The Monk by The Sea, lukisan oleh David Friedrich (1810)

Aku tak ingat kapan terakhir kali aku tertidur pulas. Malam tadi rasanya nyaman sekali, perutku tak lagi sakit seperti sehabis makan paku, tangan dan kakiku tak lagi sedingin kutub, serta mata dan leherku tak sepanas sahara. Tidurku nyenyak.

***

Keningku tiba-tiba hangat, seolah merasakan ada semburat cahaya yang terang jatuh di atasnya. Telingaku juga, agak tergelitik dengan angin kecil-kecil yang berbisik di dekatnya. Punggungku sakit, alas tidurku seperti berubah menjadi batu. Sungguh sesuatu yang mengganggu. Rasanya aku mau bangkit dan mencari tempat lain untuk berbaring, tapi rasa kantuk ku masih menghalangi itu untuk terjadi.

“Bangunlah.”

Aku terbangun, terkejut bukan main, mendengar suara yang jauh tapi sangat jelas. Tapi alangkah lebih terkejut lagi aku melihat tempat yang sangat berbeda dari terakhir kali aku tertidur. 

Di mana ini? Aku tiba-tiba ada di ujung sebuah tebing yang ujungnya bahkan tidak terlihat. Tak ada yang bisa kulihat selain batu, tebing, dan jembatan. Sepertinya memang aku butuh untuk menyeberang, setidaknya mungkin ada tempat yang lebih nyaman untuk ditiduri selain batu-batu di ujung tebing ini. 

Akhirnya aku memutuskan untuk menyebrang dan melihat ada apa di balik jembatan ini. Tak sampai lima menit aku berjalan, akhirnya aku melihat ujung dari jembatan ini yang sedari tadi tidak terlihat karena tertutup awan-awan atau kabut-kabut apalah ini aku tidak mengerti. Aku melihat sebuah pintu besar berwarna perak berbentuk setengah lingkaran. Pintu itu menutupi jalanku untuk ke seberang jembatan ini, sungguh memang sebuah kesialan rasanya selalu menimpaku. Padahal satu-satunya yang kuinginkan hanya menyudahi kelelahan ini dan kembali tidur dengan tenang.

“Selamat datang kawanku!” Sebuah suara kembali memanggil, suara yang sama yang membangunkanku di tepi tebing tadi. Aku masih keheranan soal di mana aku dan tempat apa ini. Aku merasa hanya suara itu yang dapat membantuku untuk mencari jawaban. Aku memutuskan untuk bertanya kepada suara itu.

“Siapa pun kamu, tunjukkan dirimu dan jika kamu tahu banyak soal tempat ini, terangkanlah walau sedikit saja!” Aku mencoba menjawab suara itu dengan agak berteriak, karena aku tidak tahu dari mana suara itu berasal.

“Sungguh rasa-rasanya kau tidak tahu apa-apa selain mencari tempat untuk tidur. Selamat datang di Jembatan. Tempat di mana kejujuran ditegakkan dan kebohongan dimusnahkan. Tempat di mana kebenaran diperlihatkan dan kepalsuan dientaskan,” kata suara itu jelas. Sungguh masih banyak sekali pertanyaan di kepalaku yang rasanya jika aku tanyakan semua baru akan selesai dijawab esok hari.

“Mungkin kau masih bingung setengah mati tentang apa yang terjadi. Aku akan jelaskan secara singkat kawan. Sebelumnya, izinkan aku memperkenalkan diri, aku adalah Sang Hakim, tugasku adalah mengantarkan semua orang dari Jembatan menuju Pintu. Pintu di sana terbuka setelah tugasku selesai, yakni berbincang denganmu sampai tidak ada lagi yang harus diperbincangkan. Pintu itu akan terbuka setelahnya dan memperlihatkanmu apa yang kau dapat, kalau tidak kenikmatan tiada banding, ya kesengsaraan tiada akhir,” jelas Sang Hakim.

Aku masih kebingungan bukan main tentang posisiku yang tiba-tiba di sini. Jelas ini seperti hari pembangkitan dan penghakiman seperti yang dijelaskan di kitab suci mana pun. Sehingga terlintas dalam benak ku untuk bertanya.

“Wahai Sang Hakim, sebelum melanjutkan acara ini seperti yang dikatakan Sang Hakim, izinkan aku bertanya beberapa hal terlebih dahulu.”

