Ilustrator: Sofidhatul Khasana

Tiga hari yang lalu, kutemukan ibu telah dimakan rayap. Tubuhnya tergeletak di halaman rumah dengan tumpukan pakaian kotor yang akan ia cuci. Tak kuketahui mengapa, tapi seluruh tubuhnya mengikis. Perlahan-lahan menjadi butiran-butiran yang berkerak di atas kulitnya. Matanya mengendur, kupingnya layu, bibirnya mengerut, hidungnya telah mengempis sampai begitu rata dengan pipinya yang cekung. Susunya kendor bukan main. Tulangnya menjadi raib. Ibu telah begitu kurus kering dengan tulang belulangnya yang terpisah-pisah. Kakinya patah. Ia tak lagi rupawan. Ia tak lagi seperti wanita yang menanti kedatangan kekasihnya seperti kebiasaanya setiap hari. 

Rayap-rayap itu menelusuri tubuh ibu tanpa tahu malu. Menggeramati bibirnya ketika ibu berbicara padaku untuk terakhir kalinya, suaranya begitu lirih dan nyaris meratap, “Esok, apakah Tuhan sudah datang?” 

Kujawab dengan melihat segala penjuru halaman rumah tempat ibu berbaring, “Ya, Bu. Tuhan sudah hadir. Ia mencintaimu. Kau kekasihnya.” Tidak, aku berbohong. Tidak ada Tuhan di mana-mana. Mungkin kekasihmu telah raib selayaknya tubuhmu. Tapi tidak kuasa aku mengatakan yang sesungguhnya. Ibu harus mati dengan tenang. Ia terlelap setelah mendengar kebohonganku, dengan senyumnya yang tidak lagi elok–sebab seluruh tubuhnya telah terkikis. Dikikis rayap, barangkali, atau dikikis oleh Tuhan, kekasihnya yang selalu ia tunggu selama bertahun-tahun. Ibu tidak bersedih ia mati dengan keadaan buruk rupa, ia hanya memikirkan kekasihnya, Tuhannya, yang aku sendiri tidak tahu seperti apa sosoknya. 

Ibu selalu berkata kalau aku dilahirkan dari air mani Tuhan. Ibu bilang Tuhan adalah kekasihnya, ia telah dihamili Tuhan. Tuhan laki-laki. Tuhan yang punya penis. Suatu ketika–entah bagaimana caranya–ia turun dari singgasananya yang megah. Tuhan tidak membawa apa-apa, tidak pula dengan cahaya keperak-perakkan atau wujudnya yang mampu menutupi ujung-ujung dunia. Ia telah berubah menjadi sosok yang berdaging dan berkelamin. Dan penisnyalah yang membuatnya jatuh cinta kepada umatnya sendiri, kepada ibu. Ibu bukan Maryam yang punya kekuatan magis untuk mengandung tanpa melibatkan keesaan air mani. Tentulah malam itu ia terlena. Rahimnya tidak lagi kering. Tuhan di sisinya, mencintainya, mengasihinya, meninggalkan seonggok janin yang ia taruh ke dalam rahimnya. “Jadi, kenapa Tuhan pergi kalau ia mencintaimu?” tanyaku waktu itu. 

Ibu menjawab, “Sebab ia Tuhan. Tempatnya bukan dunia.” 

Setelahnya, ia melalui tahun demi tahun dengan sebuah penantian. Sampai tubuhnya terkikis dan menjadi barang rongsok. Betapa menyedihkannya ia. Di akhir hayatnya pun masih menanti kedatangan sosok esa itu. Di akhir hayatnya pun masih sempat ia mengasihiku–anak dari Tuhan yang meninggalkannya–dengan tetap menyuruhku mencuci tumpukan pakaian kotor yang tak sempat ia cuci. Ia bilang di antara tumpukan itu ada baju yang akan kupakai bekerja keesokan hari. Di ujung bibirnya yang berkeratap dimakan rayap pun ia masih sempat bilang bahwa ada semangkuk soto yang telah ia hangatkan. “Jangan lupa makan,” ucapnya kesakitan. 

