SEJUMPUT KISAH DI BAWAH ATAP ASRAMA BRAWIJAYA
Sumber: griyabrawijaya.co.id
MALANG-KAV.10 Mulay sampai ke Universitas Brawijaya sekitar setahun lalu. Sosoknya datang dari Gambia, tanah air yang ia ingat pernah menjadi koloni kerajaan Inggris pada dua hingga tiga abad lampau. Di sini, tujuan awalnya hanya berkuliah: duduk di bangku Magister Akuakultur sebagai mahasiswa internasional. Dengan seluruh perbedaan yang ia bawa—lingkungan, makanan, hingga cara bersosialisasi; Mulay bertekad menyelesaikan studi itu dalam dua tahun.
Bermodal tekad itu, berbagai cerita selama menjadi mahasiswa dialami oleh Mulay. Salah satu hal yang cukup membekas baginya adalah saat datang ke asrama internasional pertama kali. Ia cukup kaget saat mengetahui kamar yang ia tinggali itu ternyata diisi oleh dua orang. Sebagai mahasiswa internasional, ia merasa kondisi kamar yang terlalu kecil itu cukup membuatnya kesulitan untuk beradaptasi, bahkan dalam beraktivitas sehari-hari.
“Sometimes you will want to study, you want to read. Your other partner will be lying down. And if you need to off, your roommates need to turn on the light. You cannot turn off the light. And some people once the light is off, sorry once the light is on. They cannot. They’re gonna sleep. So, that’s what might bring conflicts between room mates. So, it’s not it’s not it’s not good,” keluh Mulay.
Berbeda dengan Mulay, keluhan Reiju (bukan nama sebenarnya) tidak demikian. Sebagai mahasiswa lokal yang berstatus rantau, ia memang memilih tinggal di Rusunawa Dieng. Selain karena dekat, alasannya tinggal di sana berkaitan dengan keamanan dan kemudahan. Baginya, dengan tinggal di dalam asrama yang dinaungi kampus, berbagai kebutuhannya saat kuliah akan ditemui dengan mudah. “[Apalagi] aku kan enggak bawa motor jadi ya biar gampang lah gitu,” ujar Reiju.
Namun Reiju tidak bertahan lama di sana. Belum genap satu tahun, ia memilih pindah dan mencari kos-kosan. Menurut Reiju, salah satu faktor yang membuatnya pindah adalah terdapat beberapa kebutuhannya yang sulit terpenuhi ketika tinggal di sana. Dengan sejumlah uang yang telah dibayarkannya di awal, ia rela meninggalkan tempat tersebut sebelum menggenapkan waktunya.
Kendati demikian, bagi Mulay dan Reiju, tinggal di asrama kampus tentu menjadi pilihan awal mereka selama berkuliah. Dengan branding nama universitas, mereka bersedia membayar dan tinggal dengan harapan kuliahnya akan berjalan dengan lancar.
Fasilitas yang Tak Sesuai Ekspektasi
Setelah membayar sekitar 9 juta untuk satu tahun penuh tinggal di asrama, Reiju mencoba bertanya siapa kawannya di kamar nanti. Ia menyatakan harapannya untuk bisa sekamar dengan anak sejurusannya. Namun peraturan asrama tidak menghendaki itu. Seluruh penghuni akan mendapatkan plottingan-nya masing-masing, kata pengelola asrama. Reiju menerima saja alasan itu.
Tak lama setelahnya, plottingan dibagikan. Reiju yang mengetahuinya langsung coba menengok kamarnya. Ia merasa kamar tersebut cukup luas untuk ditempati dua orang sekaligus. Beberapa fasilitasnya pun membuatnya nyaman: ada kamar mandi dalam dan suhu ruangannya dingin. “Kan dingin ya di rusun tuh. Terus ada kamar mandi dalam [juga],” jelasnya.
Namun, kenyamanan yang dirasakan Reiju kurang lebih hanya sebatas itu. Beberapa fasilitas lain, menurutnya, membuatnya mulai menampik ekspektasi awalnya saat tinggal di sana. Ia bercerita bahwa di dalam kamarnya sendiri, sinyal Wi-Fi yang diterimanya hanya satu bar. Akibat absennya internet itu, kebutuhan sehari-hari terasa lebih susah untuk ditunjang. Ia berujung harus membeli kuota sendiri agar bisa tetap menunjang aktivitas dengan dunia maya. “Kayak kurang aja enggak ada [sinyal] Wi-Fi [yang masuk ke kamar],” keluh Reiju.
