SUARAKAN TUNTUTAN ATAS KEBIJAKAN BBM: MAHASISWA UM GELAR AKSI SOLIDARITAS UNTUK HANA

0

Fotografer: ASH

MALANG-KAV.10 Sore hari itu (11/6), halaman rektorat Universitas Negeri Malang (UM) menjadi tempat ratusan mahasiswa menyuarakan protes yang tumbuh atas kekecewaan terhadap kampus. UM ditekan atas persiapan kampus terhadap program Kuliah Kerja Nyata yang bernama BBM (Belajar Bersama Masyarakat) UM yang dinilai memunculkan beberapa kritik. Keresahan kolektif terhadap program ini akhirnya menemukan titik puncak ketika Hana Zahra Salsabila meninggal dunia pada Rabu lalu (10/6). Hana ialah mahasiswa yang meninggal setelah mengalami kecelakaan saat melakukan survei lokasi BBM UM.

Aksi sore itu diinisiasi oleh kolektif Gerakan Mahasiswa Cakrawala UM (Geram Cakrawala) beserta Arek Cakrawala (ACX). Massa aksi kemudian didominasi dari kalangan angkatan 2024 yang merasakan dampak langsung daripada program. Meski demikian, aksi juga dihadiri berbagai angkatan dan elemen mahasiswa seperti BEM dan DPM. “Kita di sini memberikan undangan kepada seluruh mahasiswa yang resah, siapapun itu, dari angkatan berapapun itu,” ujar Taufiq, koordinator lapangan, saat diwawancara selepas aksi.

Taufiq mengatakan bahwa tujuan aksi adalah bentuk pemanjatan doa beserta aspirasi terhadap pemangku kebijakan. “Acara utamanya adalah terkait doa dan duka bersama ini tadi. Kemudian kita berusaha untuk bikin forum terbuka supaya teman-teman BEM dan DPM turut dapat menyaring aspirasi yang disampaikan teman-teman,” ucapnya.

Ia juga menilai bahwa banyak mahasiswa yang menganggap bahwa aksi sore itu menjadi momentum puncak ketika keresahan individu tersemai menjadi bom waktu. Menyoal hal tersebut, Taufiq menjelaskan bahwa, “Konteks bom waktu adalah ketika dari awal teman-teman yang terkena program [BBM] ini yang sebegitu mendadaknya. Lalu semakin banyak faktor [seperti kasus pelecehan] yang menjadikan ini bom waktu.”

Dalam aksi tersebut, hadir pula unsur dosen sebagai pihak yang menampung aspirasi. Terlihat pula kehadiran Wakil Rektor 1, Ibrahim Bafadal, dalam demonstrasi tersebut. Selain itu, Siti—salah satu dosen UM—membuka suara terkait bentuk-bentuk pernyataan mahasiswa, “Kami sebagai dosen sangat merasakan bentuk duka terhadap korban.” 

Hal ini kemudian ditimpali dengan pernyataan tegas mahasiswa yang langsung menyoal terkait solusi yang harus dilakukan kampus, “Kami menyatakan dengan sepakat bahwa hal yang harus didesak sesegera mungkin adalah soal asuransi,” tegas satu mahasiswa dalam orasi.

Meski kalangan dosen telah hadir dalam aksi, pandangan mahasiswa terhadap hal tersebut masih dianggap sebagai pernyataan semu sebelum apa yang dituntut sampai terealisasikan. Menanggapi hal ini, Taufiq berkata, “Meskipun intensi kampus dalam aksi ada, tapi yang dibicarakan masih normatif. Enggak konkrit dan kita tidak melihat adanya sinyal-sinyal transformatif yang dilakukan oleh kampus,” ucapnya. Taufiq mengharapkan evaluasi konkret yang dilakukan oleh rektorat. 

Mengakhiri acara, massa aksi secara keseluruhan melakukan doa bersama dengan didahului seremonis pembakaran lilin sebagai bentuk penghormatan teruntuk korban.

Penulis: FFF
Editor: KID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.