Tidak kumakan soto itu. Rumah tiba-tiba berwarna merah terang sebab tumpukan baju kotor itu kubakar. Bersamaan sandal dan pakaian terakhir yang ibu kenakan. Tidak ada acara pemakaman besar-besaran. Aku cuma memberitahu Pak RT desa kalau ibuku telah tiada, juga bertanya padanya bagaimana mengurus KK yang baru dengan diriku sendiri menjadi anggota keluarganya. Tidak pula isak tangis yang memenuhi rumah. Segalanya sunyi. Kesunyiannya menusukku. Kesunyiannya membuatku mendatangi agen jual beli properti dan kuserahkan akta rumah kepada mereka. Aku akan menjual rumah ini. Dihargai seratus perak pun tak apa. Si agen memandangku sejenak, tapi setelahnya ia berkata, “Ke mana kau akan tinggal? Aku punya satu petak kamar dengan harga sewa murah.” 

Aku menggeleng, “Tidak ada sewa. Aku akan tinggal di kuburan.” 

Kau belum mati. Si agen menjawab lagi. 

Tidak. Aku sudah mati. 

Dan begitulah mereka menjual rumah yang sudah kutinggali selama dua puluh tujuh tahun dengan ibu. Hanya menunggu waktu setengah jam untuk orang ingin membeli rumah dengan harga seratus perak. Tidak kubawa barang berharga dari rumah itu. Aku hanya membawa satu selimut dan peralatan untuk menyeduh kopi. 

Tiga hari yang lalu, kutemukan ibu telah dimakan rayap. Setelahnya, kuputuskan aku akan tinggal di kuburan bersamanya. Akan aku gali satu tanah di sisinya. Kugelar tikar dan selimut di dalamnya. Barangkali ibu kesepian di dalam kubur dan bisa kuceritakan bagaimana aku menghabiskan waktuku sehari-hari dengan berbicara kepada wewe gombel penghuni makam. Barangkali ibu merindukanku dan ia bisa langsung menemukanku terlelap di sisinya. Barangkali ibu punya cerita paling baru di akhirat sana dan dia tidak punya siapa-siapa untuk membaginya. 

Satu minggu menetap di kuburan, ibu datang ke mimpiku. Ia datang dengan pakaian terakhir yang ia kenakan, juga setumpuk pakaian kotor dan tubuhnya berbau soto ayam yang mendidih. Ia menatapku lamat-lamat, mengusirku dari kuburannya. “Esok, tempatmu tidak di sini. Kau perempuan. Kau harus menikah dan punya anak.” ia berkata demikian di dalam mimpiku. Aku tidak punya hati menolak keinginan ibu. Jadi keesokan harinya kudatangi genderuwo penghuni makam yang hobi mengintipku tiap kali aku sedang berganti baju dan mandi pakai tanah kuburan. Kulepas seluruh pakaianku. Mata busuknya melotot melihat susuku yang cerah ranum, ia ngiler sedemikian rupa dan langsung mengangguk begitu saja ketika aku berseru kepadanya, “Ayo bercinta. Kita harus punya anak.” 

Maka malam itu, kuburan telah menjadi tempat birahiku dan genderuwo. Kami bercinta begitu hebatnya seperti kekasih yang saling menyayangi. Walau mataku tidak pernah terbuka menatap wajah menyeramkan si genderuwo. Ia begitu buruk rupa. Bau seperti tahi. Tiga kali aku muntah di sela-sela persenggamaan kita. Tapi ia berjanji akan mengisi rahimku dengan anak. Anak genderuwo, anak manusia, anak setengah genderuwo setengah manusia. Ia berkata spermanya tidak membusuk walau sudah jadi setan. Jadi aku menerimanya, aku menahannya. Aku bertingkah seolah aku mencintainya. Aku menahannya, kusingkirkan rasa takutku dengan satu keyakinan bahwa ibu akan bangga melihatku dari bawah kuburan sana. Kucintai dia sambil percaya bahwa aku akan mengandung. 

