SELAMAT DATANG DI KOTA MALANG, SEMOGA TAK DISAPA PENIPU BERULANG
Ilustrator: Az-zahra Aqilah
MALANG-KAV.10 Cahaya biru dari layar kaca ponsel memantul pada sudut mata Raja sore itu, ketika kalimat yang dinantikannya selama ini akhirnya menampakkan diri. “Selamat, Anda Diterima di Program Studi Psikologi Universitas Brawijaya (UB).” Raja dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Bagi mahasiswa baru asal Riau ini, barisan huruf tersebut ialah gerbangnya menuju tanah perantauan. Malang, dengan bayangan hawa sejuknya yang berjarak ribuan kilometer menyeberangi lautan dari rumah asal Raja, kini akan menjadi tanah tempat ia mengais mimpi.
Enam tahun mengenyam pendidikan di lingkungan pesantren tak lantas membuat bayangan merantau lintas pulau di depan matanya terasa ringan. Euforia baru bergemuruh di dalam dadanya, berbaur dengan bayangan masa depan di Kota Malang. Rasa itu pula yang menuntun jemarinya untuk lebih dahulu bergerilya di belantara media sosial, mencari kos-kosan untuk ditinggali bahkan sejak dua hari sebelum pengumuman kelulusan resmi diumumkan. Dalam hitungan hari, layar ponselnya seketika dipenuhi potongan visual tempat tinggal di sekitar kampus-kampus ternama di Kota Malang. Ada sekitar dua puluh video pendek yang ia simpan sebagai referensi.
“Saya lumayan tertarik, karena caption-nya itu ‘jarak [kos]nya 3 menit dari UB, 4 menit dari UB.’ Sehingga di pikiran saya yang pertama, saya harus mencari kos yang paling dekat, karena yang saya dengar di semester 1 [mahasiswa baru] belum bisa membawa motor,” kenang Raja, disusul tawa kecil yang terdengar getir.
Ia lalu menyalakan laptop, membuka lembar kerja Excel, dan menyusun kolom demi kolom berisi nama penyedia kos, nomor kontak, serta jaraknya menuju kampus utama. Sebuah basis data kecil, hasil kerja keras seorang remaja yang baru saja lulus SMA. Disusun dengan harapan sederhana, mendapat atap yang aman untuk memulai hidup barunya.
Harapan itu pula yang kemudian harus diuji habis-habisan.
Muslihat Singkat di Balik Kamar Palsu
Dengan sisa-sisa semangat dari hari pengumuman kala itu, satu persatu nomor WhatsApp dari akun Tiktok yang telah Raja kumpulkan mulai ia hubungi. Ia mengetik pesan untuk menanyakan ketersediaan kamar kos tersebut. Namun, balasan yang datang justru berupa urgensi yang terasa dipaksakan. “Dek, itu sisa dua kamar aja, udah di-booking anak SNBP sama anak IUP. Kalo mau kamu bisa langsung booking sekarang,” tiru Raja, memperagakan ulang pesan tersebut dengan rasa kecewa yang masih tersisa.
Raja kemudian mencoba menghubungi nomor lain. Pola yang sama justru terulang, nyaris sama persis. Dari empat hingga lima kontak pertama yang telah disapa Raja, semuanya membawa cara yang serupa, dengan embel-embel kamar hampir habis dan harus diambil detik itu juga. Mulai timbul kecurigaan ketika Raja mencoba berdiskusi dengan penyedia kos mengenai titik lokasi. Ketika ia meminta koordinat pasti pada Google Maps untuk dicocokkan dengan alamat yang tertera, penyedia kos hanya melempar titik acak di sekitar UB. Ketika ia periksa titik itu pada peta, bangunan yang tertera sama sekali tak menyerupai hunian sewa.
Topeng penipuan itu runtuh sepenuhnya di hadapan Raja ketika diskusi bermuara pada uang. Para “penyedia kos” ini memiliki syarat mutlak, sebelum calon penghuni diizinkan mengunjungi kos untuk melakukan survei, mereka diwajibkan membayar uang muka sebesar 50% dari total biaya sewa. Angka yang tidak kecil untuk kantong mahasiswa baru, berkisar antara Rp750.000 hingga Rp1.000.000.
“Saya udah nge-chat tiga nomor dan mereka punya balasan yang template, ‘bayar dulu 50% sebelum survey, nanti sebelum masuk ke kos akan dimintai kwitansi oleh satpam’ begitu,” tutur Raja.
Selama berhari-hari melayani percakapan dengan para penyedia kos fiktif itu, ada pola-pola unik yang berhasil ditelanjangi Raja. Fasilitas yang ditawarkan nyaris selalu berlebihan dan terasa tak masuk akal. Kamar eksklusif dekat kampus ternama, lengkap dengan Wi-Fi, bebas biaya listrik dan air, hanya dibanderol dengan harga Rp900.000. “Bisa dibilang nggak logis, karena yang saya dapetin kos-kos sekitar UB itu [untuk] budget Rp750.000 sampai Rp900.000 bentuknya bisa dibilang kurang bagus,” jelas Raja.
Ia juga menemukan akun yang sama turut mengunggah video promosi untuk kos di kota-kota berbeda—satu unggahan berisi kos tiga menit dari Universitas Padjajaran, unggahan lainnya berisi kos empat menit dari Universitas Diponegoro. Lokasi yang berbeda tetapi dengan wajah penipuan yang sama.