“Silakan.”

“Apakah aku sudah mati?”

“Iya,” jawabnya singkat. 

Entah mengapa aku sedikit lega, walaupun selama ini aku tidak ingin mati, tapi tubuhku terasa lebih ringan daripada sewaktu aku hidup. Jika memang demikian, aku tidak menyesal untuk mati secara tiba-tiba.

“Apakah ini hari penghakiman? Yang mana dosa dan pahala dihitung untuk melihat apakah orang akan mendapatkan kenikmatan atau pun kesengsaraan yang seperti Sang Hakim bilang?”

“Benar.”

“Seperti yang Sang Hakim singgung di awal perihal kejujuran yang ditegakkan dan kebohongan dimusnahkan, apakah aku tidak diperkenankan untuk berbohong di Jembatan ini?”

“Tidak bisa.”

“Kenikmatan dan kesengsaraan apa yang aku dapatkan setelah acara ini berakhir wahai Sang Hakim?”

“Kenikmatan apa pun yang kau mau, dan kesengsaraan yang aku mau.”

Setelah selesai akhirnya aku mendapatkan semua informasi yang aku mau. Ternyata memang benar ini adalah hari yang sungguh kutakutkan akan terjadi selama diriku masih hidup atas semua yang pernah kuperbuat. Namun, entah kenapa aku sudah pasrah sekarang, aku tidak merasa takut akan kesengsaraan karena hidupku rasanya sudah sengsara, dan kenikmatan tidak lagi menggelitik keinginanku selain tidur lebih nyenyak seperti terakhir kali aku tertidur.

“Hoaamm.” Masih saja aku diserang oleh kantuk yang hebat sehingga aku tak sadar menguap khidmat. 

“Apakah semua rangkaian pertanyaan yang kau lontarkan sudah selesai kawan?” Sang Hakim tiba-tiba berbicara memecah kebisuan.

“Sudah, tapi sebelum kita melanjutkan acara ini. Bolehkan aku untuk tidur untuk sebentar? Rasa kantuk ini sungguh tak tertahankan. Sang Hakim bisa membangunkanku kapan pun, namun tolong beri aku waktu setidaknya beberapa jam lagi.”

“Baiklah, selamat tidur kawan.”

ACARA PERTAMA

“Bangun kawan, ini sudah saatnya kita melangsungkan acara seperti sebutanmu tadi.”

“Baiklah Sang Hakim, terima kasih atas waktunya.”

“Perkenalkan dirimu dan hidupmu secara singkat kawan.”

“Namaku Paradisa, Sang Hakim bisa memanggilku dengan Disa. Kehidupanku tak lebih baik dari bebatuan di ujung Jembatan ini rasanya. Aku hidup di keluarga yang serba pas-pasan. Masih bisa hidup barang untuk esok hari tapi masih harus bekerja untuk lusa. Seusai sekolah aku langsung mencari kerja ke mana pun yang bisa menerimaku, karena aku malu untuk hanya tinggal di rumah di tengah kesusahan orangtuaku. Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan setelah bersusah payah mencari ke sana-ke sini selama hampir satu tahun. Namun sayang, aku mendapatkan pekerjaan yang jauh dari rumah. Sebuah perusahaan roti, aku bekerja di sana selama kurang lebih enam tahun yang penuh sengsara hingga akhirnya aku tiba-tiba sampai di sini.”

“Bagaimana masa kecilmu Disa? Tentu aku ingin mendengar lebih.”

