Surat-Surat

Telah ditemukan seorang tergeletak tak bernyawa di dekat swalayan pada pukul 06:23 pagi. Pria tersebut terkapar sembari memegang beberapa carik kertas seperti surat. Begini isi suratnya:
Surat Pertama —
Karawang, 19 Desember 2017
Untuk Ibu tercinta,
Apa kabar bu. Semoga ibu sehat selalu. Pertama-tama Razzak mau minta maaf ke ibu karena meninggalkan rumah tidak izin terlebih dahulu. Razzak yakin ibu sangat khawatir Razzak tiba-tiba tidak ada di rumah. Tidak usah terlalu pikirkan Razzak bu. Razzak sehat-sehat saja. Razzak kini sedang mencari kerja ke kota. Kata Mas Panji, kalau ingin kaya jangan bekerja di desa. Pergilah ke kota, cari kerja di sana dan kamu akan dapat gaji yang besar.
Razzak ingin kerja ke kota bu, mengikuti apa kata Mas Panji. Razzak sudah besar, lulusan S1 juga. Razzak yakin bisa mencari kerja di kota. Razzak tidak ingin menjadi parasit di rumah lagi. Razzak dengar pembicaraan ibu dengan Bu Rita tetangga kita, sore sehabis ibu pulang arisan. Dia bilang anaknya sudah kerja di Jakarta, punya gaji belasan juta dan sudah bisa memberangkatkan dirinya pergi umroh di tahun mendatang. Anak tidak boleh betah jadi parasit rumah katanya lagi, apalagi sudah habis banyak setelah menguliahkannya tinggi-tinggi tapi masih belum menjadi apa-apa. Seharusnya ketika umurnya sudah dewasa, anak sepatutnya bekerja dan membahagiakan orang tuanya. Razzak tahu ibu hanya menghargai obrolan itu dan tidak setuju kalau Razzak parasit rumah, tapi Razzak juga mau membahagiakan ibu.
Ibu sudah banyak berkorban demi Razzak. Mulai dari bekerja siang-malam, sana-sini demi Razzak lanjut sekolah setelah ayah almarhum, sampai menjual sawah warisan kakek untuk Razzak kuliah. Awalnya Razzak tidak mau kuliah, tapi ibu bilang Razzak harus berpendidikan tinggi agar tidak menjadi orang susah seperti bapak dan ibu. Banyak sekali yang sudah ibu perjuangkan demi Razzak, tapi Razzak masih belum jadi apa-apa.
Kalau Razzak nanti sudah sukses, semua pengorbanan ibu semasa Razzak menjadi parasit akan Razzak tebus. Razzak akan beli kembali sawah kakek yang ibu jual, Razzak juga akan memberangkatkan ibu umroh seperti Bu Rita. Razzak tau kalau mengunjungi Rumah Allah sudah jadi cita-cita ibu sedari lama. Razzak sering mendengar ibu menangis sembari membayangkan ibu tawaf di Rumah Allah setiap berdoa sehabis solat.
Ohiya, masalah uang ibu tidak perlu khawatir, Razzak punya uang barang untuk berangkat dan hidup di kota selama 6 bulan. Aman saja bu, Razzak punya tabungan selama kuliah dulu. Dan Razzak ingin meminta maaf lagi. Karena sudah menjual handphone dan laptop yang ibu belikan untuk Razzak kuliah. Setelah kerja nanti Razzak langsung gantikan uang untuk handphone dan laptop itu. Razzak juga tidak akan lupa solat dan ibadah seperti yang ibu selalu nasihatkan.
Doakan Razzak agar mudah mencari kerja ya bu. Walau Razzak masih banyak meraba kehidupan perkotaan, Razzak yakin Razzak bisa. Semoga surat ini sampai dan mengobati rasa khawatir ibu.
Razzak Daniswara
***
Surat kedua —
27 Januari 2019
Untuk Dik Romlah,
Romlah ku sayang, aku tahu pasti kau sudah rindu denganku. Atau mungkin adik sudah lupa denganku barangkali, aku juga tak tahu. Aku ingat pertemuan kita pertama kali, di pohon besar ketika kita aku sebentar lagi lulus SMA dan kamu baru saja mengenakan putih abu.