Segala upaya akan dikerahkan oleh penipu-penipu ini untuk meyakinkan mahasiswa baru agar dapat masuk ke dalam muslihat-muslihatnya, bahkan dengan cara mencuri identitas sekalipun. Raja menangkap pola ini setelah berkali-kali melihat foto profil para penipu tersebut kerap merupakan foto keluarga orang lain, dipakai semata untuk menumbuhkan rasa percaya. Mengganti nomor telepon juga menjadi salah satu upaya yang mereka lakukan agar tak mudah dilacak. “Teman saya, saat lulus SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi), dia nge-chat nomor ini, [penipunya] pakai foto keluarga juga tapi nomornya udah nggak aktif. Terus pas [masa] SNBT, [penipu ini] buat nomor baru lagi. Menurut saya mereka bakal buat nomor lain untuk nipu anak mandiri.”
Rasa penasaran yang bercampur jengkel mendorong Raja untuk meminta bantuan seorang teman melacak jejak sinyal nomor-nomor itu. Terungkap bahwa dua nomor dari akun berbeda yang menawarkan kos di Kota Malang terdeteksi berada di wilayah yang sama, yaitu Sumatera Selatan. “Pas saya minta tolong, dia bilang itu dua-duanya nomor dari Sumatera Selatan. Bisa jadi mereka bersekongkol,” tegas Raja. Dua akun yang tampak asing ternyata dapat digerakkan dari satu titik yang sama, ratusan kilometer dari Malang, memanfaatkan ruang hampa digital untuk menguras kantong mahasiswa baru.
Yang Tersisa dari Kekesalan
Alih-alih memilih untuk menanggung kekesalan sendirian, Raja memilih untuk tak tinggal diam. Ia menyebarkan tangkapan layar percakapan dan modus penipuan itu ke story WhatsApp, lalu ke grup Telegram berisi ratusan mahasiswa baru lain. “Saya langsung kowar-kowar di story WhatsApp, di grup Telegram, terus ke temen-temen SMA kalo [saya] ketemu penipu. Ah, penipu bego!” keluhnya, wajahnya masih menyisakan kekesalan saat mengenang momen itu.
Meski peringatannya sering kali tenggelam di antara ribuan pesan yang membanjiri grup Telegram, solidaritas antar mahasiswa baru rupanya tetap menemukan jalan. Beberapa mahasiswa baru membantu satu sama lain dengan melempar nomor kontak kos yang sudah tervalidasi, berusaha menyelamatkan sesama calon mahasiswa dari jerat kamar abu-abu yang sama. “Jadinya [mahasiswa baru] saling sharing, ‘saya ada kos yang mungkin bisa dipercaya,’ nanti mereka ngirimin nomornya,” jelas Raja.
Namun, solidaritas kecil itu tak serta merta menghentikan waktu yang kian terkikis. Beberapa hari berlalu, niat baik Raja untuk menata masa depannya di Kota Malang nyaris buyar begitu saja ketika disapa deretan penipu. Waktunya terkuras hanya untuk melayani obrolan fiktif yang ujungnya hanya bermuara pada transaksi palsu. “Saya emosi, Kak,” tutur Raja tanpa ragu. “Soalnya udah seminggu nyari [kos] isinya penipu semua, nyari [kos] yang murah dan dekat tapi ternyata itu kayaknya mitos doang.”
Aplikasi penyedia kos seperti Mamikos pun tak memberi banyak angin segar bagi Raja, sebab harga yang ditetapkan sering kali terlalu tinggi dan lokasinya terlalu jauh. Rasa lelah pula kecewa perlahan mengendapi hati Raja, tak yakin apabila ia dapat menemukan hunian sewa yang sesuai.
Titik balik pencarian Raja akhirnya datang dari nasihat sederhana salah seorang seniornya. “Bang, cara nyari kos ini gimana? Saya udah nyari kos seminggu lebih, menipu semua isinya,” keluh Raja pada seniornya kala itu.
Sang senior menyarankan Raja menyusuri area sekitar kampus melalui Google Maps untuk mencari kos. Ia kemudian memulai kembali pencariannya, memegang harapan lebih besar dari sebelumnya. “Jadi, di Google Maps itu saya cari yang ada rating-nya, minimal ada lima orang yang rating. Saya cari dan alhamdulillah sekarang udah dapat kos dari Google Maps itu,” ujarnya, matanya begitu berbinar saat menceritakan hal ini.
Namun, telah berhasil berdiri di bawah atap pada tanah perantauan tak lantas membuat Raja lupa akan celah bahaya yang mungkin akan mengintai adik-adik tingkatnya di masa depan, atau rekan sebaya yang datang belakangan. Di tengah kelegaannya, Raja menitipkan harapan besar bagi kampus. “Saya enggak tahu apakah pihak kampus sudah memberikan peringatan dari Instagram, TikTok atau platform lainnya. Tapi kalau misalnya belum ada, sebaiknya dibuat,” tuturnya, menyampaikan keresahan yang mewakili pengalaman pahitnya sendiri.
Hari demi hari kian bergulir. Kemeja-kemeja yang Raja siapkan untuk pergi kuliah kini telah tertata rapi di dalam lemari kos barunya. Raja telah resmi menjejakkan kaki di bumi Malang, menghirup langsung hawa sejuk kota yang sebelumnya hanya bisa ia pandangi lewat layar kaca.
Malam itu, Malang menyapa Raja dengan dingin yang terasa begitu tepat. Pengalaman pahit di belantara digital yang nyaris merenggut euforia keberangkatannya, tak sedikit pun memadamkan semangatnya. Barangkali, justru pengalaman itulah yang menjadi pelajaran pertama—pula paling berharga—sebagai bekal awal kisah perantauannya.
Penulis: Aulia Hasti Zalika R.
Editor: Elvaretta Rahma Devina
