GURU DAN JUSTIFIKASI TENTANG MURID-MURID BODOH

Di sekolah, kemunculan si murid pintar dan kehadiran si murid bodoh adalah perihal yang niscaya. Dikotomi tersebut tercipta akibat adanya justifikasi yang mengarah pada siapa yang selalu menjawab benar dan siapa yang sering menjawab salah. Barangkali pengekangan untuk menjadi si pintar di sekolah itu hanyalah delusi yang diciptakan sebab pembodohan hegemonis anasir guru dan murid kesayangannya. Apabila demikian adanya, lantas masih belum pantaskah kita menyebut sekolah merupakan alat untuk menumbuhkan ketakutan?
Saya menganggap bahwa delusi yang sudah sangat populer ini sebenarnya adalah fantasi kolot yang sengaja dibuat-buat oleh anasir guru. Seperti misalnya, anasir guru yang mencoba membuka ruang dialog. Pada kasus ini, anasir guru memiliki perhatian terbatas kepada murid cerdas. Hal ini bisa dicontohkan ketika guru langsung menunjuk murid yang “diyakininya” memiliki kapasitas dalam dialog untuk mengungkap pendapat atau pemikirannya. Menurut saya ini adalah penghakiman sosial yang terburu-buru: yakni ketika murid yang tidak ditunjuk artinya mereka berbeda dalam hal kecerdasan. Walhasil, mereka yang diam artinya bodoh. Prasangka inferioritas ini adalah perasaan yang tumbuh dengan kejam ketika seorang murid merasa dirinya berbeda dengan murid lain. Contoh yang digambarkan dalam situasi tersebut menumbuhkan ketakutan seperti yang saya katakan di muka. Sebenarnya siapa yang membuat-buat kenaifan ini? Bukankah selayaknya pendiskreditan semacam ini seharusnya tidak ada apabila tujuan sekolah adalah membentuk ruang belajar. Kecuali kalau membentuk perkumpulan anak-anak cerdas menuju Indonesia Emas 2045 ya silakan.
Sekolah dan Buku-buku Super
Syahdan, kenyataan yang susah dinafikan oleh murid-murid adalah mereka tidak akan terlepas dari buku. Memang, catatan pedagogi dari sebuah buku sering digunakan landasan untuk mengetahui kebenaran. Tapi benarkah dengan begitu kita bisa menyatakan kebenaran yang ada di buku-buku merupakan suatu kebenaran yang mutlak? Mutlak berarti bahwa kebenaran itu tidak bisa diperdebatkan lagi. Konsekuensinya, guru-guru akan lebih mudah memiliki akses untuk menjustifikasi mana murid yang bodoh dan pintar. Dengan indikasi yang sangat sederhana tersebut, guru-guru menggunakan parameter kualitas kepintaran melalui interpretasi literal yang sangat kaku berdasarkan sejauh mana murid membaca buku.
Kenyataannya, kita memang susah menafikkan buku-buku karena otak kita membutuhkan retensi informasi yang matang. Dengan kecenderungan manusia yang pelupa, buku bisa menjadi basis ingatan sekunder. Maka sudah selayaknya membaca buku adalah situasi yang sukar dihilangkan dalam sejarah sekolah. Perlu diluruskan kalau saya tidak bermaksud mengalienasi buku-buku dari konteks sejarah, melainkan mengkritiknya sebagai postulat kebenaran dan kekuatan validasi dalam menilai kepintaran seorang murid.
Sifat Buku Mengandung Bias Personal
Kita mungkin sudah sering mendapat pertanyaan oleh seorang guru “Dapat pengetahuan dari buku mana?” untuk mengafirmasi pola pikir. Akan tetapi, hal yang sulit dilakukan adalah memedulikan hal yang mungkin tabu menjadi pertanyaan seperti: bagaimana buku-buku bisa mengetahui fakta-fakta, siapakah pemilik fakta yang merumuskan buku-buku itu menjadi ada, dan mengapa itu bisa terjadi? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu menjadi jenaka di mata orang yang sudah menuhankan buku-buku. Akan tetapi, patut dicanangkan bahwa buku-buku juga memiliki kelemahan—atau bahkan tidak sama sekali—dalam menyampaikan absolut kebenarannya. Singkatnya bisa dikatakan buku-buku mengandung bias personal.
