SIAPA YANG MEMBUNUHMU MALAM ITU?
Sumber: unsplash.com
Malam itu, kau akhirnya pulang. Setelah entah malam ke berapa dalam tahun-tahun yang kutempuh tanpa dirimu. Kau pulang tanpa mengetuk pintu. Kau datang tanpa memelukku. Tak sudi pula mengucapkan satu dua patah kata, bertanya kabarku, sudah menginjak usia ke berapa anakmu, atau mengapa cat dinding telah mengelupas cukup parah tapi tak ada yang membetulkannya. Seakan semuanya telah lenyap semenjak penangkapanmu dua tahun yang lalu.
Pakaianmu masih sama seperti yang kau kenakan dua tahun lalu, meski sekarang sudah tidak rapi dan lebih mirip dengan robekan-robekan kain yang dipaksa ditempelkan di tubuh. Wajahmu tidak lagi berseri-seri seperti terakhir kali aku memberimu sepiring nasi dengan macam lauk pauk yang kau suka. Kebingungan mengisi matamu ketika melihat anakmu yang sama bingungnya denganmu. Rambutmu kini kusut bukan main, helaiannya tertinggal di antara jemariku setiap kali aku menyentuhnya. Aku tidak mengerti, Isuri. Apa yang sudah mereka lakukan kepadamu. Mengapa kini tubuhmu penuh dengan bekas-bekas luka yang sudah membusuk. Mengapa kau kini jadi kurus kering sampai tulang-tulangmu menonjol ke permukaan kulit—tak diberi makan kah engkau di-sana-di-suatu-tempat-yang-entah-di mana-kau disembunyikan? Bagaimana kau diperlakukan di sana? Apa kau dipukuli? Diseret-seret berkilo-kilometer dari jalanan? Ditarik-tarik rambutmu hingga kini mampu kulihat kulit kepalamu yang sungguhan mengering?
Aku tidak mengerti, Isuri. Tidakkah kau ingin menceritakannya padaku apa yang terjadi setelah Juni 1968 malam itu? Mengapa kau diseret dan mengapa gerombolan laki-laki berbadan tegap dengan senapan-senapan yang menghiasi diri mereka merampasmu dariku dan membuatmu menjadi seperti ini?
Aku tidak mengerti, Isuri. Siapa yang telah membunuhmu hingga kau terlahir kembali menjadi seseorang yang sedikit pun tidak kukenali.
****
Lupa kapan tepatnya di tanggal berapa, namun Jagat, anakmu pada saat itu masih berusia dua tahun. Dan tiba-tiba desa kami disisir oleh orang-orang yang tidak kami kenali—namun di mata perempuan desa sepertiku, aku hanya yakin tak ada selain bencana lain yang akan datang semenjak derap kaki mereka menyisiri tanah ini. Kau juga sebetulnya tidak tahu apa yang benar-benar terjadi. Kau cumalah petani yang menggarap sawah, mencintaiku, dan menghimpun rupiah demi rupiah untuk biaya sekolah Jagat kelak. Namun dari yang kau dengar tentara-tentara itu ingin membersihkan PKI di tempat kita yang terpencil ini. Aku tidak mengerti, bukankah kejadian tiga tahun lalu sudah cukup?
“PKI PKI itu akan kembali lagi, aku dengar dari Pak RT beberapa dari mereka sembunyi di hutan dekat sini. Karena wilayah sini kan memang dikelilingi hutan dan gunung. Makanya tentara gusar, susah juga carinya di tempat seperti ini,” katamu waktu itu. “Sudahlah, jangan ngomongin atau mempermasalahkan soal itu. Kita fokus hidup saja. Ndak perlu ngurusi. Ndak takut kamu memangnya?”
Tentu saja aku takut, Isuri. Kejadian tiga tahun lalu—tahun 1965 kalau tak salah—masih terekam jelas di kepalaku. Bagaimana banyak mayat yang tiba-tiba ditemukan di semak-semak atau di gorong-gorong. Tanah di negeri ini sudah digenangi darah dan firasatku mengatakan bahwa tanah desa kita sebentar lagi akan mirip seperti itu.
“Kamu ndak terlibat apa pun, kan, Isuri?”
Kau sempat diam beberapa detik sebelum menjawabku. “Ndak lah. Aku cuma tani, nandur padi. Apa yang bisa mereka lakukan padaku kalau aku bukan siapa-siapa?”
Begitulah jawabanmu, sekalimat yang sama sekali tidak menenangkanku karena aku tahu kau sempat beberapa kali ikut perkumpulan—yang aku tidak mengerti apa itu—selain kesibukanmu di ladang. Kau bilang perkumpulan itu akan mensejahterakan kita yang cuma tahu cara menanam padi. Tapi aku tetap saja takut, diammu beberapa detik sebelum menjawab pertanyaanku seperti tanda kalau aku memang sepantasnya gusar.
Toh, dari desas-desus yang aku dengar, tentara-tentara itu memanglah senang menangkap orang sesuka hati. Pantaskah aku untuk merasa tenang ketika kini setiap malam suara derap kaki juga suara-suara senjata itu bergemuruh tanpa henti?