“Masa kecilku tak lebih baik lagi Sang Hakim, aku dibesarkan di sebuah rumah kecil yang hanya muat untuk kami. Aku, ayah, dan ibu tidur dalam satu kamar yang sama, yang juga dapat beralih fungsi menjadi dapur dan tempat makan. Kami tidak memiliki kamar mandi, jadi kami harus mandi di kamar mandi umum di dekat tempat pengisian bahan bakar tak jauh dari rumah kami. Masa kecilku dihiasi bekerja membantu ayah dan ibu mengemas makanan di katering yang jumlahnya bisa ribuan kotak makan selama satu hari. Setidaknya aku bisa meringankan mereka, kalau beruntung jika Ibu pemilik katering datang, aku bisa mendapatkan uang jajan untuk membeli sekadar jajanan warung yang sudah membuat aku gembira setengah mati. Masa sekolahku juga agak sulit, karena aku sibuk membantu ayah dan ibu bekerja, tak jarang aku tidak bisa bersekolah sebagaimana mestinya. Aku tertinggal banyak tugas sekolah hingga akhirnya banyak sekali kesempatan aku dinyatakan untuk tidak naik kelas. Setiap kali itu terjadi, ayah dan ibu selalu dipanggil ke sekolah, dan saat itu juga ayah dan ibu ku menangis untuk memberikan kesempatan kepada ku untuk bisa naik kelas karena mereka yang meminta aku untuk membantunya, jadi mereka bilang itu bukan sepenuhnya kesalahanku. Akhirnya aku selalu naik kelas sampai aku lulus sekolah menengah atas dengan cara yang sama sedari aku lulus sekolah dasar. Aku juga tidak pandai berteman, kata ayah dan ibu punya teman artinya membuang waktu dan menghambur-hamburkan uang. Mereka bilang tugasku adalah membantu orang tua selama mereka hidup, karena berbaktinya anak adalah segala surga bagi orang tuanya di dunia dan akhirat. Sampai tidurku terakhir, aku hanya suka menyendiri dan memiliki sedikit teman untuk diajak bicara banyak.”

“Ceritakan juga bagaimana kau mendapatkan pekerjaan, Disa.”

“Aku mendapatkan pekerjaan melalui rekomendasi dari Ibu pemilik katering di mana ayah ibu bekerja. kamu masih muda, coba bekerja di sana. Bekerja lah mencari pengalaman, jangan mencari uang. Kamu akan mendapatkan uang ketika pengalamanmu cukup, itulah yang mereka katakan, dan kuingat selama bekerja. Dan seperti perkataan Ibu katering, aku dengan mudah mendapatkan pekerjaan di sana. Tanpa tes masuk berbelit serta syarat dan ketentuan yang sangat banyak seperti pada banyak pekerjaan yang aku lamar selama setahun sebelumnya. Aku diterima terlebih dahulu baru kemudian diwawancarai oleh pemilik perusahaan. Pak Burjo namanya, pria yang setidaknya berusia lebih dari 50 tahun dengan pakaian yang selalu rapi tapi tidak serapi badannya yang agak gempal. Ada beberapa syarat yang harus aku lakukan sebelum resmi bekerja, tapi tidak serumit syarat pekerjaan yang lain. Aku hanya perlu memberikan ijazah sekolahku dan menandatangani peraturan perusahaan yang tidak harus aku baca, katanya itu hanya sebagian formalitas untuk mendaftarkanku sebagai pegawai resmi ke pemerintahan yang tentunya aku tidak mengerti hal tersebut. Tentu itu tidak masalah bagiku dan aku memulai pekerjaan keesokan harinya setelah semua persyaratan terpenuhi.”

“Apakah kehidupanmu setelah mendapatkan pekerjaan menjadi lebih baik daripada masa kecilmu?”

“Yang kuharapkan memang begitu, akan tetapi aku merasa aku hanya berpindah dari kesukaran hidup menuju kesengsaraan hidup yang lebih menyerang fisik dan batin. Aku pergi bekerja ketika matahari belum muncul dan pulang kerja ketika matahari sudah tiada. Sungguh pekerjaan yang lama dan melelahkan sekali. Pekerjaanku adalah memanggang adonan roti menjadi roti yang siap dikemas. Satu hari bisa ada ratusan loyang yang aku angkut ke sekitar lima belas pemanggang yang besarnya lebih dari mobil milik Ibu katering. Ruangan yang sempit dan tidak ada jendela membuat ruangan menjadi panas dan sesak karena api pemanggang yang tidak boleh dimatikan barang sedetik selama sehari penuh. Istirahat yang kudapatkan hanya ketika pasokan adonan sudah terpanggang semua sehingga menunggu untuk pasokan adonan kedua yang akan diantarkan ke ruanganku ketika sudah dibuat. Tetapi kadang di beberapa kesempatan yang tidak menguntungkanku, adonan terus berdatangan sampai jam terakhir aku bekerja membuatku kadang tidak makan selama sehari penuh selain pada subuh hari sebelum aku bekerja, karena pada saat pulang aku tidak punya tenaga selain untuk berjalan menuju kamar untuk tidur pulas.”