Dalam hal ini saya menukil pemikiran Thomas Kuhn yang diperkenalkan dengan istilah “paradigma” (Kuhn, 2012). Kuhn memiliki landasan bahwa ilmu pengetahuan itu sangat ditentukan oleh paradigma yang berlangsung pada masa itu. Artinya setiap perkembangan zaman, ilmu pengetahuan ini akan menemukan model paradigma yang baru dan tidak bisa dikotakkan oleh hal yang sudah jadi produk paradigma di masa lalu. Lebih jelas lagi, Thomas Kuhn memiliki kearifan dalam epistemologinya bahwa kebenaran ilmiah tumbuh berdasarkan revolusi ilmiah. Gagasan tentang revolusi ilmiah ini ialah ketika sebuah aktivitas ilmiah sudah selesai dalam mengembangkan atau memerinci sebuah ilmu pengetahuan. Hal ini ditandai ketika muncul fenomena yang tidak dapat diterangkan melalui teori yang dikembangkan oleh aktivitas ilmiah itu tadi, atau oleh Kuhn disebut sebagai “fase anomaly”. Ketika muncul krisis tersebut, Kuhn mengungkap perlunya sebuah paradigma baru yang menjadi penanda revolusi dalam kebuntuan paradigma lama.
Membaca pemikiran Kuhn tadi, saya berpendapat bahwa buku-buku berfungsi untuk menajamkan pola pikir dengan cara belajar atau membaca pandangan seseorang, begitupun dengan buku-buku sekolah. Oleh karena itu perlu dipahami bahwa apa yang disampaikan sebagai informasi yang terkandung di buku-buku tidak seketika menjadi kebenaran absolut. Dengan asumsi bahwa buku-buku merupakan produk hasil kristalisasi dari suatu paradigma sang penulis.
Dalam hal ini saya mengecualikan buku pengetahuan matematis yang memang tidak bisa diukur dengan subjektivitas. Lebih jelas, saya menyinggung buku-buku non-matematis seperti sains, sosial historis, etika filosofis, dan seni. Cabang kajian ini sudah jelas merupakan produk manusia yang mengandalkan interpretasi tokoh orang yang menulis, atau bias personal. Sains pun tak terkecuali, karena sebenarnya pengetahuan sains masih bersifat tentatif.
Kemudian Neil Postman juga pernah berpendapat mengenai hal ini dalam bukunya The End of Education bahwa “Tidak ada pengakuan terhadap kelemahan dan ambiguitas penilaian manusia. Seakan-akan semua isinya tidak akan mengarah kepada kemungkinan-kemungkinan kesalahan. Ilmu pengetahuan digambarkan sebagai sebuah komoditi yang bisa diperoleh, tidak pernah dilukiskan sebagai perjuangan umat manusia untuk memahami, mengatasi kesalahan, dan menggapai kebenaran.”
Buku Sekolah Bukan Kitab Suci, Adanya juga Bias Personal!
Coba kita membayangkan di mana sekolah-sekolah memiliki cerita epistemologi, tetapi di dalamnya sama sekali tidak bertujuan menghasilkan armada-armada kecil yang fanatik, melainkan menghasilkan orang-orang yang belajar dengan penuh kesadaran tentang kemungkinan tindak kekeliruan yang mereka miliki, juga pada orang lain. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi, selagi guru-guru menghilangkan kredo aksiomatis dari sebuah buku tunggal pada setiap mata pelajaran non-matematis yang diajarkan kepada murid-muridnya di sekolah.
Pada bagian awal saya sudah menerangkan tentang buku-buku yang memiliki kelemahan dalam menyampaikan absolut kebenarannya. Kemudian hal ini akan saya kontekstualisasikan dengan kehidupan sekolah yang membentuk standarisasi sempit sebuah kepintaran seorang murid melalui sejauh mana mereka membaca buku-buku sekolah.
Guru selalu mengandalkan buku-buku untuk membendung kesulitannya dalam mengajar. Demikian bukan berarti guru-guru harus selalu menisbatkan kebenaran mutlak kepada buku untuk menilai kesalahan-kesalahan muridnya. Hal ihwal yang bisa saya jadikan contoh adalah ketika pelajaran sejarah (atau mungkin PPKN) tentang peristiwa G30S. Dalam rujukan buku sekolah terbitan Balai Pustaka berjudul Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia, termaktub bahwa Gerakan 30 September merupakan upaya kudeta PKI (Partai Komunis Indonesia). Sedangkan apabila menilik melalui karya John Rossa berjudul “Dalih Pembunuhan Massal” termaktub bahwa kronik kejadian G30S sangatlah kompleks. Ada faktor ketegangan militer Angkatan Darat dan peran aktor-aktor lain yang masih belum jelas. Nah, dalam situasi seperti ini kebenaran akan dipertanyakan ulang. Pada paradigma pengajar yang baik, tentunya hal ini tidak boleh impulsif dengan hanya menggunakan sumber rujukan sekolah untuk menyatakan kebenarannya.
