SEBUAH TULISAN PENDEK DARI MAHASISWA BARU YANG MEMANG TAK TAHU APA-APA PERIHAL KAMPUS DAN PENGETAHUAN PENDEKNYA MENGENAI PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN
Akhirnya datang juga hari yang ditunggu-tunggu, hari pertama perkuliahan. Oh, tapi saya melihat ada sesuatu yang janggal: saya dibedakan. Memangnya mahasiswa baru itu harus diseragamkan, ya? Apakah memang identitas kita diperlukan? Dan apakah harus saya dibedakan dengan mahasiswa satu atau dua tingkat di atas saya karena saya mahasiswa baru? Sistem pendidikan macam apa yang membedakan pencari ilmu yang datang jauh-jauh hanya untuk meraih cita-cita yang mereka usahakan?
Kampus sebagai ruang aman yang diusahakan nampaknya masih belum mampu membangun kultur inklusif. Sebelum jauh-jauh saya menulis, saya akan menjabarkan apa itu inklusif sependek pengetahuan saya sebagai mahasiswa baru yang membutuhkan bimbingan: definisi dari inklusif adalah termasuk atau terhitung. Kata inklusif diserap dari kata berbahasa Inggris yaitu “inclusion“, yang artinya mengajak masuk atau mengikutsertakan. Sedangkan kata eksklusif diserap dari kata “exclusion“, yang artinya mengeluarkan atau memisahkan. Apakah pembaca sudah menangkap apa yang ingin saya tuliskan?
Akankah kita benar-benar mencapai tujuan pendidikan yang inklusif jika kita masih mempraktikkan pemisahan dan pembedaan di antara mahasiswa? Mengapa di tengah wadah pengetahuan yang seharusnya menjadi tempat bertemunya berbagai latar belakang dan pandangan, kita malah merasa perlu untuk membedakan mahasiswa baru dari mahasiswa lama? Apakah perbedaan status ini mencerminkan suatu bentuk superioritas atau inferioritas?
Akankah kita benar-benar meraih pendidikan yang membebaskan, seperti yang dipercayai oleh tokoh pendidikan kritis, Paulo Freire, jika kita masih terjebak dalam praktik-praktik yang tampaknya melenceng dari konsep pendidikan inklusif dan kampus sebagai ruang aman?
Pertama-tama, mari membahas fungsi dari kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus. Meskipun ada argumen yang menyatakan bahwa hal-hal demikian adalah cara untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan kampus, tetapi penting untuk mengkritisi apakah cara ini benar-benar inklusif dan membangun lingkungan yang aman. Apakah perlu merasa terasingkan atau diperlakukan berbeda hanya karena status sebagai mahasiswa baru? Bukankah seharusnya lingkungan kampus memberikan rasa nyaman, dukungan, dan kesempatan yang setara bagi semua mahasiswa, tanpa memandang tingkatan atau lama di kampus?
Kemudian, ada isu tentang penyematan identitas yang wajib digunakan oleh mahasiswa baru. Praktik ini, walaupun mungkin dianggap sebagai cara untuk membangun semangat kebersamaan, juga dapat menciptakan pemisahan dan stereotipe. Mengapa perlu mendefinisikan diri berdasarkan tahun angkatan? Apakah ini menjadi penghalang bagi terbentuknya interaksi yang lebih inklusif dan saling mendukung di antara berbagai tingkatan? Bukankah mahasiswa baru seharusnya dilihat sebagai individu yang membawa berbagai latar belakang, pengalaman, dan potensi yang unik? Penekanan pada perbedaan fisik dapat mengaburkan keragaman intelektual dan sosial yang seharusnya dihargai dalam lingkungan pendidikan.
Juga ada praktek semi-militer yang dengan “halus” termanifestasikan pada suasana yang saya rasakan ketika PKKMB fakultas. Agaknya hal ini tak sejalan dengan konsep pendidikan yang dialogis dan malah sebaliknya, praktek kekerasan verbal (dengan membentak, penekanan psikis) tidak mendukung komunikasi terbuka dan dialog antara mahasiswa dan senior. Mirisnya, hal ini terjadi pada fakultas yang memiliki program studi Psikologi yang terkenal menolak penindasan, kelakuan aparat yang represif, dan hal-hal “progresif” lainnya.
