CERITA SEJARAH KELAM KELUARGA TAPOL

0

Resensi Namaku Alam

Sumber: Identitas UNHAS

Judul Buku: Namaku Alam
Penulis: Leila Salikha Chudori
Tebal: 448 Halaman 
Tahun Terbit: 2023
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Pertemuan dengan Kelam memaksa Alam untuk mewarnai kisah hidupnya hanya dengan satu warna, yakni Kelam. Bermula dari peristiwa besar itu, kelam mulai mewarnai dengan rinci setiap babak, adegan, dan konflik dalam novel. Ternyata tidak hanya Kelam, bayang-bayang hitam dan sekumpulan burung nasar juga rutin mengiringi setiap langkah yang Alam lakukan. Entah apa motifnya, Alam selalu gelisah dengan itu.

Alam mendapati dirinya memiliki kemampuan photographic memory sejak kecil. Ia menikmati kemampuan tersebut sebagai sebuah kutukan yang tidak seharusnya ia dapatkan. Sebagian besar isinya adalah kenangan menyedihkan: todongan senapan, kematian bapak, “anak janda gatel”, “anak pengkhianat negara”, bahkan terkadang bayang-bayang hitam muncul menerornya. Berkat photographic memory, semua kenangan buruk Alam terepresi dan memukulnya bertubi-tubi.

Namun, dinamika kehidupan Alam tidak berhenti di masa lalu. Dengan beban sebagai “anak pengkhianat negara”, Alam hidup tengah-tengah masyarakat yang ditelan propaganda. Semua yang berbau atau berhubungan dengan komunis menjadi sorotan pada masa itu. Ada yang ditahan, diasingkan, bahkan dibunuh: termasuk bapak Alam. Tanpa menginginkannya, Alam menjadi bagian dari hubungan tersebut. Ia mendapat teror atas peristiwa yang tidak ia lakukan, bahkan ia lahir bertahun-tahun setelahnya. Katanya, bayi ke dunia lahir tanpa dosa. Sayangnya, orde baru memendam pepatah itu dalam-dalam. Semuanya kejam. Semuanya kelam.

Berlatar kehidupan zaman orde baru membuat novel ini tidak hanya sekedar rangkaian kata yang bersatu menginterpretasikan perjalanan tokoh, tetapi juga sebuah kritik sosial akan kekejaman rezim zaman itu. Leila berhasil membawakan situasi sosial yang diskriminatif pada keluarga tapol. Mereka senantiasa diselimuti ketakutan untuk menghadapi dunia. Mereka digambarkan takut untuk mencolok, takut dikenal oleh banyak orang. Bukannya tanpa alasan, mereka takut mengambil risiko, mereka mengetahui kalau hal-hal tersebut mudah mengundang “tamu” masuk.

“Di negara yang masih saja menyiksa anak-cucu tragedi 65, mereka selalu lebih menyorot dan menanti-nanti agar kita berbuat kesalahan. Sedikit saja kamu lalai, kamu akan selesai. Dan yang merasakan akibatnya bukan hanya kamu sendiri, tetapi seluruh keluarga,” kata Yu Kenanga. (hlm. 149)

Padahal saat itu Alam hanya terlibat dalam perkelahian anak SMP, tetapi bagi keluarga tapol hal tersebut merupakan larangan keras. Sedikit saja kesalahan kecil bisa memicu rangsangan sensitif dari masyarakat. Selimut kelam itu benar-benar mencekik sendi-sendi keluarga tapol yang tidak mendapat tempat di garis besar sejarah Indonesia.

Novel bertema historical fiction ini menjadi spin-off dari novel Pulang. Masih dalam dimensi yang sama namun, memiliki latar yang berbeda. Pulang, memiliki latar Perancis. Sedangkan Namaku Alam berlatar Indonesia. Persamaannya, kedua novel tersebut membicarakan hal yang tabu: sejarah Indonesia yang dihilangkan. Sejak zaman kerajaan sampai reformasi, sejarah Indonesia selalu diwarnai oleh pemberontakan terhadap kekuasaan. Mereka yang berhasil memberontak berhak menentukan arah narasi sejarah kedepannya. Peristiwa 65 adalah salah satu contoh sejarah yang dihilangkan beberapa potong bagiannya.

