EKSIL DAN KERINDUAN AKAN PULANG YANG TERASA SELAMANYA

0

Tidak ada yang abadi selain ketidakabadian itu sendiri. Lebih dari tiga puluh tahun terjebak di negeri orang tanpa status kewarganegaraan yang jelas memang bukan suatu keabadian, namun terasa sangat lama bagi para eksil. Bagaimana tidak, puluhan tahun itu bahkan lebih terasa menyiksa daripada seorang pembunuh yang dihukum belasan tahun saja.

Film dokumenter dengan tajuk Eksil garapan Lola Amaria menceritakan bagaimana para eksil bertahan hidup dalam kegamangannya untuk pulang ke tanah air. Melalui kesaksian para eksil yang tersebar dalam beberapa negara, penonton diajak berbincang akrab dengan para narasumber, dipandu menyaksikan satu sisi negara lain, dan diperlihatkan dokumen-dokumen lawas yang menjadi saksi sejarah perjalanan mereka semasa memperjuangkan aktualitas dirinya di negeri orang.

Tawaran belajar dan misi “berpartisipasi dalam pembangunan negeri” menjadi tekad awal para pelajar Indonesia menerima beasiswa ke luar negeri. Tidak ada keraguan yang muncul pada benak mereka sewaktu berangkat. Mereka semua meninggalkan keluarga dan berharap pulang membawa rasa bangga.

Adalah niscaya ketika peristiwa G30S meletus, para pelajar itu kemudian dibayang-bayangi kekhawatiran: apakah bisa kembali pulang? Mengingat kehadirannya di luar negeri ini adalah hasil bantuan Soekarno, yang pada waktu itu dicap berhubungan mesra dengan PKI. Lantas yang terjadi setelahnya adalah kewarganegaraan mereka dicabut, paspor tak berlaku, dan dihantui mata-mata di setiap pergerakannya.

Tiga puluh tahun lebih para eksil melanjutkan hidup dalam kegamangannya. Sementara mendapatkan pekerjaan, menikah, membeli tempat tinggal, dan melakukan keseharian sampai beranjak senja, para eksil itu tetap menggali informasi mengenai keadaan di Indonesia. 

Ada yang mengaku tak mengira rezim Soeharto akan bertahan sebegitu lamanya, tapi ada pula yang telah menduga ia akan berkuasa selama belasan tahun. Pada akhirnya, dugaan-dugaan itu tak sesuai. Mereka harus bertahan lebih lama, ada yang sambil sesekali mengoleksi buku-buku Pram dan beberapa karya yang sempat dilarang, ada pula yang mengumpulkan sertifikat pendidikan, dan ada yang memutuskan mengurus kewarganegaraannya di negerinya sekarang itu setelah pupus harapan menunggu kabar baik dari Indonesia.

Bukan perkara mudah meneruskan kehidupan negara lain yang tampak lebih maju dari Indonesia itu. Para eksil harus terbiasa dengan larangan-larangan yang membatasinya bergerak sebagai warga yang bebas. Komunikasi dengan keluarga diblokir. Imbasnya, mereka tak tahu berita kematian kerabat dan keluarga mereka sendiri. Itu menimbulkan penyesalan yang mendalam.

Setelah Soeharto lengser, PKI ditumpas, kengerian terhadap PKI dan underbouw-nya masih menjadi rumor yang ramai beredar di keseharian masyarakat. Demikian yang dirasakan para eksil setelah mereka mendapat kesempatan untuk pulang ke Indonesia. Keluarga mereka menaruh ketakutan akan kehadirannya sebagai terduga berafiliasi dengan PKI. 

Penonton diperlihatkan oleh Indonesia yang ganjil. Tanah air yang dalam memori seorang eksil adalah pemandangan yang asri dan akrab. Tapi nyatanya ia berubah menjelma kemacetan, pagar besi, dan keterasingan. Mereka kehilangan rasa Indonesia yang mereka rindukan, pun rasa kepemilikan terhadap sanak saudara menjadi duka tersendiri. Jauhnya jarak dan lamanya waktu yang membatasi interaksi mereka dengan para kerabat membuat mereka terasa asing di rumah mereka sendiri.

Dokumenter berdurasi hampir dua jam ini cukup lengkap dalam mendeskripsikan pengalaman 10 eksil dalam beberapa sudut pandang. Proses pembuatan dokumenter yang dimulai sejak 2010 ini patut diapresiasi. Segmen-segmen yang dibentuk sedemikian rupa sebagai transisi antara satu kisah dengan kisah lainnya membentuk satu kelindan kesimpulan: bahwa pulang ke tanah air seperti semula hanya lah utopia.

Menonton dokumenter ini membuat penonton seperti membaca sebuah buku. Sebut saja Pulang karangan Leila S. Chudori yang sama-sama merepresentasikan huru-hara politik pasca 1965 dan dampak yang dirasakan oleh para WNI yang tengah berlayar di negeri lain. Di beberapa scene, direkam pula suara Lola yang mengobrol dengan para eksil tersebut, sehingga obrolan yang dilakukan tak seolah-olah hanya berfokus pada narasumber, tetapi juga melibatkan penonton. 

Pantaslah film dokumenter ini mendapat penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2023 dan menjadi angin segar untuk pelajaran sejarah yang tak hanya terpaku pada buku. Sayangnya, masih banyak terjadi pelarangan pemutaran dokumenter ini di beberapa daerah. Barangkali pelarangan ini menjadi bentuk nyata represi yang dilakukan untuk mengilhami pengetahuan masyarakat di luar buku-buku sejarah di bangku sekolah. Meski demikian, tak sedikit pula upaya untuk mengadakan pemutaran mandiri dan kolektif, yang aksesnya dibuka lebar oleh Lola Amaria sendiri.

Dokumenter ini diakhiri dengan lambaian tangan. Demikian lah para eksil seolah menyampaikan perpisahan dengan rumahnya sendiri. Beberapa eksil yang menjadi narasumber dokumenter ini kini telah wafat, entah apakah mereka telah menuntaskan kerinduannya akan pulang, yang negara tak mau bertanggung jawab atasnya.

Penulis: Adila Amanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.