KUMPULAN PUISI DARI FRAGMEN: BERANGKAT

rumah
Pernah, kan? Kau
menanggalkan seluruh gentengmu
genting yang tak pernah tersusun
Melengang dan mencumbu jalanan
Daftar blokir yang dipenuhi seluruh daun pintu
Lalu kau mencintai teras ruko yang tak
melarang seperti kursi taman yang tak
didesain untuk kita–flaneur akut,
bohemian gabut, tunawisma, gelandangan
Lalu kau mengumpati kursi itu,
“Kursi kapitalis bajingan!”
“Lalu kapan kita pulang?”
“Memangnya kau mau pulang ke
mana?” Pintu-pintu itu telah kusegel
Dan aku lebih suka menerobos jendela.
Sebab aku masuk tak untuk tinggal.
Lalu Kita Pergi ke Pasar Itu
Malam-malam yang kita suka. Dan malam, selalu kita suka.
Dengan dua pasang sandal jepit, entah milik siapa. Dan kau berkelakar bahwa ‘milik’ adalah tiada. Kini aku tahu, kelakar telah menyimpan benar yang dianggap semu.
Debur suara truk, debu aspal sisa-sisa sibuk. Adalah nada-nada yang tak pernah bisa kita mainkan. “Ini adalah blues,”
Dan sepanjang puisi ini, kucoba tuk ulang lagi. Untaian malam yang kuambil dari foto-foto pasca-purna yang menempel di dinding-dinding tengkorak berwarna buram sebab kita sibuk memilah pelangi tajam dari gambar-gambar bergerak tak lebih dari semenit dalam pipihan buku-buku usang itu.
Kapan Kiranya Aku Perlu Kembali?
Bila kubangun tembok dan kerangka dalam tepian persimpangan. Jalan-jalan dengan segala taruhannya.
Bila kususun atap pada kopi dan sigaret gelap. Warung-warung tak membiarkan yang diteduhinya murung. Karpet kecil, benang-benang mengurai, hati kecilmu, tak kunjung teramu.
Bila kutidur di atas ubin. Mengabaikan susunan kamarku yang perlahan membeku. Menunggu bayangmu menghilang dari petanda semua kata ganti kedua dalam tiap puisi yang kubaca.
Tidaklah kiranya aku perlu kembali.
Penulis: Badra D. Ahmad
kepada dzat
dalam sebuah safar menuju.
langkah kaki adalah petasan, yang
melaju saat disulut hari raya
suasana terlampau bising
aku memegang daun pintu
kurasakan dinginnya klorofil yang
menorehkan sejenak, rasa-rasa damai
kutariknya perlahan
hamparan hampa terlihat
terbunuh sejenak kekalahan itu:
sunyi mati suri
aku masuk: dan jatuh (meledak)
***
terciptalah lorong tempatmu mengabdi
syauq; menyambung himmah dan
berlari-tanpa-henti-mengejar;
dan disinyalir waktu mulai
fana; tapi ‘asyiq
abadi. abadi
ia menuju
jika disenjangkan
maka diukurlah sepanjang jarak
yang membuatku merenung selama
jatuh
juga sejawat kupu-kupu yang
membersamai alang mimpi di padang remang:
dijaganya sepasang tekad
yang melurung hilang
ditebus mimpi
ayun langkah itu tegas
melawan senja
yang kian hari tergores ufuk—
tak peduli lantangnya gingsir nahr menuju
tak anggap usang kemilau syahr menadah;
aku adalah salik yang
terkilas dalam angan
sepotong debu
[dan segala hasrat yang
Menjadi dalam kepul-Nya;
kan menyuci jarak
tempatku menyisir]
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Kereta Terakhir
Kereta terakhir telah berangkat
Meninggalkan sepi pada yang tertinggal
Derunya menjauh, menyisakan getar yang tak bisa kau kejar
dan jejak yang hanya bisa kau dengar
Bertemankan sunyi… bertemankan hampa
Kereta terakhir telah berangkat
Memadamkan pijar yang berkobar
dan meninggalkan gelap yang tak lagi sekadar bayang
Ia menjelma sebagai ruang bernaung
Tanpa arah… tanpa tujuan
Kereta terakhir telah berangkat
Ia pergi tanpa pamit
Mengangkut diam-diam segala yang pernah kau angankan
Menemani sesak yang tumbuh,
mengoyak… mengikis kewarasan hingga tak bersisa
Peron yang dingin dan kosong menjadi saksi
Bagaimana “andai” berpendar bagai gema
dan segala “mungkin” yang dibawa hingga mati
Gerbong itu tak pernah hilang, ia sempat singgah
namun tak kau persilahkan untuk tinggal, hingga akhirnya
Kereta terakhir telah berangkat
Penulis: Denyndia Nafisha Adristi
Untuk Sayang yang Kusayang
Akan ada masa saat kakiku tak lagi menapak tanah.
Satu hal, Sayang,
jangan takut dengan masa itu.
Entah bagaimana aku pergi nantinya.
Dalam tidur mungkin?
Dalam kesedihan mungkin?
Saat leher menggantung,
atau nadi tergores,
atau saat kepalaku pecah mungkin?
Apapun itu,
damailah tanpa aku.
Tolong hargai itu.
Seharga jalang,
seharga dunia dan seisinya.
Terserahmu.
Kupastikan hatimu akan tetap hidup,
saat aku hilang,
saat aku pergi.
Sesungguhnya,
tanah di mana kaki kita menapak
akan lebih berarti
jika aku lebur bersamanya
menemui pencipta kita.
Namanya Tuhan.
Dan saat hari itu tiba,
jangan menangis saat aku berangkat.
Meskipun aku tak lagi berpijak,
atau tak bisa menggali ke atas,
kau tetap kusayang.
Hadir atau tidaknya kamu,
senang atau sedihnya kamu.
Penulis: Nur Istiyanti