“Berikan aku lebih banyak cerita mengenai Pak Burjo yang kau ceritakan.”

“Ya, dia adalah pemilik perusahaan roti tempat aku bekerja seperti yang aku ceritakan di awal. Pak Burjo bukan seorang yang bisa dijelaskan dengan cara yang sederhana. Sepertinya walaupun aku bekerja hampir selama enam tahun di perusahaanya, aku masih belum bisa menilai orang seperti apa dia. Pak Burjo adalah pemilik perusahaan yang sangat kejam sekaligus baik hati di saat yang bersamaan. Dia sangat kejam sekali dalam hal pekerjaan, ketika suatu waktu aku pernah membuat kesalahan membuat gosong satu pemanggang karena lupa untuk mengangkatnya lebih awal, dia memarahiku begitu keras sampai lorong menuju ruanganku penuh dengan teriakannya. Setelahnya tak lebih baik, dia memotong gajiku separuhnya, sampai aku bingung untuk makan apa selama sebulan ke depan. Karena gaji ku hanya separuh dari gaji standar yang ditetapkan pemerintah, kata Pak Burjo itu adalah bagian dari mencari pengalaman dan gaji ku akan dinaikan setelah lima tahun bekerja. Yang tentunya itu tidak terjadi sampai tahun keenam aku bekerja, pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang ikhlas. Itu yang dia ucapkan, dan tentunya aku percaya. Pak Burjo pun selain pemilik perusahaan roti, dia juga merupakan seorang alim agama yang banyak melakukan kebaikan berpahala. Di banyak kesempatan, dia sering menyumbangkan rotinya untuk panti asuhan mau pun acara-acara keagamaan. Kebaikannya tak hanya berhenti di situ, dia juga menyarankanku untuk tinggal di kos-kosan di dekat perusahaan agar aku tidak terlalu lelah untuk pulang pergi dari rumah ke perusahaan yang jaraknya agak jauh itu. Tapi tentu itu tidak gratis, katanya aku bisa membayarnya selama setahun menggunakan uang tunjangan hari raya. Itu cukup membantuku, walaupun kamar kost kondisinya tak lebih baik dari rumahku … Hoaamm….,” tiba-tiba saja kantukku menyerang untuk kedua kalinya.

“Apa kau mengantuk Disa?” Sang Hakim bertanya, aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. 

“Tidurlah kembali Disa, akan aku bangunkan kembali jika sudah waktunya.”

ACARA KEDUA

“Bangunlah kembali Disa, sudah saatnya kita melanjutkan perbincangan kita kembali.” Suara Sang Hakim kembali terdengar dan membangunkanku sekali lagi

“Baiklah, terima kasih atas waktu Sang Hakim berikan,” jawabku.

“Tak usah sungkan, mari kita lanjutkan. Sekarang aku ingin membicarakan tentang pahala dan dosa yang pernah kau buat,” terang Sang Hakim.

“Dosa apa saja yang pernah kau ingat kau lakukan selama hidupmu Disa?”

“Oh, mungkin ini akan mengantarkanku ke kesengsaraan abadi. Sungguh banyak sekali yang bisa membuatku terjerumus ke sana. Aku sering sekali mencuri, sekali waktu saat gajiku terpotong setengahnya. Aku mencuri satu roti yang masih panas baru keluar dari pemanggang untuk kumakan, selama satu bulan terus kulakukan untuk keluar dari kelaparan. Sesekali waktu yang tak beruntung aku tak bisa mencuri sama sekali karena ruangan aku bekerja dikunjungi pekerja lain dari bagian pengecekan kelayakan pangan yang bisa setengah hari di sana untuk inspeksi harian. Dan di tengah kebingungan untuk mencari makanan itu, aku juga tak jarang untuk mengambil makanan di toko kue kering yang makanannya dijajakan  di pinggir jalan ketika sang pemilik tidak menjaga tokonya dengan baik. Tak jarang pula aku tak mendapatkan apa pun ke rumah, dan harus menahan lapar sampai besok dan berharap bisa mencuri satu dua lagi roti di pabrik. Selain mencuri aku juga suka berbohong, ini datang bersamaan dengan dosa mencuri itu, aku berbohong mengenai pelaporan berapa roti yang sudah terpanggang. Tentunya hal tersebut dilakukan agar aku tidak ketahuan mencuri roti, tentunya juga bisa membuatku dipecat seketika. Dan sungguh, tanpa pekerjaan adalah neraka, aku lebih baik berdosa dan setidaknya untuk hidup lebih lama lagi.”