Selain itu, ekspektasi Reiju atas kenyamanan tempat tinggalnya juga didobrak oleh nihilnya kulkas di sana. Menurutnya, dengan banyaknya orang yang tinggal di Rusunawa, keberadaan kulkas menjadi penting untuk menyimpan makanan. Selain itu, tidak adanya kompor juga meresahkan Reiju. “Nggak ada kompor. Katanya dulu ada, tapi mungkin karena isi ulang gasnya juga kurang kondusif. Jadi sekarang nggak ada kompor,” ujarnya.
Padahal, menurut Reiju, di Rusunawa tidak ada kantin untuk membeli makanan berat. Akibatnya, beberapa penghuni memilih untuk membawa panci listrik sendiri ataupun memesan makanan online. “Terus kayak aku kira tuh di Brawijaya Mart ada jual nasi gitu-gitu. Ternyata enggak,” tutur Reiju.
Berkat alasan-alasan itu, Reiju kemudian memutuskan untuk pindah dari sana sebelum genap masanya. Sejumlah kebutuhan sehari-hari yang belum tersedia membuatnya memilih untuk mencari hunian lain di sekitar kawasan kampus Dieng.
Berbeda dengan Reiju, keluhan yang disampaikan Mulay datang dari penempatan mahasiswa di kamarnya. Menurut Mulay, kamar yang disediakan terlalu kecil untuk ditempati dua orang dewasa. Meskipun tersedia dua tempat tidur, ruang yang terbatas membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit.
Menurutnya, berbagi ruang yang terbatas juga dapat menimbulkan persoalan sederhana yang sulit dihindari. Waktu belajar, membaca, tidur, hingga penggunaan lampu dapat saling berbenturan antar-penghuni kamar. Tentu itu bisa mengganggu proses studinya yang ia targetkan selesai selama dua tahun. “Karena kami akan tinggal di sini selama dua tahun. Kami perlu belajar, membaca, tidur, dan berkomunikasi dengan keluarga. Kalau dua orang dewasa ditempatkan dalam satu kamar yang kecil, itu bisa menimbulkan masalah,” ujar Mulay.
Kendati demikian, saat ini, Mulay telah mendapatkan kamar dengan dirinya sendiri sebagai penghuni tunggal. Setelah menyatakan komplain pada petugas, ia tak lagi menempati satu kamar dengan isi dua orang. Meski begitu, ketidaknyamanan Mulay tidak berhenti pada fasilitas fisik. Di kemudian hari, ia menemukan bahwa perbedaan bahasa cukup membuatnya kesulitan saat hidup di UB.
Perbedaan Bahasa sebagai Dilema
Kebutuhan untuk mendapatkan teman tentu tak terpisahkan dari kehidupan Mulay. Ia berkisah bahwa tak banyak mahasiswa Indonesia yang bisa berbahasa inggris. Sebagian mahasiswa Indonesia, menurut pengalamannya, masih merasa kesulitan berbicara menggunakan bahasa Inggris dan khawatir membuat kesalahan ketika berkomunikasi. Ketika ada mahasiswa yang mencoba menggunakan bahasa itu, beberapa orang lain malah menertawakannya. “If they speak English, people may laugh at them,” ujar Mulay.
Padahal menurut Mulay, komunikasi dengan bahasa inggris menjadi salah satu hal yang paling penting bagi mahasiswa internasional di UB. Menurutnya, mahasiswa internasional juga hanya memiliki kemampuan dasar dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, kesempatan untuk berinteraksi dan bersosialisasi menjadi terbatas. Tak jarang ia merasa kesepian karena hanya tiga mahasiswa yang bisa ia ajak berbahasa inggris dengan lancar. Oleh karenanya, penggunaan bahasa inggris sebagai bahasa internasional sangat penting bagi kehidupannya di sini.
Sebab alasan itu, ia merasa bahwa UB perlu untuk memperbaiki lingkungan tersebut. Menurutnya, penggunaan bahasa Inggris dalam lingkungan universitas perlu ditekankan agar mahasiswa internasional dapat berkomunikasi dan beradaptasi dengan lebih mudah. Selain itu, menurut Mulay, dengan menguasai bahasa Inggris, “You’ll be marketable.” Namun, kemampuan itu tidak cukup dibangun melalui pembelajaran secara formal, namun juga berani untuk bicara dalam kehidupan sehari-hari
Penulis: Unaisah
Editor: Muhammad Tajul Asrori
