KITA SEMUA MAKAN TAHI
Sumber: kontras.org
KITA SEMUA MAKAN TAI, dan itu fakta paling objektif yang pernah ada, lebih objektif dari hukum gravitasi, lebih objektif dari kematian yang sudah dimonopoli oleh rumah sakit swasta, lebih objektif dari jumlah sperma yang disemprotkan oleh para politikus ke naskah UU yang mereka gesek-gesekkan di pangkal paha oligarki.
KITA SEMUA MAKAN TAI,
karena yang tidak mau akan dikebiri dengan bayonet upacara, diperkosa dalam parade perayaan ulang tahun negara, dipaksa mengulum sepatu lars yang masih berlumuran darah demonstran, dibungkus bendera lalu dilempar ke tong sampah berwarna emas, diikat telanjang di tiang listrik dan dipaksa berteriak:
“MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!“
sampai pita suara putus, sampai tubuhnya kaku, sampai namanya dihapus dari kartu keluarga
DAN KITA SEMUA MAKAN TAI,
karena yang tak makan tai akan diculik, dikubur di pinggir jalan tol, atau ditemukan gantung diri dengan kedua tangan terikat ke belakang
karena yang tak makan tai akan diberi label “antek asing”, “pembawa ideologi terlarang”, “perusuh”, “komunis”, “sampah masyarakat”, dan
karena yang tak makan tai akan dipaksa menelan tai dengan cara lain:
melalui gaji yang tak cukup untuk kehidupan sehari-hari,
melalui sistem pendidikan yang dirancang untuk membuatmu tetap bodoh,
melalui UU yang hanya menguntungkan mereka yang sudah kaya,
melalui keadilan yang bisa dibeli dan hukum yang hanya tajam bagi mereka yang tidak punya kuasa
KITA SEMUA MAKAN TAI,
karena Parcok dan Parjo sedang bercinta di gedung parlemen,
saling merobek pakaian seragam mereka yang terbuat dari nyawa rakyat,
bercumbu di atas lembaran UU yang baru disahkan diam-diam,
menyodomi konstitusi dengan cara yang tak pernah diajarkan di sekolah hukum,
menyembelih akal sehat di altar kapital sambil tertawa,
memuntahi muka rakyat yang masih berlutut meminta keadilan
karena oligarki sedang masturbasi di meja negosiasi,
melumuri penis mereka dengan subsidi rakyat miskin,
memasukkan satu per satu nyawa nelayan ke dalam lubang pantatnya,
menelan rencana pembangunan dengan orgasme yang disiarkan di TVRI,
mengulum kartu kuning mahasiswa sambil berbisik,
“Negara ini tak butuh cerdik pandai, hanya butuh budak yang tahu diri.”
Maka bersulanglah, wahai pecundang, wahai babu, wahai kaum rebahan yang mengira diskursus adalah revolusi, bersulanglah! Telan ludahmu! Telan sumpahmu! Telan air seni kebijakan ekonomi yang dituangkan langsung dari moncong senapan! Bersulanglah! Untuk kebodohan sistematis! Untuk rakyat yang memilih dijadikan budak! Untuk demokrasi yang telah dicacah menjadi makanan anjing-anjing parlemen yang kerjaannya mengesahkan undang-undang di bawah meja!
Penulis: Haidar Sabid (kontribusi pembaca)