“Apa ada dosa lagi yang pernah kau lakukan?”

“Selain mencuri dan berbohong, aku juga durhaka kepada orang tuaku. Aku harap mereka dapat mengampuniku dan memaafkanku ketika kita bisa bertemu lagi lain waktu. Ibu sering sekali menginginkan aku untuk pulang sekali waktu untuk menjenguk ayah. Dua tahun setelah aku bekerja, ayah mulai sakit-sakitan. Aku sebenarnya sudah tahu ayah punya penyakit yang serius semenjak aku kecil, sejak saat itu aku dan ibu diminta untuk membantu, karena kesehatan ayah semakin lama semakin memprihatinkan. Tapi aku tidak bisa pulang karena beberapa alasan. Aku cuma diberi libur sehari di pekerjaanku—di rumah aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, menjemur, dan menyetrika, serta membersihkan kamar. Tentu libur sehari itu bagaikan kerja di beda tempat. Dengan demikian, semenjak aku bekerja aku tidak pernah sama sekali pulang ke rumah,” aku menghela nafas sejenak, sungguh bicara sebanyak ini cukup melelahkan.

“Aku tak pernah tahu bagaimana perkembangan kesehatan ayah maupun kondisi ibu selama ini. Ayah dan ibu juga berpesan untuk menyisihkan gajiku barang sedikit untuk kebutuhan keluarga, karena tentunya itu yang diharapkan orang tua ketika anaknya sudah memiliki pekerjaan. Akan tetapi, aku tidak pernah mengirimnya sepeserpun, bukan karena aku tidak punya uang, tapi sekali waktu aku ingin membeli sesuatu dengan uangku sendiri, yang tentunya tidak akan bisa kulakukan jika aku menyisihkan gajiku sedikit saja untuk orang tuaku. Gajiku yang tersisa selama satu bulan biasanya aku belikan makanan enak yang seperti orang-orang pernah makan dalam cerita-cerita mereka, atau kubelikan sepasang sepatu baru menggantikan sepatu sekolahku yang sudah kecil dan rusak. Sampai akhirnya aku menyesali semuanya di hari-hari terakhirku.”  Lanjutku. 

“Dan yang terakhir? Aku tahu kau masih menyimpan satu lagi cerita yang seharusnya kau ceritakan.”

“Ini mungkin jadi dosa besar yang menjadi alasan kesengsaraanku tidak akan berakhir sampai ke akhirat. Aku membunuh Pak Burjo sehari sebelum aku mati.” Aku berhenti sejenak, sedikit bingung memulai dari mana dosaku yang ini.

“Lanjutkan, Disa.” Sang Hakim berkata. 

“Bulan terakhirku di perusahanan roti milik Pak Burjo, aku kembali mendapatkan hukuman akibat Pak Burjo melihat aku sedang melahap roti yang baru keluar dari pemanggang. Aku dibawa ke ruangannya sambil dimaki-maki setengah mati, dia berteriak begitu kencang sampai arwahnya seperti mau tercabut di tenggorokan. Dia menghinaku sebagai anak tak tahu diri, tak tahu diuntung, dan segala umpatan yang bisa ia lontarkan. Aku paham itu adalah sebuah kesalahan yang memang tak dapat dibenarkan, akan tetapi yang tak bisa aku terima adalah bagaimana setelahnya ia menolak untuk membayarku untuk bulan itu dan aku dipecat. Hari itu juga aku disuruh pulang ke rumah dan mengemas semua barang yang ada di kos miliknya. Tak ada yang bisa kulakukan lagi, selain pulang dengan perasaan begitu hancur dan badan yang lemas. Sampai akhirnya aku pulang ke rumah berjalan kaki selama kurang lebih tiga jam, sebenarnya aku bisa saja menggunakan bus kota seperti yang biasa aku lakukan sebelum aku tinggal di kost Pak Burjo, tapi kali ini aku pulang dengan tangan hampa. Sesampai di rumah betapa kagetnya aku melihat rumahku tidak lagi ditinggali oleh kedua orang tuaku. Mereka yang tinggal di sana bilang rumah ini sudah di jual dan pemiliknya pindah entah ke mana sejak setahun yang lalu. Aku tak mampu lagi berpikir kala itu, yang ku tahu hanya hidupku mengalami sebuah kesengsaraan dan kesialan yang sangat hebat sehingga aku berharap aku mati saja saat itu juga.”  