Aku jarang sekali keluar kelas, mungkin kamu juga sudah tahu. Tapi hari itu aku jengah di kelas dan memutuskan untuk keluar dan melihat paras indahmu itu. Mungkin sudah jadi takdirnya aku jatuh cinta padamu kala itu, hingga kini pun tak pernah pudar.
Aku memilih untuk belajar di kelas kala istirahat karena aku tidak punya bekal uang begitu banyak untuk sekadar jajan di kantin. Aku juga tidak pernah nongkrong sepulang sekolah ataupun liburan, karena harus membantu ibuku bekerja. Kita jarang berpapasan memang, tapi karena hadirmu yang jarang itu membuatku ingin lebih getol untuk menggapai masa depan. Tentunya masa depan denganmu dik.
Dulu mungkin aku memang pemalu, jangankan untuk berbicara banyak denganmu, melihatmu dengan ekor mataku saja bisa membuat hatiku meringis. Namun kali ini berbeda, Aku sudah mapan. Kini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai staff. Pekerjaanku sudah tetap. Gajiku sudah mujur, sebulan barangkali sudah bisa membeli handphone baru.
Aku tidak mendapatkan semua ini dengan mudah tentunya. 3 bulan pertama hidupku luntang-lantung mencari kerja. Kesana-kemari melempar semua surat lamaran kerja ke setiap perusahaan di kota. Barang satu dua kali terkena makian karena memaksa mengirim surat lamaran ke perusahaan kepada satpam. ‘Tidak ada lowongan, hus pergi sana,’ katanya. Tapi aku tidak menyerah, aku menganggap cacian itu sebagai cobaan dari Allah. Bulan ke-4 akhirnya aku mendapat jawaban. Aku diterima kerja di perusahaanku sekarang. Pekerjaanku tidak sulit, hanya mengetik beberapa kebutuhan perusahaan, dan kerja dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Gajiku juga tidak kecil, dan atasanku berjanji untuk menaikan jabatanku jika aku terus kerja dengan getol.
Surat ini aku maksudkan untuk meminangmu Romlah. Dengan diriku yang sekarang, aku janji untuk membahagiakanmu. Apa yang kamu inginkan akan kukabulkan. Menikah di hotel mewah Bali? Atau jalan-jalan ke Raja Ampat? Bisa kamu dapatkan dengan menikah denganku. Aku harap kamu memikirkan baik-baik surat lamaran ini. Demi kebahagiaanku, dan juga kebahagiaanmu.
Razzak
***
Surat ketiga —
2020
Hai anakku, barangkali kamu belum lagi lahir. Aku juga tidak tahu apakah kamu seorang lelaki atau perempuan. Tapi terlepas dari itu, aku tuliskan surat ini untukmu dan bukalah ketika kamu dewasa.
Surat ini mungkin akan kamu baca ketika papa sudah meninggal, atau mungkin sebaliknya, kita tidak tahu nasib. Pertama-tama mari kita bicarakan perihal namamu, jika kamu laki-laki, akan kunamai kamu Steven, dan jika perempuan akan kunamai kamu Maria. Aku ingin nama anakku kelak adalah nama yang keren, setidaknya walaupun kalian lahir tidak dalam keadaan sangat kaya, nama kalian tidak bisa diejek karena keren. Tidak akan malu jika bapak ibu guru memanggil nama kalian saat presensi di kelas.
Tidak hanya nama yang keren, papa juga akan menyiapkan masa kecil kalian yang cemerlang juga. Masa kecil kalian akan penuh dengan mainan-mainan keren. Steven, aku yakin kamu akan suka tembak-tembakan yang bersuara nyaring atau mungkin mobil-mobilan yang bisa jalan sendiri, tentunya tidak lupa juga untuk kamu sombongkan ke teman-temanmu. Untukmu Maria, aku yakin nanti kamarmu akan penuh dengan dekorasi bunga dan boneka-boneka lucu, agar temanmu betah berlama-lama bermain di kamarmu.
Sekolahmu juga nanti tentunya berisi dengan orang-orang yang keren juga. Sekolah internasional, barangkali kalian nanti memiliki teman dari Inggris kelak dan bisa bergaul dengan orang mancanegara. Tentunya dengan baju yang rapi dan wangi, mengunjungi semua warung makan di kantin, dan nongkrong hingga larut sembari tersenyum lebar ketika pulang ke rumah. Akan papa nantikan cerita serumu di tengah senyum itu.
