AMARAH BRAWIJAYA TOLAK NOTA KESEPAHAMAN PRESIDIUM AREMANIA SOAL LAGA PERSEBAYA VS AREMA FC DI KANJURUHAN

0

Sumber: Undangan Korwil/Komunitas Arema

MALANG – KAV.10 Laga derbi Jawa Timur (Jatim) Persebaya melawan Arema FC hendak diselenggarakan pada tanggal 28 April 2026 di Stadion Kanjuruhan. Menyikapi hal demikian, beberapa keluarga korban didukung masyarakat Malang Raya menolak (03/04) laga tersebut diselenggarakan. Di hari yang sama, presidium Arema Utas kemudian mengundang banyak koordinator wilayah (korwil)/ketua komunitas Aremania untuk menghadiri sosialisasi dan penandatanganan nota kesepahaman. 

Pada hari Minggu ini (05/04), acara tersebut diselenggarakan di Pendopo Panji Kabupaten Malang. Mengetahui adanya sosialisasi dan penandatanganan nota kesepahaman, Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (Amarah Brawijaya) mengeluarkan pernyataan sikap (04/04) untuk menolak nota kesepahaman dalam penyelenggaraan laga derbi Jatim. 

Dalam surat bernomor 024/PRES-ARM/IV/2026, Panitia Pelaksana, Manajer Arema FC, Presidium Arema Utas, Kapolres Batu, Kapolres Malang, Kapolresta Malang, Walikota Batu, Bupati Malang, dan Walikota Malang turut diundang ke dalam acara untuk memberikan sambutan. Pada akhir rangkaian acara, terdapat sesi untuk menandatangani “Nota Kesepahaman Menjaga Stabilitas Keamanan menjelang Pertandingan Arema FC versus Persebaya”.

Dalam pernyataan sikapnya, Amarah Brawijaya melihat bahwa Nota Kesepahaman tersebut tidak berusaha untuk menilai seberapa layak laga itu digelar. Oleh Amarah Brawijaya, Nota Kesepahaman yang diinisiasi Presidium Arema Utas dinilai hanya berusaha untuk mengamankan jalannya laga. Menurut Amarah Brawijaya, “Kesepahaman yang ditandatangani di atas ketidakadilan bukan kesepahaman. Ia adalah kesepakatan untuk melupakan.”

Dua puluh tiga hari menjelang laga berlangsung, Amarah Brawijaya juga secara tegas menolak pertandingan Arema FC melawan Persebaya diselenggarakan di Stadion Kanjuruhan. Mereka turut mengingatkan bahwa kapitalisme bekerja dengan menormalisasi tragedi, bukan dengan membantahnya. “Inilah wajah kapitalisme sepak bola yang sesungguhnya. Ia tidak peduli siapa yang mati di sini, selama stadion ini bisa kembali menghasilkan uang,” tegas mereka.

Penulis: Badra D. Ahmad
Editor: Sofidhatul Khasana 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.