Seruan Luhur: Aksi Tuntutan Etika Moral kepada Pemerintah

0

Massa Aksi Senin (5/2) Alun-Alun Tugu Kota Malang

MALANG-KAV.10 Akademisi dan masyarakat sipil Malang Raya bersatu dan menyuarakan beberapa tuntutan terhadap kondisi demokrasi belakangan ini. Sebanyak 86 aksi massa terdiri atas para guru besar, akademisi, NGO, tokoh masyarakat, para pekerja seni, dan mahasiswa Malang Raya berkumpul di Alun-alun Tugu Kota Malang, Senin (5/2).

“Ini adalah gabungan dan sebetulnya tidak mewakili nama institusi, tetapi membawa identitas pribadi dari seorang guru besar, akademisi, dosen, mahasiswa, dan kami meleburkan diri di dalam perkumpulan ini. Jadi ada lintas universitas, ada UB, ada Widyagama, Unisma, dan sebagainya,” ucap Rafly Raihan, Presiden EM 2023 yang ikut serta dalam aksi ini.

Dalam mimbar yang dibacakan oleh Dosen Fakultas Hukum Universitas Widyagama, Dr. Purnawan D. Negara, SH., MH., dua poin teratas yang juga menjadi tajuk seruan itu adalah desakan kepada para pemerintah untuk menjadi teladan etika/moral dalam berpolitik.

Berikutnya, mengenai gejala praktik penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan yang terjadi mendekati hari-H pemilu saat ini, juga dibacakan  dalam tuntutan mereka dalam seruan ini. Hal ini tertuang pada poin ketiga yang berisi, “Menuntut Presiden beserta semua aparatur pemerintahan untuk berhenti menyalahgunakan kekuasaan dengan tidak mengerahkan dan tidak memanfaatkan sumber daya negara untuk kepentingan politik praktis.”

Seruan Luhur ini ditujukan juga kepada DPR dan DPD untuk mengambil sikap dan aktif mengoreksi sebagai institusi yang punya fungsi terhadap jalannya demokrasi negara ini. Mereka menaruh tuntutan ini dalam poin keempat.

Seruan-seruan lain juga ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga moral etika masing-masing dan ikut serta dalam menjaga pemilu yang JURDIL. Semua ajakan ini guna mempertahankan harkat dan martabat bangsa Indonesia di tengah rendahnya keteladanan moral dan etika kepemimpinan yang ditunjukkan oleh pemimpin negara saat ini.

Purnawan juga menyampaikan bahwa seruan ini tidak ditujukan pada pemimpin negara secara personal. Melainkan pada seluruh aparatur negara dan juga partai-partai besar yang mulai memudar nilai-nilai etika/moralnya. “Apa yang terjadi dengan ketua partai-partai itu? Mereka saling sindir, saling singgung, saling menunjukkan bagi-bagi kekuasaan. Hal-hal seperti itu menjadi memperihatinkan,” pungkasnya.

Penulis: Badra D. Ahmad

Editor: Adila Amanda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.