Papa sedang bekerja keras untuk mengabulkan itu nak, yang sabar barang sedikit ya. Namamu akan selalu di meja kerja papa sebagai pengingat untuk bekerja dan menabung yang banyak. Demi masa depanmu, agar setidaknya lebih baik dari papamu ini.
***
Surat keempat —
Barangkali dunia ini sudah gila, atau aku yang sudah. Sudah banyak kurasa aku menghabiskan hidupku bekerja keras, tapi tidak juga pernah dapat secercah kebahagiaan. Barangkali kebahagiaanku belum juga tuntas dibuat oleh Tuhan di atas sana, kalau itu aku bisa mengerti. Tapi apakah aku benar-benar akan mendapatkanya ya Tuhan? Jika tidak berikan saja kepada Ibu ku, aku yakin dia lebih membutuhkan nya kalau-kalau aku mati lebih dulu belum sampai merasakan kebahagiaan buatan-Mu itu.
Aku yakin dik Romlah sudah tidak sabar bertemu denganku. Pakaian ku kini tidak lagi kusut seperti dulu karena ibu lupa untuk menyetrikanya sebelum berangkat kerja. Aku juga sudah tidak berangkat kemana-mana hanya dengan kaki, aku sudah bermobil. Dingin sekali AC nya, kadang aku matikan dan membuka jendela agar lebih segar. Sabarlah sedikit dik,
aku sudah berjanji ketika kita bertemu, kita akan menikah di tempat yang kau idamkan itu.
Maafkan Razzak ya bu, mungkin janjiku terlalu banyak dan belum sampai terwujud satupun. Razzak yakin ibu khawatir, tapi tenang saja Razzak masih hidup. Mungkin hanya Tuhan yang bisa mewujudkan semua janji Razzak, maka setiap hari Razzak selalu berdoa kepada-Nya. Agar setidaknya janji Razzak terpenuhi sebelum Ibu lupa parasku. Dunia ini sangat keras bu, Razzak terheran-heran bagaimana ibu bisa menjadi ibu Razzak dahulu. Sekuat apa seorang ibu hingga bisa bertahan menyekolahkanku, bahkan sampai menguliahkanku, di tengah hidup kita yang menurut Razzak sedikit compang-camping. Razzak selalu berdoa kepada seluruh perempuan kuat seperti ibu untuk masuk surga, aku doa lama sekali agar benar-benar dikabulkan.
Untuk Steven atau Maria, hiduplah dengan bahagia ya nak. Papa akan usahakan selalu, barangkali kebahagiaan papa terhenti agar semuanya jatuh di tanganmu. Papa selalu ingat janji papa kepada kalian, kalian akan bahagia. Mainan dan sekolah bagus itu? Sudah papa persiapkan, maka hadirlah cepat-cepat, segeralah menjadi kebahagiaan papa. Barangkali bahkan mama mu belum ada, tapi papa yakin kalian semua akan bahagia nanti. Papa akan berusaha lebih lagi.
Kebahagiaan mungkin sudah direnggut sejak aku lahir, tapi aku selalu optimis tentang masa depan. ‘Cemerlang menanti kepada yang berusaha keras,’ kata-katamu akan selalu ku ingat Mas Panji. Jika aku kaya nanti, itu pasti karena kamu, ya karena kamu mas!
***
Surat terakhir —
Namaku adalah Razzak Daniswara. Usiaku 29 tahun. Aku adalah penghuni Rumah Sakit Jiwa Nurul Amal, Telukjambe Timur, Karawang.
Razzak orang yang baik, berbakti kepada orang tuanya dan juga pekerja keras. Razzak selalu berkhayal dirinya menjadi seorang pekerja kantoran, memiliki seseorang yang ingin dilamar, dan ingin memiliki anak yang ingin ia bahagiakan. Razzak tidak jahat, jika barangkali kalian melihat Razzak duduk di kursi depan rumah kalian seperti sedang bekerja di kantor, melamar kalian dengan cincin yang terbuat dari uang, dan menghampiri anak kalian dan memberikan mereka mainan dari kayu, jangan sampai memukulnya.
Razzak suka berkeliling, tapi terkadang ia lupa jalan pulang, jika kalian melihat Razzak, harap hubungi nomor ini: +62 0010 0100 0001
Pengurus Nurul Amal
Penulis: Ekas Abdul Baits
