Terrace karya John Henry Twachtman

Kita Jelma Apa Saja di Dunia

Pagi itu aku turun dari bus dan dari pesawatku dan dari koper-koperku, dari tanggal-tanggalku.
Aku menaruh pundak di anak tangga sambil melepas tali sepatu lalu aku mendengarmu bersenandung rindu dan peluk
Aku menghablur di kedua tanganmu, kataku hilang dan aku hanya mampu berucap gugugaga atau mamamama
Aku rontok seperti daun pohon mangga yang akarnya merusak ubin teras rumah, berdiam sembari kau menggiringku ke semangkuk rawon hangat
Sembari aku makan, kuharap kau dengar puisiku yang kulafalkan diam diam:

Engkau adalah mercusuar yang menyala berpendar-pendar, melintang-lintang menjadi satu-satunya kebenaran yang dipercaya burung camar. 
Adalah dermaga yang menggigil diterpa laut yang dinginnya kejam tapi kau tak pernah mau runtuh. 
Adalah dasar laut tempat ikan-ikan dengan nyaman tenggelam dan karang bertamu bertahun lalu tanpa malu.

Engkau juga adalah teras yang gemar dikunjungi daun-daun yang meranggas tanda rindu akan aroma roti dari oven besimu yang dengan cermat kau pilih menteganya. 
Engkau berjaga di malam-malam, mengingatkanku akan lampu minyak yang digantung di ruang tengah dan rumah tidak pernah gelap lagi setelahnya. 
Namun engkau juga adalah ranjang berkelambu kuno yang diam-diam ingin disemayami oleh cinta yang asli, yang tidak bisa diakali.

Sementara, tubuhku badan perahu yang tidak pernah tahu cara menyelam. 
Kudiamkan kaki-kakiku agar tanganmu yang jelma ombak itu mengajariku bernapas di bawah gelapnya palung. 
Dan ketika itu aku tidak pernah mau tahu bagaimana berenang, tidak mau kupelajari dinginnya laut yang kau tahan-tahan itu, aku tidak pernah mau tanpamu. 
Dan aku juga mulai berkarat sehingga kulemparkan riuban pasak-pasak yang kau tangkap dengan perlahan. 
Dengan lembut kau cium besiku seperti kuingat kau menciumku.

Di musim semi berikutnya aku menjadi ulat bulu yang tak punya rumah, mendadak di hadapanku kue bolu yang aromanya sepertimu dan rambut ungumu. 
Di balik jendelamu aku meringsut takut tak bisa membedakan musim salju dan musim gugur, tapi lampu minyak di ruang tengah itu selalu membuatku merasa hangat tak pernah berangsur. 
Aku adalah selimut yang tak pernah punya tempat lain selain di antara himpitan kasur dan bantal-bantal berjamur, jadikan tempatku tidur dan tempatku menunggu dijemput maut.
Rawonku tandas dan aku tak mau melakukan apa-apa selain dibungkus rapat dengan dastermu yang pudar dan diucapkan selamat malam.

Penulis: Celyna Gantari (kontribusi pembaca)


Malam Musim Panas di Teras New England 1947

serambi kering oleh sisa
kemarau panjang & sepasang bayangan
menyekap kebuntuan. luput dari hardik,
piring yang dibanting, tanpa soda fountain,
sapaan, cemilan murahan & segelas
air putih tebusan.

di bawah lampu pendar, kau
memergoki postur si puan: dibalut
gaun musim panas, rambut blonde
yang akut, mengumpat lengan erat-erat. 
sedang di sudut kursi, surai klimismu 
dibiarkan kempis. tergerus arus 
minyak rambut. menimang malaise
yang dikalungkan pasca-perang.

celana cokelat tentaramu
menyaru dengan kusen jendela,
& kaus birumu mencoba
kolaborasi dengan langit-langit
serambi: membungkuk, merangsek
seperti reptil yang menggigil. &
menawari narasi kencan yang
telanjur basi. sementara matanya
mendeteksi senyap di papan
lantai. & mengidap tragedi
paling maknawi: membusuk 
pelan-pelan oleh kebosanan.

kau menelan kecut Frank Sinatra
dari balustrade, menertawakan
kangen yang karatan di tenggorokan.
sementara ia melarikan diri pada
pikiran: kultural, standar wanita ideal, 
soal-soal trivia, tuntutan domestik, gaya 
dansa lindy hop & kuis Cosmopolitan.
 
yang tak pernah bisa menjawab 
kenapa kalian lupa cara berpelukan.

kau malah terus-terusan merapal
omong kosong maskulinitas &
moralitas. menguasai percakapan bagai
tirani mini di ambang pintu orang tuanya. 
& dia melipat lengan kuat-kuat. merakit
batasan dari kekosongan paruh
abad dua puluh. & menyerah
pada godaan flirting yang
lebih mirip wajib militer.

& bulan justru makin memucat,
kau pun mengunyah krisis kompromi
bermakna: cat terkelupas, lantai
dingin-kering, dua kepala membidani
Casablanca mereka sendiri
: mengebulkan
asap Sirene & mengembarai samudra
tak terseberangi. padahal spasi cuma
sejengkal jemari, tapi terasa seperti
jutaan tahun cahaya.

udara musim panas terlalu
berat. mengotori kakinya yang pucat.
di luar awning, gelarmu, pengecut. & kau
barangkali berharap entah kapan cukup berani
mematikan bara api ke sol derby-mu.
mengakhiri demarkasi ennui ini, & menatap
matanya lurus-lurus. bersiap membantai sisa
romansa dengan satu anggukan tolol,
dan menyeringai selagi dia berbalik menuju
ranjang yang murni miliknya sendiri. sebab kau
telanjur asing. telanjur, asing.

