AKSI KAMISAN KE-135: PERINGATI TRAGEDI KANJURUHAN DENGAN PERTUNJUKAN TREATIKAL
Fotografer: Nabila Riezkha Dewi
MALANG-KAV.10 Di tengah guyuran hujan pada Kamis sore (9/4), barisan para pemuda berpakaian hitam berkumpul untuk melakukan Aksi Kamisan ke-135. Di depan Balai Kota Malang, mereka melakukan Aksi Kamisan dengan mengusung tema Justice for 135+.
Aksi dimulai dengan orasi massa aksi tentang pembunuhan yang dilakukan oleh aparat. “Polisi kita lagi-lagi membunuh dan bukan hanya satu [atau] dua nyawa, tapi 135 lebih dan hingga sekarang di tahun 2026 ini, [kita] belum mendapatkan kejelasan atau keadilan apapun,” ujar salah seorang orator.
Orasi dilanjutkan dengan pesan dari inisiator Kamisan di Jakarta. “Perlawanan tetaplah sebuah perlawanan, keadilan tetaplah sebuah keadilan walaupun kita adalah kaum-kaum minoritas.”
Massa aksi juga menyoroti banyaknya korban tragedi Kanjuruhan bukanlah suatu angka saja. “135 nyawa lebih angka yang banyak. Tetapi itu [hanya] statistik bagi mereka [aparat].”
Aksi dilanjutkan dengan penampilan teatrikal bertemakan Kanjurusuhan sebagai bentuk perlawanan dari teman-teman seni UM (Universitas Negeri Malang) dan UNESA (Universitas Negeri Surabaya). “Seni adalah bentuk perlawanan, mengkritik dan menggambarkan dengan jelas, membuat kita berimajinatif. Dan seperti inilah padang lapangan. Seperti inilah yang andai kata kita bisa lihat dengan mata mata,” ungkap koordinator aksi.
Lebih lanjut, massa aksi mengheningkan cipta selama 135 detik sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada para korban. “Mengheningkan cipta 135 detik tadi adalah bentuk simbolisasi kami untuk kesedihan atau kemarahan yang kami bawa bawakan,” ujar Baskara (bukan nama sebenarnya), salah seorang fasilitator aksi. Ia menambahkan bahwa 135 detik disesuaikan dengan jumlah korban Kanjuruhan.
Kamisan diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap untuk mengusut tuntas Tragedi Kanjuruhan, dan menuntut untuk memulihkan kondisi psikologis keluarga korban serta membuat rakyat tetap merawat ingat.
“Kanjuruhan, usut tuntas!”
Penulis: Muhammad Iqbal Rabbani
Editor: Nabila Riezkha Dewi