Besok mungkin akan tersebar sebuah berita yang sangat menghebohkan seluruh desa bahwa kuburan tempat keluarga mereka yang terkasih diistirahatkan tidak lagi menjadi tempat suci dan sakral. Besok mungkin aku akan dikutuk sebagai perempuan tidak bermoral dan diusir dari desa. Bisa jadi aku dibakar hidup-hidup karena menodai tempat sakral ini. Atau dikubur hidup-hidup di tempat aku dan genderuwo berbuat dosa. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengabulkan permintaan ibu, bahwa perempuan harus menikah dan punya anak. Memang tidak ada ijab kabul suci antara aku dengan genderuwo. Tapi kami telah kawin. Kuanggap itu sebagai pernikahan singkat. 

Sejak malam birahi itu, ibu seringkali muncul ke dalam mimpiku. Kadang hanya menampilkan wajah, kadang ia tampak menangis, kadang ia marah, kadang ia berbisik tepat di samping telingaku, “Esok telah dinodai setan.” ia terdengar marah. Sama seperti malam ini ketika mimpiku tampak lebih panjang dan terasa begitu nyata. Ibu berbicara di sana, lantunannya seperti suara milik Ibu saat memarahiku karena aku membolos sekolah, nada tingginya mirip ketika ibu menegurku karena makanan buatannya tidak kuhabiskan. 

Ibu telah muncul. Menjelma suara dalam kepalaku. Di dalam mimpiku. 

Esok, tidakkah kau malu menyerahkan keperawananmu kepada setan?” ia bertanya dengan nada yang marah, juga tersirat kecewa di sana. 

Tidak. Ia laki-laki. Ia punya penis. Tidak ada bedanya ia dengan laki-laki manusia. Apa bedanya juga ia dengan kekasihmu, Sang Tuhan?

Ibu semakin terdengar marah. “Perempuan manusia harus dihamili oleh laki-laki manusia!”

Tidak harus. Ibu juga dihamili oleh Tuhan. Tuhan laki-laki. 

“Tapi ia setan! Ia buruk rupa! Kau lahir dari air mani Tuhan!”

Tapi Bu, Genderuwo tidak pernah menghisap tubuhku dengan menyakitkan. 

Ibu tidak menjawab lagi. Keheningan menyesakkan dadaku dan segalanya kembali menjadi tenang. Tapi isakan tangis diam-diam terdengar di bawah sana. Ibuku telah menangis. Mungkin ia marah melihat anaknya bercinta dengan setan. Atau hatinya terluka sebab aku menyinggung sosok Tuhan, sosok yang menghamilinya, sosok yang melahirkan aku. Atau dirinya merasa pilu sebab tahu genderuwo yang menjijikkan pun tidak memakan lahap seluruh tubuhku–tidak seperti Tuhannya yang suci. 

Tangisannya terdengar begitu nyaring, seolah-olah dirinya telah sadar bahwa Tuhanlah yang membunuhnya. Ibu bukan mati karena sakit parah, melainkan ia memberi makan Tuhan, kekasihnya. Kusadari begitu lama kalau air mani laki-laki itu telah berserakan ke segala arah. Merusak rahim ibu. Merusak tubuh ibu. Tulang belulang ibu telah menjadi jalan laki-laki itu berpindah dari kota ke kota lain untuk mencari uang–ia berkelakar uangnya untuk membesarkanku. Diam-diam aku juga mengerti kalau aku berbagi susu yang sama dengan kekasihnya. Laki-laki itu seumur hidupnya telah minum air susu milik ibu, ia mencurinya, menghisapnya seenaknya tiap merasa haus, membagikannya kepada semua orang yang merasa haus, membandingkan air susu ibu dengan air susu milik perempuan lain yang ia temui di kota lain. Kuketahui pula kalau vagina ibu menjadi kasur laki-laki tertidur lelap. Laki-laki itu–Tuhan yang ia nanti sampai ia mati–yang mengikis setiap jengkal tubuh ibu dan membuatnya terbaring di kuburan. 