(2026)

Penulis: Sayyid Muhammad ‘Aziez (kontribusi pembaca)


Berlumut

Tawa-tawa lenyap
Kekosongan itu merayap
kembali ke teras-teras yang hilang
sanak-saudara yang mulutnya 
penuh remah tamah rengginang
Yang sempat terkena tipu Khong Guan

Latar depan rumah kembali 
menyatu bersama hijau rumpai,
lalu riuh oleh cacing-cacing 
kadang semut yang tandang rezeki
dari sisa-sisa yang terselimpit
yang tak sempat tersapu bersih
Sudah tidak ada waktu, mungkin

Tidak licin porselen, hingga kesat keset
sebab tidak ada lumut yang perlu
ia licin, menggelincirkan jejak-jejak
tertimbun barangkali,
dan dijaga oleh koloni 
hingga dibabat habis mereka
oleh ramah tamah sanak-saudara

Penulis: Elvaretta Rahma Devina


Kupu-Kupu Hari Itu

Malam bersajak macam biasa
Katanya sunyi, namun nyata berisi
Dia bergerak dalam gemerincing irama
Selagi tangan berkelebat dada
Ia akan baik-baik saja

Lampu jalan padam sudah saat ia berkelana
Sempoyong sambil mengepit tas bernama
Biarlah dia tuli lagi hari ini
Sebab memang ia sudah tidak merasa lagi
Hanya senyuman tipis bersambut tawa riang
Selalu ada di sana untuk menyambutnya pulang,
“Mama, selesai sudah malam ini. Selamat kembali ke rumah.” 

Penulis: Aisyah Aprilia Syofi


Belalak

tak pernah ku lupa untuk bersua dengan kalian
sungguh geli melihat mimik-mimik bangsat itu
mau bagaimana lagi, kalian tak bisa dihindari

tak pernahkah kalian bercermin? ANJING
ekspresi kalian itu lo, seolah akan klimaks ketika melihat diriku
tak adakah zat lain yang dapat memuaskan nafsu kalian?
naudzubillah

aku yakin, kalian adalah manusia super
tak henti-hentinya menatapku, seolah aku tikus yang siap dibelek
melihat apa yang tak pernah kulihat dalam diriku
mendengar hal mistis dalam diriku
mencium aroma diriku yang bahkan tak pernah kucium sendiri

sungguh luar biasa kuasa indera kalian
pasti sulit untuk menahannya kan?
berlagak seperti tuhan dengan mendikte diriku

PERGI DARI TERASKU!!!!

oh, benar juga
jika kalian adalah manusia super, maka aku berhalusinasi
jika kalian adalah tuhan, maka kalian tak lebih dari metafisika

dungunya diriku
untuk apa peduli dengan kalian
kalian tidak ada

Penulis: Nadil Ulum Annafis


Engkau dan Teh

Terlihat engkau
enggan bergerak barang sedetik.
Ratapmu pilu.
Akankah matamu akan selalu
sedih, Sayang?

Tahu aku.
Engkau tak ingin kutinggal.
Rasa teh dingin di meja.
Akankah rasa
sedapnya menghilangkan kacau pikirmu?

Sayang,
aku tahu aku sudah berpulang.
Ruhku sedih daripada engkau.
Enggankah dirimu
tertawa saja hari ini? Menghiburku?

Sayang,
aku baik-baik saja.
Rupaku memang tinggal tulang.
Engkau tak perlu menangis.
Tertawalah bersama teh itu.

Tidak, jangan tersedu.
Engkau kuat dan perkasa.
Rupamu yang penuh air mata itu,
aku tak mau melihatnya.
Sayang, kumohon tertawalah.

Tuhan, aku tersiksa.
Engkau dan siksa kuburmu masih kalah.
Ruhku memohon kembali.
Aku ingin memeluknya.
Sayangku menangis, aku tak sanggup.

Sadarkah Engkau, bahwa
aku dan dia seharusnya tak berpisah?
Ratapi kami, Tuhan.
Engkau Maha Pengasih.
Tuhan, hapus air matanya dan rasa sakitku.

Sesungguhnya.
aku tak merasa mati, Tuhan.
Ruhku terbakar oleh kesempurnaan-Mu.
Entahlah.
Teh itu tak bisa menghibur pada akhirnya.

Tuhan, aku meminta
Engkau
Ratapi
Aku dan
Sayangku ini.

Tidakkah
Engkau
Rasa 
Aku dan dia seharusnya
Satu tanggal mati?

Penulis: Nur Istiyanti 


yang telah mati

pada bentang ubin yang kian pudar,
sebuah tunggu telah mekar dan menjalar,
merambati kaki kursi, membelit doa yang nanar;
sedangkan waktu menjelma rayap yang lapar,
menggerogoti rindu hingga habis tak terpapar.

angin mei itu masih betah mengecup ujung pintu,
membawa amuk mesiu dan karat yang menyatu pada sebuah cakap yang terputus di ujung waktu;
mengantar anyir yang enggan berlalu

sebab di teras ini, kami mulai bertanya-tanya,
adakah hidup sekadar lilin di tengah badai yang liar,
sesuatu yang boleh direnggut paksa sebelum sempat berpijar?

Penulis: Fenita Salsabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.