“INOVASI DAN INKLUSIVITAS” HARAPAN HASIL TEMA KONFERENSI PDP KE-IV DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG-KAV.10 Universitas Brawijaya (UB) telah menjadi tuan rumah untuk konferensi Pengetahuan dari Perempuan ke-IV. Konferensi yang bertajuk “Inovasi yang Inklusif untuk Pencegahan, Penanganan, dan Pemulihan Korban Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan” ini diadakan dari tanggal 17-19 September di gedung Samantha Krida UB sebagai hasil kerjasama antara Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), UB, Forum Pengada Layanan (FPL) dan Universitas Indonesia (UI).
Selama konferensi berlangsung, sebanyak 57 paparan pengetahuan tentang penanganan kekerasan berbasis gender diperdengarkan kepada lebih dari 450 partisipan seminar yang hadir secara luring, dan lebih dari 600 secara daring. Andy Yetriyani, Ketua Komnas Perempuan, menyatakan bahwa konferensi internasional ini bertujuan untuk memaparkan dan memercikkan inovasi baru untuk upaya penanganan kasus kekerasan berbasis gender. “Kita berharap akan memunculkan inovasi-inovasi baru, mengingat kekerasan terhadap semakin banyak dilaporkan dan semakin kompleks,” jelas Andy di konferensi pers pada akhir sesi seminar.
Selain itu, konferensi PdP juga mengedepankan pentingnya pendekatan berbasis akademis terhadap penanganan kekerasan gender. Maharani Pertiwi, Akademisi UB dan selaku pembicara pada konferensi pers, menjelaskan bahwa konferensi diharapkan dapat menyatukan pengalaman dan menjadi wadah kolaborasi bidang akademis untuk pencegahan segala kekerasan berbasis gender. “Ketergiatan kami di pihak akademisi untuk memastikan bahwa adanya pendekatan yang diambil pada langkah-langkah dan juga inovasi untuk penanganan kasus kekerasan berbasis gender ini berdasarkan pengalaman akademisi dan penelitian mutakhir” tutur Pratiwi.
Novita Sari, panelis di konferensi pers dan perwakilan dari FPL memaparkan harapannya atas konferensi ini. Ia berharap konferensi PdP ke-IV dapat memunculkan pengetahuan baru yang dapat menjadi bahan kajian akademisi, dan membantu penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. “Di forum ini praktisi dan akademisi bertemu berharap bahwa dalam forum ini muncul pengetahuan-pengetahuan baru yang mungkin itu akan membantu kerja-kerja kami sebagai pendamping, juga pengalaman-pengalaman dari pendamping ini akan mendukung kajian-kajian dari akademisi.” Ujar Novita.
Di samping hal tersebut, konferensi PdP ke-IV juga bertujuan untuk rekognisi pengetahuan dari perempuan dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk pencegahan kasus kekerasan berbasis gender “Sejak awal konferensi pengetahuan dari perempuan ini ingin merekognisi, mengakui, menghargai, bahkan meretam dan menggunakan pengetahuan dari perempuan termasuk korban, perempuan penyintas, perempuan pendamping, dan semua pihak.” Papar Siskawati.
Siskawati juga menekankan peran konferensi dalam mengurangi dominasi akademik dalam ruang pembicaraan penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan “Artinya tidak lagi didominasi oleh perguruan tinggi, suatu ruang, dialog percakapan, supaya pengetahuan yang dimiliki oleh semua pihak tadi tidak hanya dari akademisi itu lagi-lagi direkam serta digunakan untuk kita semua memperbaiki upaya untuk mencegah, menangani, dan memulihkan masalah kekerasan berbasis gender” Jelasnya.
Pada akhir konferensi, hasil dan inovasi yang didapatkan dari konferensi akan diberikan ke pemangku kebijakan. Hasil yang didapat diharapkan dapat diintegrasikan ke rencana kerja Komnas Perempuan yang mendatang.
Penulis: Naufal Rizqi Hermawan
Editor: Dimas Candra Pradana