Jadi, sejak saat itu aku membenci Tuhan. Aku membenci kekasih ibu. Sejak saat itu pula, aku menganggap bahwa segalanya sama. Kau cuma perlu penis dan vagina untuk melahirkan anak. Bercinta dengan genderuwo atau Tuhan tak ada bedanya. Sebab mereka laki-laki. Mereka punya penis dan sangat mengagumi air maninya. Setidaknya Genderuwo mengasihiku. Ia tidak mengikis tulang belulangku untuk tempatnya berpijak. Ia tidak minum air susuku ketika ia kehausan. Tidak seperti Tuhan yang ibu cintai. Tidak seperti Tuhan kekasihnya. 

Ibu tidak pernah datang lagi ke dalam mimpiku. Kuburannya kini mirip dengan kuburan-kuburan lain yang telah terlelap begitu lama. Kuburan yang di bawahnya hanya tulang belulang saja. Aku bercinta dengan sepi, juga dingin. Genderuwo sesekali mengunjungiku dan bertanya apakah spermanya bekerja di dalam rahimku. Kubilang tidak tahu, aku sudah tidak peduli. Ibu telah sungguhan meninggalkanku. Barangkali ia sudah tidak ingin tahu bahkan kalau besok aku bersenggama dengan kuntilanak atau tuyul–ia tidak lagi marah dan mendatangi diriku. 

Puluhan malam telah kulalui. Tangisanku sudah membentuk bendungan sendiri ketika malam itu untuk pertama kalinya, kutemukan Tuhan di kuburan. Kuburan yang tanahnya sudah kering kerontang yang apabila kau gali tak pernah kau berpikir dulu di bawah sana terbaringlah ibuku yang elok. Tuhan itu menangis tersedu-sedu. Suaranya membangunkan sekelompok wewe gombel dan setan-setan kuburan yang mengintip keheranan karena baru pertama kali mereka tahu bahwa ziarah dapat dilakukan di malam hari. Kuseduhkan ia secangkir kopi, kuletakkan di atas nisan yang telah berdebu, dan menyambutnya dengan setengah hati. “Kau kekasih ibu?” aku bertanya demikian. 

Tapi Tuhan tidak menjawab. Tangisannya semakin kencang sembari tangannya–ia sungguhan berdaging, berpenis, dan selayaknya manusia biasa–menyusuri suraiku perlahan. Ia berkata, lirih sekali, “Kau pasti anakku. Kita telah menghisap susu yang sama.”

Puluhan malam telah kulalui. Tangisanku sudah membentuk bendungan sendiri ketika malam itu–untuk pertama kalinya–kutemukan Tuhan di kuburan. Kuburan yang tanahnya sudah kering kerontang yang apabila kau gali tak pernah kau berpikir dulu di bawah sana terbaringlah ibuku yang rupawan. Tuhan itu menangis tersedu-sedu. Suaranya membangunkan sekelompok wewe gombel dan setan-setan kuburan yang mengintip keheranan: baru pertama kali mereka tahu bahwa ziarah dapat dilakukan di malam hari. 

Kuseduhkan ia secangkir kopi asal-asalan, kuletakkan di atas nisan ibu yang telah berdebu, dan menyambutnya dengan setengah hati. “Kau kekasih ibu?” Aku bertanya demikian. 

Tapi Tuhan tidak menjawab. Tangisannya semakin kencang. Hampir satu jam ia duduk dan bersujud di kuburan ibu. Tangisannya bercampur dengan kopi yang tidak ia seduh sama sekali. Tuhan itu menatapku sejenak, sembari tangannya–ia sungguhan berdaging, berpenis, dan selayaknya manusia biasa–menyusuri suraiku perlahan. 

“Kau pasti anakku. Kita telah menghisap susu yang sama. Kita telah hidup pada tubuh yang sama.” Ia berkata sembari merengkuhku perlahan. Tangan kanannya menyisiri suraiku penuh kasih, tangan kanannya meraba putingku.

Penulis: Florantina Agustin Nilam Sari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.