PARKIRAN FP TIDAK TERKENDALI DAN KETIADAAN SOLUSI JANGKA PANJANG

0

MALANG-KAV.10 Keterbatasan lahan parkir masih menjadi salah satu persoalan di kalangan mahasiswa UB. Tidak sedikit mahasiswa mengeluh tentang kesulitan mendapatkan tempat parkir yang optimal, dan seberapa sulit untuk menavigasi tempat parkir yang sudah didapatkan. Masalah ini bisa dilihat jelas di Fakultas Pertanian (FP) UB di mana isu parkir menjadi semakin buruk belakangan ini.

“Akhir-akhir ini sebenarnya semakin parah, karena lonjakan dari mahasiswa baru juga kan semakin banyak.” Ujar Zainal, seorang mahasiswa FP dalam interview dengan awak Kavling10 pada kamis (14/12). Zainal mengaku bahwa lahan parkir FP menjadi tidak terkendali pada jam sibuk, dan penempatan kendaraan yang tidak teratur menyulitkan arus lalu lintas kendaraan. “Kadang kalau udah siang terus mau pulang itu ada beberapa mahasiswa, oknum yang meletakkan motornya di tengah-tengah jalan, sehingga untuk keluar saja itu terkadang sulit.” 

Menurut Zainal, masalah parkir di FP diakibatkan oleh kurang luasnya lahan parkir untuk semua civitas akademik. Masalah ini diperburuk akibat penggunaan sebagian lahan parkir yang disediakan untuk pembangunan sebuah taman, sehingga civitas akademik terpaksa harus pindah lokasi parkir mereka ke tempat lain. “Kan sebenarnya lahan parkiran ini digunakan sebagai lahan terbuka karena di depan itu ada pembangunan untuk air mancur, sehingga parkir itu dipindah ke depan.”

Walaupun memang lahan parkir yang baru masih jauh dari kata sempurna. Pada jam sibuk, lokasi parkir yang berada di pinggir jalan terkadang mengganggu lalu lintas di sekitar fakultas. Banyaknya kendaraan yang diparkir, dan kurangnya ketertiban seringkali mengganggu arus lalu lintas. “Di depan sendiri itu lokasinya juga masih kurang, masih kontroversial, karena depan itu kan di pinggir jalan kan, jadi itu lalu lalang kendaraan sering banyak.” Ungkap Zainal. 

Keluhan yang sama tentang kurangnya lahan parkir juga dikeluhkan oleh Mohammad Nojmuddin, kepala keamanan UB pada interview bersama awak kavling pada selasa (5/12). Menurut beliau, lahan parkir yang disediakan oleh kampus masih tidak mencukupi semua civitas akademik. “Sekarang mahasiswa 70 ribu, kita estimasikan 70 ribu. dalam satu hari, yang kuliah anggap aja separuh, 35 ribu. 35 ribu 70% bawa sepeda motor, 20 ribu, padahal lahan parkir yang ada cuma 17 ribu, dan untuk yang 3 ribu?” 

Nojmuddin menyatakan, bahwa pihak keamanan terpaksa membuat lahan parkir baru di luar area parkir yang ada untuk mengakomodasi civitas akademik yang memakai motor “Di FP penuh, semuanya penuh, ketika semua lokasi parkir penuh kita beri kebijakan, kita nggak akan menindak temen2 yang parkir pinggir jalan, selama itu terkumpul jadi satu, nggak mencar-mencar, dan tidak mengganggu arus lalu lintas.”

Solusi yang dibuat oleh pihak keamanan masih memiliki kekurangan. Nyatanya kebanyakan lahan parkir sementara yang dibuat masih mengganggu lalu lintas dan bahkan menutup secara penuh lalu lalang kendaraan di beberapa lokasi, sebagaimana yang terjadi di lahan parkir FP.

Ketika ditanya tentang solusi jangka panjang terhadap isu parkir yang tidak terkendali, Nojmuddin menyatakan bahwa pihak kampus telah merencanakan beberapa solusi. Salah satunya adalah peraturan rektor baru yang akan memaksa kendaraan roda 2 di kampus untuk melengkapi aksesoris wajib seperti helm dan surat sebelum memasuki area UB, dan juga melarang mahasiswa untuk menggunakan kendaraan roda 4 seperti mobil untuk masuk ke dalam area kampus tanpa izin tertentu.

“Nantinya kita akan membuat peraturan rektor, untuk roda 2 jika tidak mematuhi standar kendaraan yang telah ditentukan: tidak boleh masuk. Contoh misal sampean masuk nggak bawa helm gak boleh masuk nanti, untuk roda 4, mahasiswa nggak boleh membawa roda 4 kecuali ada pengajuan, ada alasan tertentu.” ujar Nojmuddin.

Namun peraturan ini masih menunggu persetujuan resmi dari rektor sebelum dioperasikan, dan masih belum mendapat tanda tangan resmi dari rektor sampai sekarang. “Udah kita godog dan tinggal nanti setelah tanda tangan pak rektor kita sosialisasikan. seharusnya sosialisasi 1 november kemarin, tapi sampai sekarang nggak ada, belum ada.” Ujar Nojmuddin.

Penulis: Rafi Nugraha dan Naufal Hermawan (anggota magang)
Editor: Dwi Kurniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.