Hari demi hari berlalu, desa kecil ini kian dipenuhi para lelaki berbadan tegap. Setiap malam rasanya seperti keheningan tiada ujung. Kami tidak lagi berani berbicara sembarangan. Salah bicara akan ditangkap, seperti Pak Sis yang berbicara tentang PKI dua hari yang lalu. Ia tanpa peringatan apa pun diseret, dituduh kalau dirinya antek PKI dan layak untuk dibawa. Dibawa ke mana aku juga tidak tahu. Hal yang sebetulnya sangat janggal bagiku, sebab aku tahu Pak Sis hanya bekerja sebagai tukang angkut barang di pasar. Kini rumahnya tersisa istri dan keempat anaknya yang sengsara. Tetangga-tetangga lain pun takut melewati rumah itu. Bahkan untuk bicara dengan istri Pak Sis pun tak ada yang berani. Kami semua seperti hidup di bawah tali yang begitu tipis. Salah langkah bisa ditangkap. Kami hidup di bawah bayangan ketakutan.
Tapi sebetulnya, aku sudah tidak peduli pada apa pun lagi. Jika benar PKI atau apalah itu akan kembali, biarlah ia semestinya. Jika benar para pejabat dari partai itu sedang bersembunyi di entah bukit atau hutan atau gua-gua yang mengelilingi desa kami, biarlah mereka semestinya. Biarlah dan tangkap saja mereka. Mengapa tentara-tentara ini kian hari menjadi brutal menangkapi banyak orang-orang yang aku tahu mereka bahkan sejengkal pun tidak terlibat apa pun? Aku gusar melihat Jagat harus tumbuh ketika tanah kami dikepung seperti ini. Pun semakin tak tenang aku melihat Isuri yang semakin betah berada di rumah. Dia sudah jarang pergi ke ladang atau bertemu kawan-kawan taninya itu. Adakah sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Isuri? Adakah sesuatu yang begitu kau takuti melebihi rasa kekhawatiranku saat ini?
“Kita ndak akan seperti Pak Sis itu kan, Isuri?” aku bertanya padamu, ketika kegusaranku sudah tak mampu kubendung lagi. Aku sungguhan takut. Semenjak desa ini dikepung tak ada satu detik pun aku merasa hidup.
“Kelak,” kau menjawab, “Kalau musibah seperti itu datang, kamu harus lari yang jauh dan bawa Jagat.”
Belum selesai aku memahami seluruh ucapanmu, pintu rumah kecil kita telah diketuk. Malam itu, betapa masih ingatnya aku segerombolan laki-laki menerobos masuk rumah ini. Kau dengan sok gagahnya menghadapi mereka, berbicara dengan sangat keras yang tak bisa kudengar seutuhnya sebab di pikiranku hanyalah menyelamatkan Jagat dari kekacauan seperti itu. Anakku tak boleh tumbuh dengan tahu sekejam apa dunia. Saya ndak terlibat, saya bukan PKI, mohon ampun, Bapak salah paham, jangan bawa saya. Adalah ucapan terakhir yang kutangkap sebelum aku lari bersembunyi di ladang dengan menyumpal mulut Jagat agar dia tak merengek.
Kemudian, segalanya jadi tak berarti apa-apa lagi setelah malam itu. Aku tak ingat bagaimana hidupku setelah kau pergi. Kau bilang kau tidak terlibat apa pun dengan semua itu, tapi mengapa mereka membawamu tanpa tanya atau tanpa memastikan sedikit pun? Di manakah mereka membawamu, Isuri? Di sel tahanan? Atau di perbukitan? Mampukah aku mencarimu menyusuri setiap celah yang ada di dunia ini? Mengapa mereka seperti itu kepadamu, kepada kita? Akankah kau kembali ke rumah ini? Bagaimana cara membuktikan bahwa kau tidak bersalah sama sekali?
Kujalani hidupku dengan menyimpan semua pertanyaan-pertanyaan itu sambil menunggumu kembali—meski keteguhanku perlahan mulai menyusut. Kini rumah kecil ini pun juga ditakuti warga lain. Tak ada yang mengajakku bicara atau mengajak Jagat bermain. Kami pun kesulitan di sini, menunggumu kembali dan suara-suara senapan itu terus meledak kian waktu. Membuatku ingin berlari dan menyumpal semua laki-laki sok gagah yang telah merampasmu dariku. Tapi mungkin di mata mereka perempuan sepertiku hanyalah ikan yang mudah disingkirkan atau diinjak-injak.
Aku terus berdoa, Isuri. Itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Semoga kau kembali, akankah kau kembali? Kudengar banyak yang tidak pernah kembali setelah ditangkap. Dan barangkali Tuhan mendengar salah satu doaku yang paling putus asa. Dua tahun kemudian, akhirnya kau pulang. Tapi kau sudah jauh berbeda dari dirimu sebelum tangan-tangan itu menangkapmu secara sepihak. Dari ujung rambutmu hingga tatapanmu tak pernah lagi sama. Kubasuh tubuhmu yang kotor dan bau sambil diam-diam menangis sebab rasanya kubasuh dua tubuh yang berbeda dari dua tahun lalu. Isuri, tak maukah kau bercerita kepadaku apa yang terjadi setelah penangkapanmu di Juni 1968 itu?
Siapa yang telah membunuhmu sejak malam itu, Isuri?
Florantina Agustin
