Bukan Gelap, Bukan Juga Terang

Oleh : Salsabila jasmine (Anggota Magang)
Kenalin aku melati (nama samaran), seorang remaja yang baru saja menginjakkan kakinya di bangku perkulihan. Aku bukanlah tipe orang yang senang bertukar cerita, sekalipun itu sahabatku sendiri. Semua kenangan yang pernah kulalui selalu aku pendam sendiri di dalam hati. Mulai dari kenangan manis yang selalu membuatku kuat hingga saat ini. Dan kenangan pahit yang menjadi bekas dilubuk hati yang paling dalam.
Dahulu menangis sudah jadi rutinitasku. Segala keadaan yang hilir berganti selalu kuhadapi dengan tangisan. Air mata yang mangalir bukanlah air mata kebahagiaan. Banyaknya omongan yang keluar masuk ditelingaku membuat diriku menjadi gila. Memang sadis rasanya jika hanya terus berdiam diri dan tidak berkeluh kesah dengan orang lain. Namun, apa daya itulah jati diriku.
Ada kenanagan pahit yang sampai sekarang ini harus bisa kuterima dengan lapang dada. Disaat aku masih duduk di bangku SMP, saat saat yang seharusnya kebahagian harus berdatangan. Cerita ini bermula dari dua insan yang aku sayang mulai terasa ada jarak. Ya… itu ayah dan ibuku. Umur pernikahan mereka kurang lebih sudah menginjak 16 tahun. Memang sudah tergolong lama dengan umur pernikahan itu. Namun, harapan tidak selalu sesuai dengan realita. Perpecahan bermula karena adanya pihak tiga yang tidak memiliki rasa malu. Dengan gaya sok benar melawan ibuku yang tidak tahu apa-apa.
Malam hari, terdengar suara gaduh dari lantai atas rumahku. Aku terbangun setengah sadar, segera menghampiri sumber suara. Ternyata ayah dan ibu masih terbangun. Mereka saling berbicara dengan nada suara yang tinggi. Raut emosi dapat dilihat dari wajah kedua orang tuaku. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, ada kalimat yang sampai ini aku ingat yaitu “kita cerai saja”.
Seketika detuk jatungku semakin kencang, hingga rasanya ingin meledak. Tangisan kecewa mulai tertetes dipipiku. Suara tangisan aku tahan agar mereka tidak mengerti keberadaanku. Dengan pelan pelan aku melangkah kembali ke kamar. Diatas kasur, seluruh tubuhku kututupi dengan selimut. Kucuran air mata terus mengalir hingga tak sadar sinar matahari sudah menyinari kamarku.
Waktu pagi kujalani dengan berpura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi semalam. Segalanya berjalan normal seperti biasanya. Mulai dari ayah yang bersiap unuk bekerja, ibu yang sedang sibuk memasak di dapur, dan adik yang asik menonton tv di ruang keluarga. Semuanya terlihat biasa sajakan?. Saat diperjalanan ke sekolah, Rasa heran muncul didalam benak ku. Selama disekolah seluruh aktivitas kujalani dengan senyum dan tawa diwajah. Semua berjalan dengan kusampingkan pikiran tentang kejadian diluar dugaan.
Siang hari telah tiba, waktunya untuk pulang kerumah. Sesampainya dirumah, tidak ada satupun orang yang ada. Sudah kupanggil ibu dan adik ku tapi tidak ada tanggapan. Akhirnya aku memutuskan untuk bebersih diri sambil menunggu kedatangan mereka. Tak lama kemudian, “assalamualaikum…” suara ibuku sambil membuka pintu. “waalaikumsalam…., ibu dari mana?” Tanya ku sambil menghampirinya. Aku melihat ibuku dengan wajah yang merah, mata sebam, dan tubuh yang lemas. Segera ku ambilkan segelas air minum dan kuberikan kepadannya.
“ada apa bu? Kenapa ibu menangis seperti ini? Apa yang sudah terjadi? Ceritakan padaku?” tanyaku terus kepada ibuku sambilku peluk dirinya. Dengan nada terbata-bata ibu menjawab “kak.. maaf ibu belum bisa jadi ibu yang sempurna buat kakak dan adik. Mulai saat ini ayah sama ibu enggak bisa serumah lagi”. Detak jantung seketika terasa berhenti, luapan rasa serasa sudah tidak terbendungkan. Air mata kesedihan mulai mengalir sambil menjawab “kenapa ibu bilang seperti itu? Kenapa ayah dan ibu enggak bisa serumah lagi?” Tanya ku. “iya kak… maaf ibu dan ayah baru saja cerai” jawab ibuku sambil memelukku erat.
Suara tangisan terus terdengar dari diriku, segalanya seperti sudah mati rasa. Ibu yang terus terusan menenangkanku meskipun dirinya juga sedang tersakiti. Disaat keadaan sudah mulai terlarut, aku berdiam diri dikamar dengan keadaan rumah yang sunyi. Ketukan pintu terdengar, ibu masuk dengan mambawa secangkir susu yang akan diberikan kepada ku. “sudah nak, kamu harus bisa menerima semuanya yaa…” katanya. “kamu harus kuat, kamu harus bisa menunjukkan kepada ayahmu, kalau kamu kuat meskipun tidak ada dirinya disampingmu” tambahnya. “iya bu kakak kuat, kakak harus bisa jadi contoh untuk adik dan jadi penyemangat untuk ibu”. Jawabku. Hari demi hari terus berganti, kejadian pahit itu terus terlintas dipikiranku.
Pahitnya kenyataan bukan lagi asing bagiku. Segala cobaan aku hadapi bersama dengan keluarga kecilku. Amanah demi amanah ibu yang selalu aku dengarkan. Hingga akhirnya aku berada diposisi sekarang ini, berada di jalan menuju kesuksesan. Yang lalu jangan jadikan pandangan, tetapi jadikan cermin untuk memutar balikkan keadaan.