Sama halnya dengan yang dipaparkan di atas, sejarah peristiwa 65 ditulis oleh pemenang. Secara garis besar, peristiwa berdarah 65 bermula dari ketegangan politik antar partai saat itu. Singkat cerita, PKI (Partai Komunis Indonesia), yang menjadi lawan besar militer, kalah. Segera, Soeharto langsung mengambil alih kepemimpinan dan membuat larangan dan propaganda agar PKI tidak bangkit kembali. Sejak itu pula, garis besar sejarah Indonesia dimanipulasi. Beberapa potong peristiwa sejarah dihilangkan dan diganti sesuai kepentingan pemenang. Sebuah pekerjaan munafik yang dilakukan penguasa untuk memoles citra mereka.

Di saat penguasa sudah “cukup” berhasil untuk menghilangkan potong-potongan sejarah tersebut, para penulis—tak terkecuali Leila S. Chudori, berusaha memberitahu bahwa ada yang dihilangkan dari sejarah kita. Leila S. Chudori, dengan ciri khasnya, mengangkat tema peristiwa-peristiwa krusial di sejarah negara kita. Bukan hal yang mudah bagi mantan wartawan Tempo tersebut untuk mengangkat tema yang sejarahnya dihilangkan oleh penguasa rezim saat itu. Diperlukan riset mendalam untuk bisa menceritakan tiap babaknya dengan baik. 

Leila melakukan riset itu dengan sungguh-sungguh. Persamaan latar membuat riset untuk novel Namaku Alam ini dilakukan bersamaan dengan riset novel Pulang. Namun, dalam sebuah diskusi di Bentara Budaya, Jakarta; penulis menjelaskan bahwa ada tambahan riset untuk novel Namaku Alam ini. Ada 3 metode yang digunakan penulis untuk melakukan riset: pustaka, pengalaman, dan riset lapangan.

Untuk riset pustaka, profesi Leila sebagai wartawan Tempo sangat memengaruhi proses risetnya. Daftar pustaka yang ada di Tempo menjadi rujukan utama baginya. Banyak membaca buku merupakan caranya untuk memperoleh banyak informasi tentang bahan tulisannya. 

Leila juga turut memasukkan pengalaman kecilnya saat membeli Bumi Manusia. Mungkin saat menuliskan babak itu, Leila merasa sedang melihat dirinya sendiri di masa kecil: anak sekolah yang membeli buku terlarang secara sembunyi-sembunyi. Pengalaman lain yang memengaruhi cara kepenulisannya adalah lingkungan kerjanya di Tempo yang beberapa merupakan tapol dan anak tapol.

Selain karena faktor profesi yang membantunya untuk riset, Leila juga melakukan riset lapangan. Ia mewawancarai beberapa narasumber secara mandiri. Narasumber yang ia wawancarai biasanya sudah pernah diwawancarai oleh Tempo, tetapi Leila menggali lagi lebih dalam sesuai kebutuhan risetnya. Perjuangan riset yang dilakukan oleh Leila ini berbuah menjadi novel best seller di antara tema-tema serupa. 

Sayangnya, alur cerita yang ada di Namaku Alam tidak terlalu menarik. Jika dibandingkan dengan novel Pulang, kedekatan emosional yang dibangun tiap alur di Namaku Alam tidak terlalu kompleks. Ceritanya yang tentang anak-anak membuat suasana yang dibangun masih sederhana. Mungkin Leila terlihat seperti ibu di sini. Ia ingin menceritakan tahapan psikologis seorang anak bernama Alam. Maka dari itu, kedekatan emosional yang dibangunnya sederhana saja. Tidak seperti novel Pulang yang memiliki kedekatan emosional lebih kompleks karena tokoh-tokohnya terdiri dari orang dewasa. 

Terlepas dari alur yang baik atau buruk, isu keadilan yang diangkat pada novel ini patut diapresiasi, seiring dengan upaya untuk mengangkat kembali sejarah kelam yang dimiliki negara. Namun, atas tema yang diangkat tersebut, Leila hanya ingin menyampaikan sebuah gagasan dengan cara seorang penulis. Dalam sebuah wawancara, ia menjelaskan bahwa ia hanya ingin menulis dan tidak ingin terbebani untuk membangun revolusi atau sejenisnya, bahwa nanti ada nilai-nilai yang muncul dari novel, itu akan inheren dengan sendirinya. Ia benar-benar menjiwai keahliannya sebagai penulis. Ia menulis untuk abadi.

Penulis: Muhammad Tajul Asrori (anggota magang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.