PAWAI PORMABA, BEBERAPA MAHASISWA FMIPA KEHILANGAN HELM DI PARKIRAN
MALANG-KAV.10 Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) kehilangan helm massal di parkiran Hutan MIPA pada Minggu (19/2). Kasus kehilangan helm ini berlangsung pada saat pelaksanaan rangkaian Pawai Kontingen dan Opening Pekan Olahraga Mahasiswa Baru (PORMABA). Hal tersebut diduga akibat kelalaian panitia PORMABA dalam menjaga tempat parkir kontingen di Hutan MIPA.
Salah satu korban kehilangan helm, Imam Adma, selaku atlet dari salah satu prodi FMIPA menjelaskan bahwa panitia PORMABA mengimbau para kontingen untuk parkir di Hutan MIPA. Awalnya, korban mengira area parkir akan dijaga oleh panitia karena pada saat itu cukup banyak panitia yang tersebar di sekitar area parkir, sehingga ia merasa tenang. Namun, ketika acara selesai, ia mendapati bahwa helm miliknya telah hilang. Bukan hanya helm milik Imam saja, ternyata ada 5 orang lainnya yang ia kenal pun mengalami kejadian serupa.
Selain Imam, salah seorang CO Supporter PORMABA, sebut saja L juga mengalami hal serupa. Ia menyatakan bahwa, biasanya helm akan dititipkan ke security atau dibawa, tetapi karena hari itu libur dan tidak ada security, maka ia dan kontingen lain berpikir bahwa helm mereka akan dijaga oleh pihak panitia, terlebih panitia telah mengarahkan mereka untuk parkir di Hutan MIPA. Mereka meyakini bahwa mereka dikumpulkan ke tempat parkir itu agar panitia bisa lebih mudah mengawasi kendaraan dan helm mereka. Nahas, ketika sampai di parkiran, ternyata helm miliknya dan beberapa kontingen lainnya telah lenyap.
Panitia telah memberi pembelaan bahwa ada yang menjaga tempat parkir. Nyatanya, sebagaimana diucapkan L, ketika para kontingen sampai, tak ada tanda-tanda panitia berjaga di parkiran Hutan MIPA. L juga mengungkapkan bahwa terdapat tanda bertuliskan “Kawasan Steril PORMABA”, sehingga seharusnya kawasan tersebut bebas dari orang luar. Namun, pandangan panitia berbeda dari kontingen terkait “kawasan steril” ini. Dari pemaparan L, panitia PORMABA menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Rektor, mereka tidak bisa melarang orang-orang masuk ke kawasan steril yang dimaksud.
Berdasarkan pengakuan dari Carissa, selaku salah satu CO Kontingen, ia menunggu di parkiran Hutan MIPA sekitar 1 jam dan menyaksikan para kontingen kelabakan mencari helmnya yang hilang. Dalam kurun waktu 1 jam itu juga ia belum melihat keberadaan panitia di parkiran Hutan MIPA, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke GOR Pertamina karena suatu keperluan. Ia menyayangkan sikap panitia yang menurutnya malah berlindung di balik peraturan yang telah mereka tandatangani di perjanjian kontingen sebelumnya. Peraturan tersebut terdapat pada Peraturan Supporter no. 21 yang berbunyi “Semua barang milik atlet ataupun suporter bukan tanggung jawab dari panitia”. Padahal, di peraturan tersebut jelas tertulis bahwa ketentuan tersebut berlaku saat pertandingan berlangsung, sementara hari itu merupakan rangkaian Opening, dan bukan pertandingan.
Sejauh ini, panitia telah mengajak masing-masing CO Kontingen dan CO Supporter untuk melakukan mediasi pada hari Selasa (21/2). Untuk sementara, jalan keluar yang ditawarkan oleh panitia sebagai langkah awal penyelesaian masalah ini adalah mendata kontingen yang kehilangan helm di parkiran Hutan MIPA. Panitia akan memberikan kompensasi yang berasal dari denda prodi-prodi FMIPA yang tidak mengikuti beberapa cabang olahraga atau cabang seni. Kemungkinan denda tersebut akan dipotong untuk menutupi biaya helm yang hilang bagi beberapa mahasiswa FMIPA.
Penulis : Adilah Diva Larasati
Kontributor : Dwi Kurniawan dan Alifiah Nurul Izzah
Editor : Laras Ciptaning Kinasih
