SUATU GEJOLAK DI NEGERI KABIRI

Ilustrator: Gracia Cahyadi
Hindia-Belanda, 1925
Hindia berkobar! Rakyat bersatu dan melawan. Aturan Gubernur Jenderal yang baru adalah sebabnya. Dinyatakan bahwa sekarang ini serdadu Belanda diperbolehkan menggantikan lurah di desa-desa. Wedana dan Asisten Wedana, juga diharuskan mengangkat seorang mantri polisi untuk mengamati rakyat.
Sedang rakyat sendiri, hanyalah seorang petani dan buruh-buruh pabrik gula. Semakin banyaknya serdadu dan mantri polisi yang diangkat oleh pemerintah, nyatanya hanya menakut-nakuti rakyat. Sebab itu rakyat geram. Atas hasutan PKH, rakyat muncul keberaniannya dan melakukan protes. Adanya protes itu terjadi di banyak kota di Hindia.
Saia, Kabiri, Mede Redacture Harian Sinar Rakjat, perkenankan untuk menjelaskan ihwal protes yang terjadi di banyak kota. Laporan ini diberikan oleh kawan dari koran lain, di kota lain, yang belum sempat menerbitkan cerita ini sebab kantornya dibakar serdadu terlebih dahulu. Antara lain surat itu datang dari Harian Rakjat Bersatoe, Massa Bergerak, Majoelah Hindia, dan harian berbahasa Belanda yang bernama Onafhankelijk Indië.
Kahuripan, Maret 23 1925
Rakyat sudah bersatu. Aturan dari Gubernur Jenderal telah membuat rakyat takut. Serdadu bersenjata berpatroli siang dan petang mengawasi rakyat yang bertani dan bekerja. Setiap rakyat berkumpul, selalu mereka bubarkan, sebab dikira menghasut satu sama lain untuk tidak takut melawan.
Petang hari di hari Minggu, rakyat yang menjadi berani akhirnya berkumpul di kantor Asisten Wedana untuk protes. Karena hari itu Asisten Wedana sedang plesir, maka tidak seorang pun datang untuk berbicara pada rakyat. Tetapi lain hal, serdadu dan satuan mantri polisi juga berkumpul untuk membubarkan masa.
Sampai pada malam tiba, rakyat yang ingin didengarkan, dibubarkan paksa. Rakyat dipukul dan ditendangi pakai sepatu lars yang tebal dan keras. Tongkat-tongkat yang dibawa serdadu dipukulkan pada setiap rakyat yang protes. Bahkan satuan perempuan yang membawa keperluan obat-obatan, tak luput dari pukulan dan cacian. Mereka dikata, “Lonte”.
Jurnalis dan beberapa koran banyak yang dipukuli juga. Padahal mereka adalah siswa-siswa HBS yang sedang meliput. Serdadu pukul rata semua orang. Satuan mantri polisi yang bergabung dengan serdadu Belanda sepenuhnya menjadi kekuatan yang tak mampu dibendung rakyat kecil yang tidak bersenjata.
Orang-orang ditangkap. Antara lain ada enam orang, di antaranya adalah petani, siswa HBS, dan mantri dokter yang berjaga. Kejahatan satuan mantri polisi dan serdadu sudah membuat terror yang membuat rakyat semakin takut.
Semoga sahabat dalam lindungan, sehingga sahabat bisa menerbitkan ini untuk kemudian diketahui orang banyak. Tabik. Harian Rakjat Bersatoe.
Kota S, Maret 24 1925
Rakyat dipukul tapi tak pernah mundur. Saat protes aturan baru dari Gubernur Jenderal, satuan mantri polisi menjadi buas tak terkendali. Dalam mata para serdadu itu, rakyat dianggap musuh yang ingin memberotak. Kenyataannya rakyat hanya ingin hidup sentausa tanpa dibuat takut.
Di depan gedung kantoor Patih, rakyat berkumpul dan bersuara, ingin berbicara dengan Patih perihal aturan baru ini. Yang bersangkutan tidak bersedia. Diberi kawalan oleh banyak serdadu, Patih meninggalkan kantor. Rakyat dibuat marah oleh itu. Satuan mantri polisi dan serdadu Belanda yang berjaga, mengira teriakan rakyat adalah ancaman. Sebab itu mereka dipukuli dengan tongkat dan diancam untuk ditembak.