“Malam harinya aku mencoba untuk kembali ke pabrik,ijazahku masih ada di tangan perusahaan. Aku membutuhkan itu untuk mendapatkan pekerjaan segera. Setibanya di sana, pabrik ternyata sudah tutup, aku memutuskan hal yang paling bodoh yang pernah dilakukan orang kelaparan tak berakal. Aku menerobos masuk pabrik yang aku tahu di mana tempat yang paling mudah untuk disusupi. Setelahnya aku masuk ke dalam untuk mencari ijazahku di ruangan Pak Burjo yang tidak pernah ia kunci itu. Aku melihat lacinya penuh dengan uang dan tas yang berisi laptop dan barang berharga yang bisa kujual kemudian hari. Tanpa berpikir panjang aku kemudian mengambil uang di laci dan tas Pak Burjo, segera untuk mengakhiri penyusupan ku ke pabrik yang aku sudah kena lama ini. Setelah sampai di muka gerbang pabrik, ternyata gerbang telah terbuka dan beberapa lampu menyala. Aku panik bukan main, jadi aku mengambil sebuah batu barangkali ada seseorang yang melihat aku disini. Tak lama aku tercengang, ada yang memergokiku, dan orang itu adalah Pak Burjo. Aku takut bukan main, panik, takut ketahuan, dan atas semua itu akhirnya kuemparkan batu itu kepadanya dan persis mengenai mukanya. Dia tersungkur jatuh dan tidak bersuara. Aku datang untuk memeriksa apakah Pak Burjo sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Setelah aku menghampirinya, ternyata ia masih sadar, celakalah aku ketika dia melihat wajahku dengan jelas. Ia mengancam untuk melaporkanku ke polisi, tentu aku makin takut, dan kembali kubenturkan batu yang ku lempar tadi ke wajahnya. Berkali-kali sampai tak terbentuk.”

Aku berhenti sejenak, kemudian melanjutkannya, “Aku sudah sangat yakin bahwa dia sudah mati, pasti mati, karena tidak mungkin orang itu selamat dengan banyak sekali darah yang keluar dari wajahnya. Dan malam itu juga terakhir aku hidup, aku mengajaknya untuk ke alam lain. Aku keluar dengan tangan berlumuran darah dan dengan kondisi kelelahan yang amat sangat serta perut yang terasa perih. Akhirnya aku tertidur di depan gerbang pabrik, tanpa tahu bahwa itu adalah tidur terakhirku … Hoaamm….”

“Ada apa Disa?”

“Berbicara tentang tidur, aku jadi mengantuk kembali, berikan aku waktu lagi wahai Sang Hakim, akan ku lanjutkan lagi semuanya setelah ini.”

“Baik, tidurlah kembali Disa.”

ACARA KETIGA

“Ayo bangun lagi Disa, perbincangan kita hampir selesai,” Sang Hakim kembali membangunkanku, padahal aku merasa masih sangat mengantuk untuk saat ini. 

“Sekarang kita akan berbincang lebih banyak daripada kau menjawab pertanyaan. Apa yang kau inginkan jika kau mendapatkan kenikmatan?”

“Kenikmatan ya? Sekiranya memang aku ingin mendapatkan satu, itu pasti adalah menjadi seorang juragan kaya raya seperti Pak Burjo atau ibu pemilik katering. Seorang yang berwibawa sehingga dia bisa menjadi seorang pemimpin dalam usahanya, dan seorang yang cerdas sehingga dia memiliki kekayaan atas kerja keras yang sedemikian rupa. Tentunya bukan hanya itu, yang kukagumi juga adalah bagaimana mereka tak hanya berwibawa dan cerdas, tapi juga menjadi seorang yang alim dengan banyak beribadah dan bersedekah. Andai aku bisa mendapatkan itu semua selama aku hidup di dunia, maka rasanya aku mendapatkan dua surga selama hidup maupun mati.” 

