuan yang berbeda—Sausan yang mengincar Ilmu Politik dan Lova yang mantap memilih Farmasi, keduanya mendapati kenyataan bahwa mereka dijadwalkan pada tanggal, sesi, bahkan lokasi yang sama. Keajaiban kecil itulah yang akhirnya mempertemukan Sausan, sang warga lokal Malang, dengan Lova yang datang jauh-jauh dari Bojonegoro untuk berjuang bersama melewati UTBK.

Lova menempuh perjalanan yang tak singkat untuk bisa menginjakkan kaki di UB. Dari Bojonegoro, ia mengemas keberaniannya dan berangkat menuju Malang seorang diri. “Jadi bener-bener naik kereta sendiri terus di sini [Malang] baru ketemu kakakku,” kenangnya.

Ia bahkan rela tiba beberapa hari lebih awal demi melakukan survei gedung karena tak ingin tersesat di hari yang paling menentukan dalam hidupnya. Di Malang, sang kakak telah menunggu di sebuah kos yang letaknya cukup jauh dari kampus impian Lova. Sisa hari Lova bersama sang kakak pun, kemudian dihabiskan bersama untuk menyusuri kota, memberi kepala yang penuh hafalan itu sedikit ruang untuk bernapas.

Saat sesi ujian berlangsung di siang hari, rasa lapar dan kantuk menjadi lawan tambahan di samping soal-soal logika. Aturan yang mengharuskan mereka masuk ke ruang ujian 30 menit sebelum dimulai pun merampas kesempatan untuk menikmati makan siang.

“Lapar. Pas subtes LBI (Literasi Bahasa Indonesia) itu, perutku keroncongan,” keluhnya diiringi tawa renyah. 

Ia juga mengaku terlalu fokus mempersiapkan diri dengan materi-materi yang rumit, hingga saat soal yang lebih sederhana muncul, ia justru tersandung. “PPU (Pengetahuan dan Pemahaman Umum) tuh enggak sepanjang di tryout-tryout, tapi minusnya karena aku belajarnya terlalu [banyak mempelajari] yang susah-susah, yang simpel malah enggak bisa,” katanya. 

Di tengah wawancara, sebuah interupsi kecil memotong percakapan. Seorang petugas keamanan menghampiri, membawa sesuatu di tangannya—KTP Sausan, yang rupanya jatuh entah sejak kapan. 

Seulas senyum jahil terbit di wajah bapak tersebut. “Makanya saya tanya, ayo, di mana jatuhnya?”

Sausan hanya bisa tersenyum kaku antara malu dan lega yang campur aduk, sementara tangannya bersiap menerima kembali KTP-nya yang ternyata ditemukan di rektorat. Ia bercerita bahwa ini adalah kali kedua ia nyaris kehilangan kartu identitasnya dalam sehari. “Tadi pas berangkat juga KTP-ku tuh hilang, tapi kayak, wow, ditemuin orang gitu loh.”

Namun, jika urusan KTP berakhir dengan rasa lega, lain halnya dengan apa yang ia temui di balik meja ujian. LBI—subtes yang Sausan kira akan menjadi bagian paling aman ternyata menyimpan soal fisika dan kimia di dalamnya. “Dia [LBI] tuh, malah sulit karena ada fisika kimianya,” ungkapnya. 

Hari itu, Lova dan Sausan tidak hanya menyelesaikan ujian, tapi juga menemukan teman berbagi untuk menertawakan segala kerumitan yang baru saja mereka lalui

Tak Kenal Lelah

Ratusan peserta Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) lainnya berjalan dengan ekspresi serupa—lega bercampur cemas, seolah masih tertinggal di depan layar komputer yang baru saja mereka tinggalkan. Namun, yang keluar dari ruang ujian hari itu bukan hanya tubuh yang lelah, melainkan juga pikiran yang masih bergulat dengan soal-soal yang belum sepenuhnya terjawab.

Halaman Fakultas Kedokteran UB sore itu riuh oleh langkah kaki yang tak lagi seragam. Di tengah deru mesin kendaraan yang saling bersahut-sahutan, para peserta mulai larut dalam kesibukan masing-masing. Ada yang jemarinya sibuk mengetuk layar ponsel untuk memesan ojek online, ada yang saling bertukar tawa canggung dengan kawan baru, dan tak sedikit yang bergegas menghampiri keluarga yang sejak tadi setia menunggu

Di tengah hiruk-pikuk itu, Saskia berdiri sendirian dengan ponsel di tangan. Sebagai remaja yang baru saja menanggalkan seragam abu-abunya, keberaniannya datang jauh dari Kediri seorang diri adalah sebuah pertaruhan yang cukup besar. Tak ada keluarga yang menjemput atau teman yang menemani. Ia bahkan rela mencari kamar kos singkat yang bisa ditempati barang satu atau dua malam saja—tempat singgah sementara hanya untuk  ujian, memejamkan mata, lalu kembali pulang.

Persiapannya tidak main-main. Berbulan-bulan ia belajar lewat buku Wangsit dan King, mengerjakan soal-soal tryout, mengulang materi yang belum yakin. Bahkan malam sebelum hari UTBK tiba pun ia masih membuka buku dengan mengulang lagi materi yang pernah ia pelajari seolah pengulangan adalah bentuk doa yang ia panjatkan.

Tapi begitu layar menyala dan soal pertama muncul, soal-soalnya terasa asing. Pola yang selama ini ia pelajari tidak muncul seperti yang ia bayangkan. 

“Agak sedikit kecewa juga sama diri sendiri, karena soal-soalnya itu di luar prediksi. Jadi otak tuh kayak benar-benar enggak mampu.”

Suhu dinginnya ruang ujian juga membekas bagi Saskia. Demi kursi di jurusan Arsitektur yang telah lama ia incar, ia harus bertarung dengan fokus yang terusik. Pasalnya, ia duduk tepat di depan AC (Air Conditioner) yang hawa dinginnya langsung menghantam sepanjang ujian berlangsung. “Di ruangan itu benar-benar dingin. Aku duduknya itu benar-benar di depan dekat AC langsung,” ujarnya.

Suhu yang terlalu rendah membuatnya tidak nyaman, seolah dingin itu ikut mengganggu fokusnya saat mengerjakan soal. Detail kecil yang mungkin luput dari perhatian, tetapi cukup terasa bagi peserta yang mengalaminya. 

Meski demikian, suasana umum pelaksanaan UTBK di Universitas Brawijaya tetap ia nilai nyaman. Lebih dari sekadar tempat ujian, kampus itu telah lama menjadi bagian dari impiannya. Saskia berharap, kerja kerasnya akan berbuah manis di pengumuman nanti.

Sore itu, ketika langkah kaki para peserta mulai menjauh dari gerbang kampus, yang mereka bawa pulang bukan hanya rasa lega karena beban ujian telah terangkat. Namun juga keyakinan bahwa mereka telah memberi kesempatan terbaik bagi mimpi mereka sendiri untuk tumbuh dan diuji di sana. Terlepas dari deretan soal yang sukar untuk dikerjakan, mereka sudah berjuang sampai batas maksimal dan melakukan yang terbaik. Kini, sisanya hanya tinggal menunggu waktu sampai pengumuman keluar untuk menentukan langkah mereka selanjutnya.

Penulis: Najmi Alifsya
Editor: Fenita Salsabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.