Sekarang, mari hubungkan hal ini dengan pandangan pendidikan yang membebaskan dari Paulo Freire. Freire meyakini bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang menghargai martabat manusia, mendorong kritisisme, dan menghasilkan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia. Namun, praktik-praktik yang dapat menyebabkan perasaan terasingkan atau inferioritas di lingkungan pendidikan tampaknya bertentangan dengan nilai-nilai ini. Jika kita ingin menerapkan pendidikan yang membebaskan, maka lingkungan pendidikan juga perlu menerapkan pendekatan yang inklusif, saling mendukung, dan bebas dari hambatan yang tidak perlu.
Kampus sebagai ruang aman yang inklusif seharusnya memberikan tempat bagi semua mahasiswa untuk tumbuh dan belajar tanpa rasa takut, diskriminasi, atau eksklusi. Ini melibatkan mengakui keberagaman, menerima berbagai latar belakang, dan membangun kesadaran akan persamaan hak dan kesempatan. Pendidikan yang membebaskan, seperti yang ditekankan oleh Freire, memerlukan lingkungan yang mendukung proses pembebasan diri dari penindasan, baik yang bersifat sosial maupun psikologis.
Paulo Freire, dalam konsep pendidikan pembebasannya, menegaskan pentingnya menciptakan ruang belajar yang dialogis, saling menghormati, dan inklusif. Dia menolak pendekatan yang merendahkan dan mengintimidasi (maha)siswa, dan justru mendorong pendekatan yang membangun hubungan horizontal antar (maha)siswa, di mana pengetahuan dikonstruksi bersama. Freire berpendapat bahwa pendidikan seharusnya mengangkat martabat manusia, bukan menghancurkannya. Ada satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan, yaitu: “Jika memang kami bukan lagi anak SMA, lantas mengapa kami harus dibentak-bentak untuk memahami kesalahan kami? Mengapa kami harus dibariskan dalam evaluasi yang merenggut jam sholat kami? Padahal kan, orang dewasa biasanya memecahkan masalah dengan diskusi dan tidak dengan membentak-bentak?”
Saya menjadi iri dengan teman saya yang diterima masuk di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) Top 3 di Indonesia yang menceritakan pengalaman ospeknya kepada saya. Ospek di PTN tersebut amat sangat ramah, tanpa bentakan, tanpa konsep pendidikan ala militer dan menekankan pada pemahaman mengenai kehidupan kampus tanpa mencederai hak-hak individu. Lalu apakah kita mau berbenah? Dan apakah tulisan saya (yang notabene hanya mahasiswa baru yang tak tahu apa-apa mengenai kampus) ini dapat diterima? Entahlah.
Akhirnya, kita perlu merenungkan bagaimana pendekatan ospek yang positif dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif, kritis, dan membebaskan. Kita bisa mempertimbangkan metode pembinaan, orientasi, atau mentoring yang lebih bertujuan untuk membangun kolaborasi dan pemahaman yang mendalam, tanpa mengorbankan martabat individu atau mengandalkan rasa takut sebagai alat pengendalian.
Jadi, apakah kita benar-benar menuju pendidikan yang membebaskan (atau memang kampus kita tidak memiliki semangat pendidikan yang membebaskan, ya?) ketika praktik-praktik seperti PKKMB semi-militer atau pemisahan identitas masih ada? Apakah praktik-praktik dalam lingkungan pendidikan demikian relevan dengan tujuan akhir pendidikan yang kita harapkan: menciptakan individu yang kritis, mandiri, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi?
Penulis: Muhammad Haidar Sabid A
Ilustrator: Rosa Rizqi Amalia
Haidar merupakan mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Brawijaya, menyukai buku-buku sastra, filsafat dan ilmu sosial dan bercita-cita menjadi seperti Goenawan Mohamad