Tiba-tiba suara Sang Hakim yang selalu muncul di telinga seakan hilang untuk beberapa saat. Bahkan suara yang mengiringinya seperti dentingan kecil yang membuat geli di telinga juga hilang. Tak lama aku kembali diserang kantuk yang begitu hebatnya. Aku masih saja keheranan bagaimana kantukku ini selalu muncul. Kenyataan bahwa aku sudah mati tapi masih merasakan kantuk ini sungguh diluar nalarku. Tak sampai aku mulai untuk menguap, suara denting tanda Sang Hakim eksis kembali terdengar.

“Mengapa kau menginginkan menjadi orang yang justru mendapatkan kesengsaraan di Pintu Disa?” Sang Hakim memulai lagi serangkaian pertanyaanya. Mendengar pertanyaan Sang Hakim aku terkejut sedikit. Aku keheranan mendengar segala inci perkataanya. Apa mungkin aku salah dengar?

“Apa maksudmu Sang Hakim, bagaimana mungkin orang yang begitu alim dan pintar bersedekah tidak mendapatkan kenikmatan setelah ia mati? Apa aku salah dengar?”

“Tidak, kau tidak salah dengar Disa. Memang benar mereka mendapatkan kesengsaraan dibalik pintu yang mereka buka sendiri. Pak Burjo yang kau kenal mendapatkan kesengsaraan berupa harus bekerja tanpa istirahat di sebuah gunung api yang mau meletus. Dia harus memadamkan danau api yang ada di puncak gunung dengan air liurnya. Kalau tidak ia tidak akan mendapatkan kenikmatan yang ia inginkan.”

“Aku tidak mengerti Sang Hakim, bagaimana penghitungan dosa dan pahala di Pintu ini? Bukankan orang yang mendapatkan banyak pahala akan mendapatkan kenikmatan? Dan begitupun sebaliknya?”

“Tentu itu benar Disa, Pak Burjo yang kau kenal bukanlah seorang alim. Kau keliru menilainya.”

“Bagaimana mungkin aku keliru Sang Hakim? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia banyak memberikan santunan pada orang yang membutuhkan, serta membantu menggelar acara-acara kerohanian yang tentunya tidak murah. Terus, banyak juga orang yang telah terbantu olehnya, salah satunya aku yang kesulitan mencari pekerjaan dan Pak Burjo lah yang memberikan aku kesempatan itu. Walau dirinya dan aku tidak memiliki hubungan yang terlalu baik dari awal maupun akhir hidupku, tapi aku tahu bagaimana Pak Burjo berusaha keras untuk kehidupannya yang selanjutnya.”

“Apa gunanya sebuah kebaikan kalau itu datang dari kemunafikan Disa? Barang tentu kau sadar bahwa kehidupanmu yang sengsara itu datangnya dari pekerjaan yang ia tawarkan padamu. Kesengsaraanmu itu bukanlah hal yang wajar Disa, kesengsaraanmu itu diciptakan.”

“Aku tak paham wahai Sang Hakim. Aku selalu mengamini kesengsaraanku di dunia karena aku bodoh. Aku bodoh karena aku tidak serius menekuni sekolah sewaktu muda. Aku tidak serius menekuni sekolah karena aku miskin. Tentu miskin bukan kesalahanku, tapi tentu kita tidak boleh menyalahi takdir bukan? Banyak orang yang miskin menjadi kaya, jadi tentu miskin bukan alasan sebenarnya untuk hidup di bawah kesengsaraan, setidaknya itu yang banyak orang bicarakan kepadaku.”

“Sungguh memang kau sangat polos Disa. Tentunya kesengsaraan bukan berakar dari dirimu, ataupun kedua orang tua mu. Mereka bilang begitu hanya karena mereka ingin kau menyalahkan diri sendiri daripada sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Akan ku jelaskan secara singkat Disa. Sesungguhnya kesengsaraan mu Itu datang dari orang-orang yang biadab, orang-orang yang melihat manusia hanya seonggok sapi perah, yang bisa diperas habis hasrat kehidupannya oleh kesibukan-kesibukan mencari uang untuk makan, yang ironisnya terjadi di sebuah usaha makanan. Tidakkah kau bingung, seberapa pun kau dan kedua orang tuamu bekerja keras, tapi tidak pernah mengalami setidaknya kenikmatan atas hasil keringatmu itu? Tentunya kau suka mencuri dan pernah membunuh Disa , tapi kau tidak peka terhadap pencurian ataupun pembunuhan, karena pada dasarnya, kau juga sudah dicuri dan dibunuh!” 

