AI DALAM INDUSTRI KREATIF: INOVASI CEMERLANG ATAU PEDANG BERMATA DUA?

0

Ilustrator: Az-Zahra Aqila Y.M

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kecerdasan buatan atau yang kerap kali kita kenal dengan sebutan AI (Artificial Intelligence) semakin berkembang pesat dan menjadi momok baru yang menakutkan bagi sebagian orang. Hal ini karena AI menunjukkan kecenderungannya untuk menggantikan manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari industri kreatif hingga jurnalisme, dari seni hingga penelitian akademik, secara  perlahan AI mulai mengurangi keterlibatan manusia dalam proses kreatif. Beberapa orang memandang hal ini sebagai sebuah kemajuan, di mana mereka menganggapnya sebagai bentuk efisiensi dan inovasi. Namun, kita juga tidak bisa mengesampingkan fakta yang mengkhawatirkan bahwa AI dapat mewujudkan dunia ketika peminggiran kreativitas manusia dan ancaman terhadap sentuhan kemanusiaan itu sendiri terjadi. 

Hal ini didukung oleh hasil studi dari World Economic Forum (WEF) pada tahun 2018, mereka mengemukakan bahwa di tahun 2022 sebanyak 75 juta pekerjaan di dunia dapat terpengaruh oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan. Salah satunya adalah industri kreatif. Laporan dari Forbes menyebutkan industri kreatif adalah salah satu bidang yang terpengaruh paling awal oleh penggunaan AI dalam praktiknya. Pergeseran ini mulai terjadi dalam bidang musik, film, dan sastra. Sebagai contoh pada tahun 2018, perusahaan Jepang yang bernama Softbank meluncurkan sebuah aplikasi bernama “AI Puisi” yang dapat membuat puisi secara otomatis dengan menggabungkan kata-kata dan frasa yang dimasukkan oleh pengguna. 

Padahal salah satu daya tarik dari sebuah karya seni yang dihasilkan oleh manusia adalah orisinalitas dan pengalaman yang tertanam di dalamnya. Ketika seorang seniman melukis, seorang penulis merangkai kata, atau seorang jurnalis menggali kisah, ada nuansa personal, perspektif unik, dan nilai emosional yang sulit ditiru oleh AI. Namun, dengan hadirnya teknologi AI yang mampu menghasilkan gambar, menulis artikel, bahkan membuat lagu, kita mulai melihat tren di mana kreativitas manusia tereduksi menjadi sekadar “kurasi” dari hasil-hasil yang dihasilkan oleh mesin. 

Lebih dari itu, selain menggantikan peran kreatif manusia, AI juga berpotensi menghilangkan sisi “kemanusiaan” dari sebuah karya. Suatu artikel yang ditulis oleh AI memang memiliki tata bahasa yang sempurna, namun apakah ia mampu menangkap nuansa penulis yang mengalami langsung peristiwa yang sedang ia ceritakan? Gambar yang dihasilkan oleh AI memang terlihat luar biasa, namun apakah gambar tersebut memiliki jiwa yang sama dengan goresan tangan seorang pelukis yang menuangkan idenya diatas kanvas? Apakah lukisan tersebut memiliki makna terselubung sendiri yang hanya sang pelukis ketahui sementara kita sebagai penikmat karya hanya bisa menerka-nerka? 

Ketika AI semakin mendominasi, tentunya hal ini menjadi mengkhawatirkan. Ada sebuah resiko yang dihasilkan, yaitu kita akan semakin kehilangan nilai-nilai personal dalam berbagai aspek kehidupan. Musik, sastra, jurnalisme dan bahkan komunikasi sehari-hari memiliki resiko kehilangan akan sentuhan kehangatan manusia. Hal ini juga dapat mengancam para pekerja yang menggeluti industri kreatif, menciptakan kesenjangan ekonomi yang tidak terelakkan antara mereka yang mengendalikan teknologi dan mereka yang bergantung pada kreativitas untuk bertahan hidup. 

Namun, apakah berarti hal ini kita harus menolak penggunaan AI secara mentah-mentah? Tentu saja tidak. Hal yang lebih penting untuk dilakukan adalah bagaimana cara kita memanfaatkan AI tanpa kehilangan esensi kemanusiaan di dalam diri kita. AI memang bisa menjadi sebuah alat bantu yang mempercepat suatu proses kreatif, namun bukan berarti pengganti dari kreativitas itu sendiri. Jika manusia tetap memegang kendali dan memastikan bahwa nilai-nilai emosional, pengalaman pribadi, dan perspektif unik tetap menjadi bagian dari karya yang mereka hasilkan maka AI dapat menjadi sebuah pelengkap bukannya sebagai sebuah ancaman. 

Pada akhirnya pertanyaan yang harus kita renungkan bukan apakah AI akan menggantikan kreativitas manusia tetapi akankah kita membiarkan kreativitas yang sudah kita miliki terpinggirkan oleh AI? Jika kita ingin mempertahankan esensi kemanusiaan dalam karya dan kehidupan kita, maka kita harus menegaskan bahwa AI hanyalah alat—bukan pencipta sejati.

Penulis: R.A.J Afra Aurelia Luqyandysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.