Proses belajar harus menghargai dialog kritis. Hal inilah yang membentuk dinamika baik di sekolah-sekolah. Setiap murid ditanamkan keyakinan bahwa mereka tidak terpatok pada buku yang diajarkan di sekolah. Yang perlu diketahui, mereka tidak harus memusuhi buku-buku sekolah. Akan tetapi, boleh saja membaca buku-buku lain yang tidak diajarkan di sekolah dengan asumsi bahwa sifat pengetahuan itu tidak boleh diklaim kebenarannya hanya melalui sisi tertentu.
Dengan apa yang sudah saya gagas tadi, setidak-tidaknya saya menghindar dari upaya mendiskreditkan buku-buku yang telah hidup di sekolah. Guru-guru mesti tahu tentang adanya entitas sumber pengetahuan yang hidup di luar buku-buku sekolah. Untuk itu, sebenarnya justifikasi mengenai pengecapan murid bodoh dan pintar itu tidak dapat diselesaikan melalui parameter perbukuan. Murid-murid bebas mengkritik pengetahuan yang disediakan buku-buku sekolah dengan abstraksi pemikiran tokoh-tokoh yang tidak diajarkan atau dikenalkan di sekolah. Dengan membebaskan kecenderungan untuk tidak gampang mempercayai sesuatu yang merupakan produk manusia (buku), maka apa yang terjadi di sekolah adalah memaknai proses belajar, bukan melanjut-lanjutkan proses mencari murid yang pintar dan bodoh.
Bagaimana Apabila Sekolah Tidak Bertujuan Menjadikan Murid Cerdas?
Kritik yang telah saya sampaikan di muka adalah upaya mereduksi cara pandang yang kaku terhadap praktik sekolah yang sering membentuk penilaian “kecerdasan” seorang murid. Saya akan menggunakan dalil Neil Postman yang bisa dicetuskan sebagai antitesa terhadap paradigma mengajar ini. Neil Postman tidak mengabaikan bagaimana praktik mengajar bisa menimbulkan kesalahan. Seperti apa yang dituliskan dalam bukunya The End of Education mengenai pandangan Jacob Bronowski yang mengatakan bahwa, “meskipun barangkali ada ilmu pengetahuan yang bisa dipastikan kebenarannya, ilmu pengetahuan itu sendiri akan selalu membatasi dirinya dengan sebuah toleransi, yaitu dia memiliki keterbatasan pemaknaan tak lebih dari beberapa aspek yang terbatas.”
Kemudian hal ini dilanjutkan oleh gagasan Neil Postman yang mereduksi bahwa guru adalah orang-orang yang berharap mampu meningkatkan kecerdasan para muridnya dengan mengungkapkan apa yang mereka anggap benar. Hal ini membuat Neil Postman menggugah suatu antitesa yang mengatakan bahwa guru lebih baiknya bukanlah orang yang akan membuat murid-murid cerdas. Melainkan guru adalah orang yang menjadikan murid tidak terlalu bodoh. Menurut hemat saya, “Terlalu bodoh” ini maksudnya adalah murid-murid yang tidak mau berpikir, entah dengan alasan takut salah ataupun takut-takut yang lain. Tentunya ini merupakan dalil pertentangan karena halnya seperti yang diketahui umum, sekolah adalah tempat untuk membuat murid-murid cerdas.
Demikian cara berpikir Neil Postman ini adalah sebuah sudut pandang yang dipraktikkan oleh pekerjaan seorang dokter dan pengacara. Dalam pekerjaan, dokter dan wawancara dituntut untuk mengidentifikasi sebuah kekeliruan untuk menyatakan keberhasilan pekerjaan mereka. Pada dokter, kesehatan yang baik didefinisikan oleh ketiadaan rasa sakit. Kemudian, bagi pengacara keberhasilan mereka adalah ketika munculnya suatu keadilan. Demikian adalah landasan kontekstual mengenai paradigma mengajar, dimana guru adalah seorang pendeteksi kesalahan-kesalahan. Dengan paradigma semacam itu, murid-murid akan membuka kesalahan-kesalahan atau lebih tepatnya berlapang dalam belajar dari mana pun yang memungkinkan untuk menumbuhkan kesalahan. Alhasil, murid-murid akan terbebas dari belenggu dogmatis sebuah buku yang hanya diajarkan di sekolah. Mereka akan leluasa untuk berpikir kritis dan membuka dialog pertentangan di ruang kelas. Jadi, persoalan di kelas bukan lagi tentang mana murid yang bodoh, melainkan mana murid yang tidak mau berpikir.
Penulis: Fudhail Najmuddin Almuzaki
DAFTAR PUSTAKA
Postman, N. (2024). The End of Education: Redefinisi Nilai-Nilai Sekolah. Octopus.
Kuhn, T. S. (2012). The structure of scientific revolutions: Peran paradigma dalam revolusi sains. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2008). Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik. Jakarta: Balai Pustaka.
Roosa, J. (2008). Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra.
