KEPERAWANAN ITU FIKSI

Ilustrator: Sofidhatul Khasana
Keperawanan itu fiksi. Begitu juga perempuan dalam kedua mata laki-laki. Saya menyadari dunia ini sudah sejak awal dikonstruksikan untuk laki-laki, bagaimana pada akhirnya yang selain laki-laki hanya sebatas boneka porselen dalam lemari kaca yang sekali-sekali diturunkan untuk dipegang-pegang lalu dikembalikan lagi. Konsep keperawanan yang selama ini diagungkan menjadi pilar mengapa dunia seakan berputar pada laki-laki—mereka porosnya, mereka matahari.
Keperawanan sejak awal adalah konstruksi sosial. Saya yakin bahwa orang-orang yang mengilhami keperawanan sebagai suatu hal yang nyata adalah orang-orang nirempati dan jarang membaca buku keperempuanan atau gender. Keperawanan telah menjadi topik yang lahir dengan samar: tidak ada garis yang jelas antara unsur biologis atau sekadar konstruksi yang semata-mata dibangun oleh dunia patriarki. Lahirnya tulisan ini adalah sebagai pijakan saya dalam meraba tanah yang selama ini saya hidupi, sebagai perempuan, sebagai manusia yang memiliki hak hidup dengan damai seperti laki-laki.
Secara biologis, keperawanan yang selama ini dibicarakan hanya terbatas pada selaput dara. Jaringan membran ini memiliki fungsi untuk melindungi vagina dari bakteri atau infeksi dan sudah sangat jelas bahwa hal ini tidak berpengaruh pada indikasi apakah seseorang masih perawan atau bukan. Hymen atau selaput dara dalam vagina memiliki banyak variasi–tebal, tipis, elastis, dan lain-lain, beberapa perempuan bahkan tidak memiliki selaput dara sejak awal. Terlebih lagi, selaput dara dapat robek tidak hanya saat melakukan penetrasi pada vagina, jaringan membran ini dapat sobek melalui aktivitas sehari-hari (olahraga, pemeriksaan medis, dan lain-lain) dan dalam beberapa kasus pada selaput dara yang elastis, jaringan membran ini tidak robek sama sekali saat melakukan aktivitas seksual atau sehari-hari. Saya harap dengan adanya statement ini sudah cukup menjelaskan bagaimana keperawanan tidak ada sangkut pautnya dengan aspek biologis.
Agama dan budaya yang mengakar menjadi landasan utama mengapa keperawanan menjadi hal yang besar dalam menilai perempuan. Tubuh kami sudah memiliki cap sejak awal–bagi mereka yang sudah tidak perawan adalah mereka yang bersimbah dosa. Budaya yang dikenalkan oleh kalangan keluarga atau orang terdekat tidak jauh dari “gadis wangi perawan” atau “perawan biar disayang suami”, semua ini dibentuk dengan lihai oleh para aktor patriarki dan sebagaimana mereka ingin memiliki kontrol penuh terhadap tubuh perempuan.
Sejauh yang saya perhatikan dalam kacamata orang-orang penganut keperawanan, “kesucian” tubuh perempuan dan fungsinya dalam dunia mereka hanya terbatas pada tolak ukur moralitas. Mereka menjadikan menjaga kesucian serta memiliki hymen yang “utuh” sebagai standar perempuan yang patut dihormati dan dipandang baik, sedangkan perempuan yang tidak termasuk dalam kualifikasi hal tersebut dinilai “nakal” atau “pelacur”. Peran para aktor patriarkis memiliki pengaruh yang dahsyat terhadap cara pandang seseorang dalam melihat perempuan dan tubuhnya. Fungsi puan telah direduksi menjadi objek, bukan sebagai manusia.
Dea Safira dalam bukunya Sebelum Perempuan Bercinta berpendapat bahwa adanya konsep keperawanan hanya sebatas pada salah satu upaya untuk mempertahankan kekuasaan. Keperawanan ditenun oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan sosial, politik, dan ekonomi guna merawat kapital. Konsep ini tidak hanya berimbas pada bagaimana perempuan dipandang oleh masyarakat namun pada perempuan itu sendiri, minimnya pengetahuan dalam mencintai tubuh dan hal yang berkaitan dengan edukasi seksual menjadi sebuah privilege.
Pada akhirnya, untuk menyadari serta membongkar ulang konstruksi sosial yang menjerat perempuan seharusnya menjadi kewajiban semua orang, tidak terbatas pada satu gender saja. Perlunya mengkonstruksi konsep keperawanan pada perempuan dapat merubah standar moralitas dan membantu para puan merasa lebih nyaman pada kulitnya sendiri. Melawan opresi dan patriarki adalah satu-satunya jalan untuk memberikan kemerdekaan serta menghancurkan belenggu–bahwa tubuh perempuan bukan milik siapa pun selain dirinya sendiri.
Penulis: Ayudya Tabina Aryasyilla