Tapi rakyat masih tegar. Banyaknya serdadu yang membabi buta, menangkapi rakyat dan menyiksa. Rakyat yang sebetulnya sudah takut, akhirnya terkepung. Tiada pilihan selain melawan. Dalam takut itu, rakyat memberontak. Tetapi sebab tidak punya kekuatan sebesar para serdadu itu, rakyat yang protes jadi porak-poranda.
Saat rakyat yang protes itu berlarian ke gang-gang dan pertokoan, para serdadu masih mengejar dan terus menghajar. Yang ditangkap tidak tahu bagaimana nasibnya. Siswa-siswa STOVIA yang turut protes banyak juga yang ditangkapi, sehingga banyak orang tua yang menangis karena anaknya tidak pulang.
Laporan ini semoga dapat diteruskan untuk membuat tahu rakyat di kota-kota lain. Semoga saudara dalam keselamatan. Tabik. Massa Bergerak.
Batavia, Maret 24 1925
Bendera PKH telah berkibar! Persatuan buruh di seluruh Batavia berkumpul di depan pintu masuk kantoor Gubernur Jenderal. Mereka berkumpul guna protes aturan yang berlaku. Para buruh protes tak ingin perusahaan-perusahaan dipimpin oleh serdadu Belanda yang tidak tahu cara berlaku pada buruh dan rakyat.
Selembaran-selembaran disebar-sebar ke jalanan. Antara lain selembaran itu berkata, “Poelangkan Serdadu ke Barak!”, “Serdadu Tak Tahu Cara Rakyat Berkehidupan”, dan “Mantri Polisi Harusnya tak Mengebiri Rakyat”. Kata-kata itu juga diteriakkan oleh rakyat yang berkumpul.
Siswa-siswa HBS, STOVIA, dan MULO turut pula memprotes. Mereka yang sudah berilmu tahu bahwa serdadu dan mantri polisi tidak seharusnya menjabat lurah. Sebab itu hanya akan membuat rakyat takut dan semakin sengsara. Keadaan Hindia saat ini sudah susah sebab pabrik-pabrik yang didirikan oleh Kolonial Belanda, sepenuhnya membuat rakyat kehilangan tanah.
Entah dirasuki setan apa, serdadu dan satuan mantri polisi yang datang menjadi sangat marah. Rakyat diberantas dan dimaki-maki. Auto untuk mengangkut rakyat yang sakit, dicegat tak boleh berangkat. Bahkan yang sudah sakit masih saja ditendangi. Dalam sejarah Hindia, hari ini perlu dicatat bahwa teror serdadu semakin nyata.
Rakyat sudah tidak takut pada hantu dan setan-setan di tempat angker. Rakyat lebih takut dipukuli dan disiksa oleh serdadu atau ditangkap satuan mantri polisi. Kantor harian kami telah dibakar. Mesin-mesin pencetak koran telah disita. Hoofd Redacture kami sudah ditangkap. Surat ini hamba sampaikan supaya saudara berkenan untuk menulisnya. Tabik. Majoelah Hindia.
Kota K, Maret 28 1925
…
Laporan dari Onafhankelijk Indië yang mencatat kejadian di Kota K, belum sempat saia baca. Dari apa yang disampaikan sahabat-sahabat sekalian, telah terang bahwa gejolak di Hindia telah masif. Tapi Gubernur Jenderal, dalam laporan koran-koran negeri, menyatakan tak terjadi suatu pun di Hindia. Dia mengumumkan bahwa Hindia makmur dan sejahtera. Demikian saia rangkum surat-surat laporan dari beberapa kota saja. Di kota-kota lain, di luar Java sekali pun, yakin hal-hal serupa juga terjadi. Hamba menyesali bahwa amanat dalam surat itu tidak dapat hamba kabulkan sebab sudah ditangkap ketika membaca surat-surat itu. Semoga catatan yang hamba tulis di balik jeruji ini kemudian dapat tersampaikan pada rakyat sekalian. Tabik. Kabiri, Mede Redacture Harian Sinar Rakjat.
Penulis: Moch. Fajar Izzul Haq