Mendengar ungkapan Sang Hakim seketika aku merasa ngeri, bulu kudukku terangkat dengan sendirinya, jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku tidak lagi mengantuk. 

Tiba-tiba saja Sang Hakim memulai kembali percakapan. Begini katanya.

“Dengan usahamu bekerja sedari kecil, kau seharusnya bisa lebih kaya dari beberapa temanmu yang baru bekerja di usia dewasa. Tapi kenyataanya sebaliknya, karena pada dasarnya, uang atas hak usahamu itu telah dicuri oleh mereka, oleh ibu pemilik katering dan bapak pemilik perusahaan roti, Pak Burjo dan Ibu Isa, mereka sama-sama harus binasa. Apa kau tidak pernah heran melihat bagaimana kehidupan mereka yang kaya dan bisa melakukan apapun walau hanya dengan sedikit usaha? Tentunya dengan cara mengambil usaha orang lain, dan menilainya rendah sehingga semua keuntungan bisa diserapnya sendiri. Penilaian rendah itu adalah pencurian Disa, pencurian! Sesungguhnya jika semua orang itu dinilai dengan begitu baik, tidak akan ada orang yang berkelimpahan makanan sehingga dia menjualnya untuk mendapatkan uang dan di lain sisi ada orang yang kekurangan uang sehingga harus menjual dirinya untuk mendapatkan makanan.”

“Tapi tetap saja, apa yang dia lakukan tentunya mendapatkan pahala bukan? Begitu besar jasanya terhadap banyak orang lain walaupun dia juga mendatangkan kesengsaraan bagi yang lain lagi. Bagaimana penghitungan dosa dan pahalanya? Tentu harus adil bukan?”

“Jika dosa dan pahala dihitung bagaikan angka, maka orang yang tidak memiliki uang tidak akan pernah menang dalam lomba menuju akhirat Disa. Jika memang demikian adanya maka Pintu hanya akan diisi orang munafik yang mendambakan kenikmatan dengan memberikan hak kepada orang lain dengan cara menggilas yang lain lagi.”

Mendengarkan penjelasan yang begitu bertubi-tubi, aku merasa terguncang hebat. Jantungku tetap berguncang keras. Serasa mendapat sebuah ilham yang begitu suci dari Yang Maha Adil. Kupingku berdengung keras, kepalaku pusing hebat seperti ada batu besar yang menariknya ke depan dan belakang beriringan, mataku buram, seluruh tubuhku lemas. Aku tidak kuat lagi, seperti aku akan mati untuk kedua kalinya.

****

Aku terbangun. Tiba-tiba aku sudah berada di ambang Pintu. Sungguh Pintu yang sangat besar, mungkin ukuranya tiga kali tinggi monas dan empat kali lebarnya gedung DPR RI. Barangkali aku pingsan di Jembatan terakhir kali berbincang dengan Sang Hakim. Namun sekarang aku tidak merasakan Sang Hakim eksis di sekitarku. Mungkin tugasnya selesai. 

Pintu tiba-tiba saja terbuka. Bukan main kagetnya, Pintu yang besar itu terbuka dengan cepat tanpa bersuara sama sekali. Aku sudah tidak berekspektasi lagi tentang apa yang aku dapatkan di Pintu, jika itu kesengsaraan maka ya sudah saja, toh hidupku memang sudah sengsara karena si brengsek itu. Sekilat cahaya muncul dari balik Pintu yang besar. Memperlihatkan sebuah dipan yang berisi kasur yang terlihat sangat empuk, ditemani bantal-bantal besar yang tak kalah kelihatan nyamanya. “Hoaammm…” tiba tiba saja aku mengantuk. Mungkin ini yang pantas kudapatkan, yang kuinginkan, dan kubutuhkan. 

Aku ingin tertidur pulas sekali lagi sampai bermimpi indah. Mungkin memimpikan dunia di mana semua orang sepertiku sadar bahwa mereka sudah dicuri dan mau dibunuh. Sehingga mereka setidaknya bisa berjuang untuk diri mereka sendiri barang sedikit.

Penulis: Ekas Abdul Baits

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.